Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2015

Titik Tanpa Koma



Lewat sajak-sajak senja yang memanggilku
mesra menyentuh relung jiwa yang telah terdiam begitu lama
Aku berdiri disini, menikmatinya
tanpa interupsi biarkan senja melakukan semaunya sendiri

Sehitung waktu dalam keheningan aku sempat menggila
Ragu tanpa aba-aba
menghilang segala sesuatunya tanpa diminta
Tapi apa yang kunamakan cinta telah terlanjur memakan diriku
akalku
harapan-harapanku
Hingga sekuat apapun aku mencoba melupakan langit
Percuma tak akan mau membantu

Rapuh,
Kalut,
Ratap.
Lantas apa lagi yang bisa diperbuat
Jika Tuhan berikan jalan tak dinyana apapun pula harus diterima
Ikhlas
Bukankah sesudah kesulitan Dia janjikan kemudahan?

Berlatarkan langit jingga dengan rasa rela
Kesadaranku pulih, air mataku menderas
Tertampar keras
Bahwa Ia tegurkan padaku, cinta-Nya jauh lebih besar dari cinta makhluklainnya
Sekalipun cinta pada makhluk-Nya tidak pernah salah
Tapi logika mengatakan,
“bukankah suatu kesalahan ketika aku jauh lebih mencintai makhluk-Nya?”

Senja,
Sampaikan maaf yang sudah seharusnya
dan kata yang ingin kusampaikan
Aku mencintai Tuhanku tanpa koma,
Titik.

Rabu, 19 Maret 2014

Saudade

Senja,
Hari ini aku menangis lagi
Entah mengapa aku sendiri tidak tahu
Tapi air mata ini seakan-akan ingin merebak keluar
tanpa aku minta

Senja,
Rasanya sakit
Sakit yang tertahankan saat ini
Aku tidak tahu apa diri ini telah melakukan kesalahan ataukah
hal lain yang tak ku ketahui
Sesak,
Betul-betul menyesakkan

Senja,
Perempuan boleh menangis, kan?
Bukan hal yang dilarang, kan?
Rasanya aku tidak kuat lagi
Menyimpannya sendiri betul-betul membuatku lemah
Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi

Senja,
Yang aku tahu hanya satu.
Aku merindukannya
tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
dan aku memilih menangis.

Sabtu, 14 Desember 2013

Solenoida

Segelas moccachino dingin dan kamu.
Aku selalu menikmatinya dengan diiringi ocehan panjang lebar darimu
sesekali tawa
sesekali mencibirkan bibir yang justru terlihat semakin lucu.

Padahal diluar sedang hujan lebat,
dingin,
dan kamu lagi-lagi sempat mengomel diawal ketika yang kupesan justru minuman dingin.
Aku justru tertawa dan hanya membalasnya, "alasannya rahasia".
Lagi-lagi kamu membalas dengan senjata andalan mu, cemberut lucu.

Bukan berarti aku tak peduli dengan ocehanmu,
aku sungguh menikmatinya
Menikmati setiap kata yang terucap,
menikmati setiap ekspresi yang berefek senyum pada diriku
menikmati waktuku yang berjalan dengan perlahan dan berharap panjang bersamamu
menikmati segelas moccachino dingin dan kamu.

***

Segelas moccachino dingin dan masih dengan kamu
Aku masih selalu menikmatinya
ocehan panjang lebar darimu
ekspresi-ekspresimu

Tapi tak lagi menghangatkan cuaca dingin yang kala ini melingkupi aku dan kamu

Aku,
Kamu,
Masih bersama-sama menikmati waktu yang bergulir dengan perlahan
Tapi aku tahu itu tak lagi sama
Meskipun aku masih tetap menikmatinya

Kamu,
Sadarkah bahwa aku tahu sorot matamu dan senyummu tak lagi sehangat dulu?

***

Segelas moccachino dingin dan hujan,
Aku masih tetap menikmatinya,
menikmati kenangan,
menikmati kerinduan,
menikmati keikhlasan,
menikmati semua melebur menjadi satu dalam rintikan air Sang Pencipta

Aku,
biarkan ikhlas dalam hati ini muncul lebih banyak lagi,
lebih sering lagi,
hingga jauh lebih besar dibandingkan rasa rindu dan kenangan tentangmu

Segelas moccachino dingin dan hujan,
Ya,kali ini aku mengenangmu,
merindukanmu,
mengikhlaskanmu,
dan aku bersyukur menikmatinya.


