Rabu, 28 Agustus 2013

Adagio-Smorzzande

"Karena sekeras apapun aku menjadi baik, tidak akan pernah berakhir padamu. Itupun karena aku yang terlalu memaksakan diri, merasa kamu masih peduli denganku padahal sedikit pun tidak.

Kamu, setiap pertanyaan berkawan baik dengan jawaban. Yang Maha Kuasa berikan satu per satu, sedikit demi sedikit, hingga seharusnya aku tak perlu menagih kembali tentang kumpulan jawaban itu dan semoga kamu senantiasa bahagia disana.

Ah ya, hari ini langit biru indah.
Menyejukkan, menentramkan.
Tapi kali ini aku lebih memilih hujan."

***

I.

Ribuan kali terlintas dalam benak,
mampukah manusia mengubah takdirnya sendiri?
Satu per satu, terus menerus
Karena pertanyaan kehidupan terus merenggut kemungkinan-kemungkinan
Hingga akhirnya tak satu pun yang mampu menghindar
ketika Tuhan katakan,
"jadilah"
Maka yang terjadi, terjadilah
Sampai waktunya tiba.
Kalau manusia mengeluh tentang kehidupan hanya karena
Tak kunjung berujung bahagia,
Tak kunjung tercapai segala harapan dan asa,
Lantas akankah diri bertemu dengan dosa?

II.

Begitu pula aku.
Menunggu.
Mengharap secuil keinginan tentang cita, cinta, dan harapan
Tentang masa yang akan datang
Tentang dia.
Bagiku ini tak semudah cerita-cerita yang pernah kulihat,
kudengar,
Seakan waktu penentuan berjalan lambat dengan sengaja
Atau memang itu suatu tantangan
tersendiri dari Tuhan untuk
hambaNya?
Satu.
Tiga.
Lima.
Tujuh tahun lamanya.
Bahkan bisa jadi dua belas atau enam belas.
Kapan penantian ini sampai di penghujung batasnya?

III.

Tuhan berikan pertanda,
tapi siapa dinyana?
Siapa tahu itu hanya kinerja otak dan perasaan yang sibuk mengada-ada
Mengkaitkan si pertanda dengan si harapan.
Semakin lama semakin besar
Bahkan tanpa disadari, perasaan terus menuntut pada si kejadian hidup.
Ah ya, Tuhan.
Bukankah hidup ini adil?
Maka selama apapun aku menunggu,
akan ada "sesuatu" yang Kau siapkan
Berapa lama lagi Tuhan?
Tapi sekelilingku terasa begitu hangat.
Aku menikmatinya.
Aku tidak menyesal untuk terus bertahan.

IV.

Setiap pertanyaan berkawan baik dengan jawaban.
Kau berikan jawaban satu persatu,
Sedikit demi sedikit
Hingga aku tak perlu menagih
kembali tentang kumpulan jawaban.

V.

Langit biru indah.
Menyejukkan, menentramkan.
Takdir selalu yang paling baik,
yang paling benar.
Tak akan salah apalagi tertukar.
Sekalipun berbeda 2x360° dari sesuatu yang disebut harapan.
Tidak akan ada yang sia-sia
Tuhan akan selalu siap, menyimpan rapat-rapat sejenak.
Dia,
Berikan pilihan terbaik untuk membawakan
kebahagiaan untuk setiap hambaNya
Betapapun manusia tetaplah manusia.

Langit biru indah.
Menyejukkan, menetramkan.
Tapi kali ini aku lebih memilih hujan.

***

(*Dalam musik terdapat istilah tanda tempo, yaitu tanda yang digunakan untuk menunjukan cepat atau lambatnya sebuah lagu yang harus dinyanyikan. Dan adagio termasuk salah satu kategori tanda tempo sangat lambat dengan penuh perasaan.

Dan terdapat istilah tanda dinamik, yaitu tanda utuk menyatakan keras, lembutnya sebuah lagu yang dinyanyikan. Tanda dinamik memiliki beberapa perubahan setiap lagu dimainkan. Salah satunya adalah Smorzzande, yaitu sedikit demi sedikit menghilang.)

