Tampilkan postingan dengan label Repost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Repost. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

Share Video - Nouman Ali Khan - 1 - Repost

Assalamualaikum.
Hai lagi.
Kali ini aku mau share video yang sayangnya aku nggak tahu link nya. Karena ini juga share dari status salah satu orang yang ada di grup Facebook yang saya ikutin, dan grup facebook itu share lagi, dan muncul lah di home Facebook saya (ribet ya?), jadi kalau semisalnya ada yang nemuin link nya, bisa kasih tahu saya biar saya cantumin nanti.

Kenapa saya share video ini? Pertama saya suka banget sama beliau. Nama beliau Nouman Ali Khan. Mungkin juga banyak yang udah tahu.Kalau yang belum tahu, bisa cek profilnya di google. Banyak kok. Saya suka kata-katanya beliau, banyak yang bikin saya jadi kayak "disentil". Dan untuk video ini, hmmm. entah kenapa saya speechless. Kali ini saya berasa "ditampar bolak-balik: dengan ampuhnya.

Let's see.



Sudah lihat kah?

Saya suka kata-kata beliau bagian ini,

"Ketika aku menjadi mahasiswa dan mulai belajar bahasa Arab, dan aku mulai mendengarkan Al-Qur'an, dan untuk pertama kalinya mendengar kajian tentang Al-Qur'an, aku benar-benar marah.
Aku marah. 

Aku marah terhadap umat ini.

Bagaimana bisa mereka "merampas" dariku, setelah 18 tahun lahir menjadi muslim, bagaimana bisa sampai aku tidak mengerti makna Al-Qur'an? Mengapa mereka tidak memberitahuku? Bagaimana bisa mereka berpikir bahwa aku mengetahuinya dengan sendiri? Bagaimana bisa mereka tidak memberitahuku bahwa kitab ini adalah harta terpenting dalam hidupku?

Bagaimana bisa mereka tidak memberitahukan bahwa selama 23 tahun perjuangan keras dalam sejarah hidup manusia, perjuangan Rasulullah SAW, bahwa hal terpenting darinya adalah "Fal yuballighi ''sh-shahidul-gha'ib, ballighul anni walau aayah" Sampaikanlah dariku walau satu ayat, "Sampaikanlah, walaupun satu ayat atas namaku."

Dan seterusnya.

Baiklah, Saat itu ngerasa, iya, karena Al-Qur'an bukan cuma "buku" yang kita targetkan bisa habis satu juz satu hari. Bukan cuma "buku" yang bisa dihafal sebanyak mungkin, meski itu bagus pasti. Tapi ada yang jauh lebih penting yang terkadang kita alpa untuk melakukannya. Iya. Memaknai.

Hai.
Semoga sama-sama bisa mengambil hikmah dan penyemangat untuk diri masing-masing ya!


Senin, 08 September 2014

Rasakan Saja; Menata Hati - Kak Nazrul Anwar *Repost*


Rasakan Saja
=============

Andai saja pilihan itu ada, tentu aku akan memilih untuk melupakanmu. Membuangmu jauh-jauh dari sudut ingatanku. Mengingatmu membuatku semakin resah, tapi melupakanmu bukanlah perkara yang cukup mudah. Namun apa daya, kebingunganganku menyudutkanku pada kondisi tanpa pilihan selain mengingatmu, walaupun mengingatmu adalah perkara yang tak selayaknya.


***

Harusnya, aku tak perlu kehilangan jutaan detik yang berharga hanya untuk bersia-sia, terjebak dalam bingungnya perasaan terhadapmu; jika sedari dulu aku mengerti bahwa hati tidak ditugaskan untuk memilih. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang sahabatku, walaupun aku menyesal kenapa baru mendengarnya setelah semua ini terjadi.

"Hati tak perlu memilih, hati selalu tahu apa yang harus dirasa. Terlepas dari benar atau salah perasaan itu. Kalau kamu suka, rasai saja. Tak perlu berpaling dari perasaan sendiri. Kalau kamu benci, rasai saja. Tak perlu berpura-pura untuk menyukai apa yang kamu benci. Apalagi memaksa menyukai apa yang sebenarnya tidak kamu suka. Memaksa hanya akan membuat hatimu semakin luka. Termasuk memaksa untuk melupakannya. Jadi kalau hatimu bilang ingin mengingatnya, ingat saja tentangnya."

"Jadi tak masalah kalaupun perasaan itu salah?"

"Hati tak pernah tahu apa yang dirasanya itu benar atau salah. Karena hati diciptakan untuk merasa, bukan untuk berfikir tentang benar atau salah. Hati hanya bisa jujur, jujur terhadap apa yang dirasanya. Walaupun itu salah, walaupun itu bertentangan dengan kaidah baik-buruk sunatullah yang sudah dipaketkan Tuhan untuk dikenal oleh hati nurani. Hati tidak bisa berbohong. Tapi hati sangat bisa untuk salah. That`s why, selain menciptakan hati, Tuhan juga memberikan akal untuk berfikir, untuk mempertimbangkan baik-buruknya, untuk menentukan benar-salahnya. Gunakan juga itu, jangan hanya menggunakan hati saja."

"Jadi, aku harus gimana?"

"Rasakan saja apa yang harus dirasakan. Rasakan saja apa yang ingin hatimu rasakan. Entah itu suka, benci, atau mungkin rindu. Dengan begitu hatimu menjadi lega. Tapi sebelum melampiaskan perasaan kamu, sebelum mengungkapkannya, sebelum mengekspresikannya, jangan lupa gunakan akal kamu untuk berfikir tentang cara yang baik dan benar bagaimana melampiaskannya. Gunakan akal kamu untuk menata hati kamu, agar bisa meluruskan perasaan yang salah, atau perasaan yang tidak pada tempatnya."

***

Well, aku memang masih belum bisa melupakanmu. Aku juga tak bisa memaksa hatiku untuk melupakanmu. Dan ternyata aku tak perlu punya pilihan untuk melupakannmu. Barangkali juga untuk urusan hidup yang lainnya; kita tak perlu bingung dengan pilihan kalau kita sudah punya keinginan yang sungguh-sungguh. Dan sekarang, aku benar-benar tidak ingin melupakanmu.

___ Menata Hati, Nazrul Anwar