(*Solenoida dalam ilmu fisika adalah satu jenis kumparan terbuat dari kabel panjang yang dililitkan secara rapat dan dapat diasumsikan bahwa panjangnya jauh lebih besar daripada diameternya - wikipedia)

Rabu, 28 Agustus 2013

Adagio-Smorzzande

"Karena sekeras apapun aku menjadi baik, tidak akan pernah berakhir padamu. Itupun karena aku yang terlalu memaksakan diri, merasa kamu masih peduli denganku padahal sedikit pun tidak.

Kamu, setiap pertanyaan berkawan baik dengan jawaban. Yang Maha Kuasa berikan satu per satu, sedikit demi sedikit, hingga seharusnya aku tak perlu menagih kembali tentang kumpulan jawaban itu dan semoga kamu senantiasa bahagia disana.

Ah ya, hari ini langit biru indah.
Menyejukkan, menentramkan.
Tapi kali ini aku lebih memilih hujan."

***

I.

Ribuan kali terlintas dalam benak,
mampukah manusia mengubah takdirnya sendiri?
Satu per satu, terus menerus
Karena pertanyaan kehidupan terus merenggut kemungkinan-kemungkinan
Hingga akhirnya tak satu pun yang mampu menghindar
ketika Tuhan katakan,
"jadilah"
Maka yang terjadi, terjadilah
Sampai waktunya tiba.
Kalau manusia mengeluh tentang kehidupan hanya karena
Tak kunjung berujung bahagia,
Tak kunjung tercapai segala harapan dan asa,
Lantas akankah diri bertemu dengan dosa?

II.

Begitu pula aku.
Menunggu.
Mengharap secuil keinginan tentang cita, cinta, dan harapan
Tentang masa yang akan datang
Tentang dia.
Bagiku ini tak semudah cerita-cerita yang pernah kulihat,
kudengar,
Seakan waktu penentuan berjalan lambat dengan sengaja
Atau memang itu suatu tantangan
tersendiri dari Tuhan untuk
hambaNya?
Satu.
Tiga.
Lima.
Tujuh tahun lamanya.
Bahkan bisa jadi dua belas atau enam belas.
Kapan penantian ini sampai di penghujung batasnya?

III.

Tuhan berikan pertanda,
tapi siapa dinyana?
Siapa tahu itu hanya kinerja otak dan perasaan yang sibuk mengada-ada
Mengkaitkan si pertanda dengan si harapan.
Semakin lama semakin besar
Bahkan tanpa disadari, perasaan terus menuntut pada si kejadian hidup.
Ah ya, Tuhan.
Bukankah hidup ini adil?
Maka selama apapun aku menunggu,
akan ada "sesuatu" yang Kau siapkan
Berapa lama lagi Tuhan?
Tapi sekelilingku terasa begitu hangat.
Aku menikmatinya.
Aku tidak menyesal untuk terus bertahan.

IV.

Setiap pertanyaan berkawan baik dengan jawaban.
Kau berikan jawaban satu persatu,
Sedikit demi sedikit
Hingga aku tak perlu menagih
kembali tentang kumpulan jawaban.

V.

Langit biru indah.
Menyejukkan, menentramkan.
Takdir selalu yang paling baik,
yang paling benar.
Tak akan salah apalagi tertukar.
Sekalipun berbeda 2x360° dari sesuatu yang disebut harapan.
Tidak akan ada yang sia-sia
Tuhan akan selalu siap, menyimpan rapat-rapat sejenak.
Dia,
Berikan pilihan terbaik untuk membawakan
kebahagiaan untuk setiap hambaNya
Betapapun manusia tetaplah manusia.

Langit biru indah.
Menyejukkan, menetramkan.
Tapi kali ini aku lebih memilih hujan.

***

(*Dalam musik terdapat istilah tanda tempo, yaitu tanda yang digunakan untuk menunjukan cepat atau lambatnya sebuah lagu yang harus dinyanyikan. Dan adagio termasuk salah satu kategori tanda tempo sangat lambat dengan penuh perasaan.

Dan terdapat istilah tanda dinamik, yaitu tanda utuk menyatakan keras, lembutnya sebuah lagu yang dinyanyikan. Tanda dinamik memiliki beberapa perubahan setiap lagu dimainkan. Salah satunya adalah Smorzzande, yaitu sedikit demi sedikit menghilang.)