Selasa, 16 Juli 2013

Buatku, Kamu, dan Waktu-Waktu yang Berjalan - 11

Kamu, apakah kamu tahu? Sekarang aku mulai memahami makna realistis. Bahwa dalam hidupku saat ini ada yang jauh lebih penting, jauh lebih berharga untukku pikirkan, ku lakukan, dibandingkan atas segala halnya mengenai kamu.
Kali ini aku ingin berjuang untuk keluargaku. Dan hal ini semakin menyadarkanku bahwa selama apapun aku menunggu atau lebih tepatnya lagi mengharapkanmu, keinginan itu seakan mustahil terwujud untukku.

Jangan. Kamu orang yang baik, bahkan sangat baik. Berasal dari keluarga yang baik-baik, sangat berkecukupan, hebat, hangat, dan kriteria terbaik lainnya untuk sebuah keluarga. Dan itu masih sangat jauh dengan hidupku saat ini.

Bukan. Bukannya aku membenci keluargaku. Bahkan aku amat sangat mencintai mereka. Maka dari itu, aku rela memohon habis-habisan supaya aku bisa membahagiakan, membantu, atau membanggakan mereka. Aku hanya ingin agar cukuplah nanti aku memperoleh seseorang yang sama kondisinya, sama kadar keimanannya, dan apapun itu.

Dimataku, kamu semakin hebat. Dan hal ini bersinergi dengan perasaanku yang benar-benar ingin menyerah.
Sungguh.
Aku takut makin mencintai orang sepertimu.

Kamu.
Aku tahu, sekeras apapun, sesetia apapun seseorang mencintai, kalau bukan jodohnya, tentu tidak akan dipertemukan. Tapi entah mengapa, hati dan pikiran ini amat sangat membatu.
Mengeras.
Rasanya tak bisa dilunakkan untuk mencoba mengikiskan semua harapan tentangmu.

Karena yang terbaik hanya untuk yang terbaik juga, bukan?
Dan aku percaya, aku juga akan mendoakan, selalu, bahwa kamu akan mendapatkan seseorang yang terbaik dengan lingkungan yang baik pula.

Kamu. Aku akan terus belajar untuk ikhlas menerima kenyataan. Aku sedang berjuang untuk itu kok. Supaya hidupmu pun tenang, tanpa gangguan aku lagi.

Kamu.
Terima kasih banyak.
Aku boleh mengatakannya, kah?
Doakan aku agar bisa menggugurkan satu per satu perasaan ini.
Aku mencintaimu.
Sampai saat ini.

Rabu, 03 Juli 2013

Kalau Suatu Saat Nanti Aku Menjadi Seorang Ibu...

Allah, boleh aku meminta, mengaku. sekaligus berjanji kepadaMu kali ini? Aku ingin sekali suatu saat nanti menjadi seorang ibu terbaik untuk anakku, jikalau Engkau mengizinkanku untuk memilikinya. Aku ingin melahirkan anak-anak yang bisa merasakan hidup lebih baik dibandingkan aku, aku ingin mereka bisa merasakan bangga mempunyai seorang ibu seperti aku. Aku ingin memberikan perlakuan cinta yang luar biasa untuknya, agar mereka juga bisa merasakan dengan nyata, dengan jelas, bahwa dihidupnya ada orang yang begitu mencintainya. Tulus. Tanpa pamrih.

Allah, jika nanti aku diberi kesempatan menjadi seorang ibu, aku ingin seperti ibu, yang tidak pernah mengeluh mati-matian mencari cara halal hanya untuk menghidupiku. Bekerja, siang-malam, bahkan kadang kala hari libur pun tidak pernah sedikitpun ia mengeluh tentang itu. Aku ingin seperti beliau, yang selalu mati-matian mengadakan apa yang aku dan saudaraku lain butuhkan. Aku tahu ketika aku membutuhkan sesuatu apalagi yang bernama uang secara mendadak, tidak selamanya ibuku punya uang untuk menutupi kebutuhanku, tapi entah mengapa dia selalu mengabarkanku bahwa kebutuhanku bisa dipenuhi dengan segera. Aku tahu ibuku berusaha sekeras apapun, secara halal, bahkan bukan tidak mungkin seringkali beliau mesti menahan malu hanya untuk berhutang demi keluarganya.

Aku tahu dan sesungguhnya aku pun tidak sampai hati hanya sekedar mengucap namanya tapi untuk sekedar meminta sesuatu, tiap hari, tiap hari, dan tiap harinya. Aku tahu ibu pasti bingung ketika saat itu, karena kalau aku berada di posisi yang sama sepertinya, aku pasti tak akan kuat. Tapi ibu selalu kuat, aku ingin seperti dia. Sungguh. Semoga Kau terus limpahkan rezeki yang luar biasa untuknya, aku, dan keluargaku lainnya. Supaya aku tidak perlu melihatnya bekerja setiap hari, bahkan tidak jarang merelakan kerja yang lebih ke luar kota hanya untuk menjemput rezekiMu. Supaya aku juga bisa membantunya mengembalikan semua apa yang sudah dipinjamkannya untuk menghidupkan keluargaku dengan sepenuhnya. Supaya nanti, aku bisa menghidupkan anak-anakku lebih baik dan bisa membahagiakan mereka.

Allah, aku ingin seperti ibu, yang selalu menyempatkan tiap harinya menanyakan kabarku, sekalipun ia sedang tidak ada dirumah karena kerjaannya. Ibu selalu menyediakan waktu walau hanya beberapa menit untuk sekedar mendengar suaraku, mengetahui apakah aku sudah makan, dan baik-baik saja. Kalaupun tidak sempat menelepon, setidaknya ibu selalu mengirimkan pesan serupa dalam bentuk tulisan yang muncul di handphoneku. Allah, bahkan ketika melihat namanya tertera di layar handphoneku pun tak jarang aku meneteskan air mata. Sekalipun aku dan keluargaku lainnya tidak menanyakan kabarnya, dia akan selalu menanyakannya. Pasti. Aku ingin seperti ibu, yang cintanya tak pernah alpa untukku dan yang lainnya.

Allah, aku ingin seperti ibu, yang selalu mengutamakan kepentingan anaknya dibandingkan dirinya sendiri. Kadang ibu memilih menyimpan makanan yang didapat hasil pemberian teman-temannya atau jatah makanan dari tempatnya bekerja kalau ada suatu acara hanya supaya aku dan yang lain bisa merasakan makanan yang enak. Sekalipun komentar yang didapat dari anak-anaknya mungkin komentar negatif seperti, “ah makanannya udah dingin kayak gini” atau “ah, ginian mulu bawaannya”, tapi ibu tak pernah marah, tak pernah jera dengan komentar-komentar tega kepadanya, malah membalasnya dengan kata-kata yang tidak pernah menyalahkan. Begitu pula ketika ibu memasakkan masakan untuk keluarganya, tidak jarang komentar negatif justru keluar yang didengarnya. Padahal, demi apapun justru aku selalu menunggu masakan buatannya. Aku tahu, kalau aku di posisinya pasti sakit, tapi ibu punya hati lapang yang begitu luasnya.

Kalau aku membutuhkannya, memintanya ikut bersamaku padahal pada saat itu ibu sedang ada keperluan bahkan yang sangat sulit untuk membatalkannya, ibu tetap memilih pergi bersamaku, menungguku, sampai urusan ku selesai terlebih dahulu. Aku tahu, pasti nanti ibu dimarahi atasannya, tapi ibu tak pernah mengeluh, tak pernah takut. Ibu justru takut kalau aku kenapa-kenapa atau apakah aku bisa pulang sendirian tanpanya. Aku ingin seperti ibu, yang punya firasat luar biasa terhadap anaknya. Ibu tahu ketika aku punya masalah sekalipun aku tak menceritakan padanya, ibu tahu ketika aku sakit dan memberikan perhatian dengan caranya yang mungkin tidak secara jelas, nyata, tapi aku merasakannya. Sekalipun ketika justru ibu yang merasakan hal seperti itu, justru tidak ada yang peduli dengannya. Karena aku tahu, sejatinya tangan seorang ibu, ucapan menenangkan seorang ibu adalah kekuatan penyembuh yang terbaik dibandingkan obat sekalipun. Aku ingin sepertinya, ya Allah. Sungguh.