Sabtu, 22 Juni 2013

Tentang Rahasia

semenjak senja beranjak perlahan-lahan
malu-malu tanpa menyampaikan salam perpisahan
hingga berpapasan dengan bintang gemintang yang
entah mengapa malam ini begitu bersemangat
memancarkan kilaunya amat terang
sekalipun suasana lebih hening dari biasanya
beserta angin yang menggetarkan dedaunan dengan lembutnya
utuh

senyap ini damai
tanpa alasan dan memang tidak perlu meminta alasan
alam mengetahui segalanya termasuk pertanda sang Kuasa
lantas apa yang akan mereka tawarkan sebagai pengganti ketenangan ini
masih berbentuk kerahasiaankah

semua berjalan dengan seutuh-utuhnya kombinasi yang nyata
untuk setiap makhluknya

Jumat, 05 April 2013

Sky's The Limit

Langit selalu sama
Langit ditempat saat ini aku melihat
    ataupun ditempat saat ini kau lihat
Akan selalu sama
Biru
Awan menggumpal berarak serasa mengikuti kemana arah angin menuju
Aku selalu suka langit
Bukan karena kamu juga menyukai hal yang sama
Kurasa mungkin kita jodoh
Kau wariskan semua kenangan pada langit
    ditempat saat kini kau berada
Dan
Saat aku melihat langit saat ini
    aku melihatnya
Saling berebut menyajikan potongan-potongan gambar tak bersusun
Memaksaku merunut segala kejadian
     dan mengenangnya tanpa batas
Hingga pada akhirnya kenyataan menyakitkan mengatakan
     dirimu akan selalu sulit direngkuh
Dengan cara apapun
Dengan taktik dan strategi apapun
Tidak ada metode nya
Lantas mengapa aku masih menyukai langit?
Sebegitunyakah aku mengharap padamu?
Atau sebenarnya kamu menyukai langit karena aku?
Biar berapapun pertanyaannya,
     jawabannya akan selalu sama
Dirimu terlalu tinggi dan tak akan mampu aku mencapaimu
Langit selalu sama
Dari dulu sampai sekarang
Biru
Mengagumkan
Menenangkan
Menakjubkan
Tanpa perlu kau wariskan kenangan pun aku akan tetap menyukainya
Sama
Karena aku pun tak punya alasan mengapa aku menyukaimu
Tanpa batas

Selasa, 18 Desember 2012

Deadlock

Kau adalah nada-nada yang selalu bergema dalam pikiran tanpa diminta
Memaksa masuk langsung kedalam otak
Berdenting tanpa terdengar hingga seluruh jiwa
dan aku menikmatinya.

Kau adalah rajutan-rajutan mimpi tanpa ujung
Memaksa masuk lewat celah-celah ruang kosong yang tertangkap neuron
Menempatinya.
Permanen.

Kau adalah rangkuman-rangkuman kenangan
Memaksa masuk bergabung dengan ingatan tentang pengetahuan
Berisik.
Sengaja dirapalkan dengan keras setiap kalinya.

Kau adalah titik-titik yang bergerombol
Bergabung menjadi satu kesatuan
Menggumpal. 
Memaksa masuk menjajah pikiran tanpa ampun.
Berkuasa. 
dan aku hambanya.

Kau adalah waktu-waktu yang sengaja terekam
Memaksa masuk tertayang ulang terus menerus tanpa muak
Tak terhindarkan. Menjangkit sakit.
Tapi aku tak jera

Kau adalah pemenang.
Memaksa masuk tak peduli kapasitas memori sudah penuh.
Bertarung.
dan aku kalah.

Selasa, 28 Februari 2012


Dalam kerinduan
yang mengalir dalam samudera cintaNya
Lewat nada-nada terindah
berbalut kasih yang mulia
Kala sayup-sayup lembut doa
terurai harap lepaskan rindu
Dia 'kan selalu ada
Ketika hati terkurung parasut kusut kehampaan
Terpaan godaan membalut kesombongan
Rindukanlah Dia
Karena cinta yang Dia berikan
takkan pernah habis
termakan masa
Menembus lurus melewati batas demi batas lazuardi
Doa akan cinta terlantun tak
akan pernah berhenti
Hingga air mata penuh keikhlasan
akan cintaMu
Mengiringi tiap untaian ingatku
kepadaMu
Fabiayyi ala irrabi kuma tukadzibban
Maka nikmatNya yang manakah yang pantas
kau dustakan?
Demi masa yang mengantarkan kami
dalam kehidupan dan kematian
Lewat takdir dan kuasaNya
Demi Engkau yang senantiasa
ada dan akan selalu hadir
dalam rangkaian cinta hambaNya
Demi cinta yang lurus dan agung
Putih suci seikhlas cinta malaikat
kepadaMu..
Semoga aku juga begitu..

***

Ku berkaca pada samudera cintaNya
Adakah cintaku lekat di hatiNya?