Ibu lebih memilih aku dan yang lainnya lebih maju, lebih modern, lebih hebat dibandingkan dirinya. Ibuku memang bukan ibu yang modern seperti ibu-ibu beberapa temanku. Ibuku tidak bisa bahasa Inggris, ibuku tidak mengerti film-film keren apa yang sedang diputar dibioskop, ibuku tidak tahu artis-artis luar negeri, ibuku tidak tahu buku-buku yang menjadi best seller saat ini, ibuku tidak tahu model-model pakaian saat ini, tas-tas branded dengan harga-harga mahal, gadget-gadget canggih, bahkan sekedar internet pun juga setengah paham. Tapi ibu mati-matian menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin atau mengizinkan aku untuk les, membelikan gadget yang aku inginnya semampunya, pakaian-pakaian, hanya karena tahu aku menyukai hal itu. Dan ibu ingin membahagiakan aku dengan caranya sekalipun aku tahu ibu juga mati-matian mencari biaya untuk membayarnya. Nanti, aku juga ingin suatu saat nanti anakku menjadi lebih hebat dariku. Aku ingin sepertinya, ya Allah. Sungguh.

Allah, ibuku memang bukan orang yang begitu terang-terangan menunjukkan rasa cintanya kepada anaknya, tapi aku tahu dia tak pernah lupa mendoakan yang terbaik dan merelakan apapun yang ia bisa hanya untuk anak-anaknya. Aku tidak pernah malu dilahirkan olehnya dalam keadaan yang tidak seberada seperti orang-orang kaya lainnya. Aku tidak pernah malu mempunyai seorang ibu sepertinya.

Allah, jika engkau mengizinkan aku suatu saat nanti menjadi seorang ibu, aku ingin menunjukkan rasa cintaku kepada anakku secara terang-terangan tetapi juga memiliki kehebatan luar biasa yang dimiliki ibuku selama membesarkan aku sampai saat ini. Aku ingin seikhlas ibu ketika kesedihan dan kesulitan dalam hidup itu menghampirinya, ketika menatap kesedihan demi kebahagian anaknya, ketulusan tanpa pamrihnya, dan kecintaan yang tak pernah berkurang darinya.

Mom, thank you for at least trying to understand where i’m coming from, for listening to me without judgement, for always being there, and for everything that you give to me.

Kamis, 27 Juni 2013

Hai Teman! Apa Kabar?

Dulu, saya pernah merasakan, saat dimana yang seharusnya anak kecil itu yaaa masanya buat bermain-main, punya teman sebanyak-banyaknya, ketawa-tawa saling bercanda, tapi itu semua nggak berlaku dalam hidup saya.

Bukan kok. Saya nggak bermaksud mencurhatkan waktu dulu saya kayak apa. 
Tapi ini tentang apa yang dinamakan "Teman".

Baiklah.
Mungkin efek yang saya dapatkan dari "masa" itu yang menjadikan saya punya pemikiran yang berbeda soal yang namanya "teman". Selama kurang lebih 9 tahun lah saya "tertampak" di mata orang lain sebagai orang yang anti sosial, pendiam minta ampun, jarang banget keliatan main kesana kemari sama orang lain (yang sebaya lah yaa setidaknya), dan itu terjadi baik di lingkungan rumah ataupun di sekolah. 

Atau jangan-jangan sampai sekarang masih ada yang menganggap saya begitu?

Itu terjadi bukan karena saya nggak mau membuka diri, berusaha berteman dengan orang lain, tapi justru rasanya saya "disingkirkan".

Ah, mungkin itu perasaan doang kali, Del. Lo nya aja yang nggak mau bergaul.

Bisa jadi. Di lingkungan rumah saya (yang rumahnya dekatan sama saya), yang sebaya sama saya kebanyakan laki-laki. Dan saya memang memilih untuk dirumah, main sama kakak saya, punya boneka, mainan apapun banyaaaak banget, nonton kartun-kartun apapun dirumah sama kakak saya. Tapi kalau disaat kamu merasakan dunia sekolah untuk pertama kalinya, kamu tiba-tiba dicubit tanpa tahu salah apa dan itu karena kamu nggak boleh baris di depan dia, bagaimana? Atau ketika kamu duduk tenang-tenang saja di mobil tiba-tiba diomongin sama orang-orang semobil dengan tatapan yang sadis minta ampun dan kalau turun dari mobil dijorokin kayak sengaja biar cepat-cepat keluar, bagaimana? Atau ketika kamu mau ngambil sesuatu rasanya adaaaa aja yang ngerebut itu dari tangan kamu, bagaimana? Padahal saya nggak tahu salah apa, bertingkah apapun juga nggak.

Kejadian yang terus menerus selama dua tahun. Dan berdampak terus sampai umur saya 9 tahun.

Saya takut sama orang lain. Sumpah. 
Selama SD sampai kelas 3 SD tepatnya, saya iri sama teman-teman saya yang bisa bercanda dengan hebohnya, ketawa-tawa, jajan bareng disekolah, ribut sana sini, sumpah saya iri. Untuk ngomong sama teman saya pun saya hati-hati banget, takut kalau-kalau saya salah omong dan dibenci satu sekolahan. Berangkat sekolah atau pulang pun saya ngintilin kakak saya terus.

Saya iri tapi takut dalam waktu yang bersamaan. 

Saya nggak tahu mau ngelakuin apa dikelas, jadi kalau kata orang, saya mah kerajinan banget. Lagi istirahat kadang-kadang ngerjain soal-soal dibuku pelajaran sambil makan bekal dari rumah atau kalau dulu saya paling suka banget buku pelajaran Bahasa Indonesia, soalnya banyak cerita-ceritanya. Makanya kalau dulu pelajaran Bahasa Indonesia, kadang pas baca cerita di buku kan guru baca duluan baru murid ngikutin bacaan guru, saya paling sebal adegan itu. Kelamaan. Baca kayak gitu doang bisa satu jam pelajaran.

Nggak niat belagu kok. Tapi seriusan, secara nggak sengaja semua waktu saya di sekolah saya habisin buat belajar. Saya pernah dicariin kepala sekolah cuma karena nggak sengaja pipi teman saya kena coret pulpen sama saya. Dan saya sampai nggak mau sekolah besoknya, mohon-mohon sama ibu saya supaya nggak sekolah.

See? Berlebihankah saya untuk ukuran usia segitu? Yaaa entah lah buat yang lain bagaimana memandangnya.

Dan pandangan saya sama yang namanya "teman" itu berubah drastis, saya nggak percaya sama orang yang bisa dijadiin teman, rasanya lebih baik sendiri. Tapi beruntunglah saya, yang namanya prestasi benar-benar menolong secara nggak langsung. Saya dikenal sama guru-guru sama satu angkatan yaaa cuma karena rangking satu mulu kayaknya. Tapi setidaknya itu membantu saya buat bisa "berbicara" dengan orang lain.

Sekali lagi bukan nyombong, kayak ginian apa yang mau disombongin juga?

Bahkan waktu pertama kali masuk SMP dikelas saya sebagian besar anak-anaknya dulu satu SD sama saya, tapi saya nggak kenal mereka. Parah banget ya? Dan saya mati-matian banget buat merubah diri saya untuk "berani" kenalan sama orang.

Oke, dan saat ini saya sudah kebiasaan nggak malu buat kenalan sama orang yang baru saya temuin. Tapi pemikiran saya tentang "teman" tetap sama sampai sekarang. Karena ada satu hal yang membuat pribadi saya merasa, "semua orang nggak ada yang boleh ngerasain kayak saya dulu". Karena saya tahu rasa sakit dan irinya itu seperti apa.

Saya nggak mau melihat orang yang diam saja, karena pemalu, sementara disebelahnya ada orang dengan geng nya cekakak-cekikik, gebuk-gebuk meja, senang sekali rasanya, padahal disebelahnya juga temannya tapi memang bukan geng nya.
Saya nggak mau melihat orang yang diam saja ketika tahu dia berada di tempat dengan orang-orang yang sama sekali nggak ada yang dia kenal.
Karena dulu saya penah ngerasain. Untuk ngomong "Namanya siapa?" atau "Ikutan dong, ngomongin apa sih?" aja itu susah. Rasanya keringat dingin kayak mau diinterogasi sama polisi.

Rasanya saya ingin menunjukkan, "ayo kita ngobrol sama-sama" ke orang-orang yang seperti itu.

Ya, pemikiran saya tentang "teman" yang tetap sama sampai sekarang hanya karena satu hal. Buat saya, saya lebih suka mereka yang "bercerita" untuk saya apapun itu, tapi tidak untuk saya. Buat saya, saya lebih suka "tidak ikut campur" sekalipun saya geng mereka, dibandingkan saya ikut-ikutan kepo dan rusuh hanya karena perbincangan tertentu. Buat saya, saya lebih baik ketawa, senyum, atau bentuk timbal balik sejenis lainnya dibandingkan harus berkomentar panjang lebar.
Cuma karena satu hal.
Saya takut kehilangan teman. Saya takut saya melakukan hal yang salah dan teman saya hilang.

Yaaa, begitulah efeknya. Sampai sekarang.

Buat saya tidak masalah ketika teman, sahabat, atau apapun itulah  tidak tahu makanan kesukaan saya, kebiasaan saya seperti apa, ulang tahun saya kapan. Tapi saya selalu mencoba mengingat apa saja yang ada dari "diri" mereka. Makanya terkadang saya suka masih "mengingat" hal-hal atau kejadian yang bahkan terlupakan sama teman-teman saya.

Karena saya menghargai sekali yang namanya pertemanan, Tapi saya tetap tidak bisa membagi kejadian hidup saya pada mereka.

Toh, terkadang orang lain mengaku "bersahabat" dengan yang lainnya, tapi mereka tidak tahu kapan sahabatnya ulang tahun, apa makanan kesukaannya, apa buku yang suka dibacanya, dan hal wajar lainnya.
Dan begitulah pandangan saya terhadap yang namanya "teman".

Ah ya, untuk semua manusia di dunia, saya rasa tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin "didiamkan" atau "terkucilkan". Tidak selamanya yang pendiam itu karena dia anti-sosial, nggak mau bergaul, atau apapun itulah. Kalau ada orang yang bukan (katakanlah kelompok kita) disaat kita sedang bersama teman-teman yang lain, nggak ada salahnya untuk sekedar berkenalan atau basa-basi formalitas, kan? Biarlah dibilang sok akrab, karena saya rasa semua orang lebih memilih hal itu dibandingkan diam saja, karena itu tandanya dia diterima sama sekitarnya.

Jadilah teman yang baik untuk teman kalian.

Hai teman! Apa kabar? 
Terima kasih. Siapapun kalian, dimanapun kalian, masih mengingat atau bahkan sudah melupakan sekalipun.
Sekali lagi, terima kasih.







Sabtu, 22 Juni 2013

Tentang Rahasia

semenjak senja beranjak perlahan-lahan
malu-malu tanpa menyampaikan salam perpisahan
hingga berpapasan dengan bintang gemintang yang
entah mengapa malam ini begitu bersemangat
memancarkan kilaunya amat terang
sekalipun suasana lebih hening dari biasanya
beserta angin yang menggetarkan dedaunan dengan lembutnya
utuh

senyap ini damai
tanpa alasan dan memang tidak perlu meminta alasan
alam mengetahui segalanya termasuk pertanda sang Kuasa
lantas apa yang akan mereka tawarkan sebagai pengganti ketenangan ini
masih berbentuk kerahasiaankah

semua berjalan dengan seutuh-utuhnya kombinasi yang nyata
untuk setiap makhluknya