Sabtu, 09 Juni 2012

Buatku, Kamu, dan Waktu-Waktu yang Berjalan - 5

Heartbeats fast
colors and promises
how to be brave
how can i love when i'm afraid to fall
but watching you stand alone
all of my doubt suddenly goes away somehow
one step closer

i have died everyday waiting for you
darling don't be afraid i have loved you
for a thousand years
i love you for a thousand more

time stands still
beauty in all she is
i will be brave
i will not let anything take away
what's standing in front of me
every breath
every hour has come to this
one step closer

i have died everyday waiting for you
darling don't be afraid i have loved you
for a thousand years
i love you for a thousand more

and all along i believed i would find you
time has brought your heart to me
i have loved you for a thousand years
i love you for a thousand more

one step closer
one step closer

i have died everyday waiting for you
darling don't be afraid i have loved you
for a thousand years
i love you for a thousand more

and all along i believed i would find you
time has brought your heart to me
i have loved you for a thousand years
i love you for a thousand more


***

Sayangnya, kisah ini bukan seperti Edward yang menunggu Bella sampai saatnya bisa bertemu dan bahagia selamanya. Tapi hanya sebuah kisah seorang perempuan yang entah bisa dikatakan bodoh karena mau-maunya terus bertahan untuk menunggu seseorang yang entah orang itu pun menunggu hal yang sama atau tidak.

Sayangnya juga aku bukan orang yang pandai berkata-kata layaknya seorang pujangga.

Seperti posisiku saat ini, sedang menikmati tiupan angin dari kaca jendela kendaraan umum yang sedang ku tumpangi. Kembali menuju rumah yang senantiasa ku rindukan kehadiran orang-orang di dalamnya. Yang selalu ku rindukan warna catnya meskipun sudah memudar. Yang selalu ku rindukan suara-suara riang pengantar kehidupan disana. Yang selalu ku rindukan, lebih daripada merindukan kamu.

Tapi, tetap saja setiap kali aku kembali, pastinya aku juga merindukan kamu.

Aku bukan Edward, karena aku perempuan. Lagipula aku juga bukan vampir yang mampu hidup abadi seperti di ceritanya itu. Tapi entah mengapa, rasanya menunggu tanpa kepastian itu yaa, seperti ini.

Ya, lagi-lagi silahkan anda mengatakan aku ini orang bodoh atau apapun itu, yang pasti untuk saat ini aku menikmatinya. Menikmati dalam artian, bahwa aku ingin mencoba, menunjukkan pada yang Kuasa, bahwa aku ingin tetap bertahan untuk dia. Meskipun entah nanti pada akhirnya Tuhan berikan aku jodoh orang lain, tapi mungkin saja Tuhan memberikan hasil dari perjuangan ku, bukan?

Who knows..

Entah mengapa, gerimis mulai turun. Terpaksa harus menutup jendela kaca kendaraan umum ini meskipun aku masih amat sangat menikmati angin yang diterpa benda mati ini. Apa kabarnya kamu disana? Apa disana juga hujan seperti disini?

and all along i believed i would find you
time has brought your heart to me
i have loved you for a thousand years
i love you for a thousand more...


Itulah, ini bukan hanya sekedar bertahan saja. Tapi aku juga mencoba mempertahankan kepercayaan ku. Aku percaya suatu saat aku akan menemukan kamu, entah berapa tahun lagi, entah di tempat mana, atau mungkin entah dalam kondisi seperti apa.

Mungkin saja ketika kamu ternyata bersama orang lain, atau justru ketika aku yang mengalami hal tersebut? Terlebih lagi, mungkin saja ketika aku sudah tak bernyawa lagi?
Kalau memang yang pertama dan yang kedua, semoga lagu ini berhenti dalam hati ku. Semoga pikiran dan memori dalam otak ku tentangmu bisa ku hapus, dan ku reset ulang dan ku isi dengan yang baru.

Tapi kalau itu pilihan yang terakhir..
Aku malah berharap, semoga lagu ini tetap tersimpan dalam hati ku, sekalipun kamu tidak mengetahuinya. Karena bagiku, menyimpannya secara rahasia saja sudah lebih dari cukup.

Katakanlah kembali, aku orang bodoh yang tak pernah bisa lepas dari masa lalu. Itulah aku, hanya seorang perempuan yang ingin mencoba menjadi seorang perempuan yang benar-benar menyimpan suatu pengharapan tulus bagi orang yang diharapkannya. Menjadi seorang perempuan yang memang menjaga hatinya untuk seorang saja. Menjadi seorang perempuan yang sesungguhnya sama sekali tidak mengharapkan dia menyadari dengan langsung, tapi biarlah bertahap.. bahwa ada aku, yang mengharapkannya tulus melebihi yang lain.

Katakanlah kembali, aku orang bodoh yang berlebihan. Memang yang namanya perasaan itu membuat buta yang merasakannya. Tapi aku menjamin, ini bukan karena aku buta. Bukan karena aku tidak mau memandang ke sisi lain di dalam hidupku.

Karena aku percaya padanya.
Lebih dari apapun.
Entah mengapa aku merasakan hal itu, bahkan sampai saat ini.

Katakanlah kembali, aku orang bodoh yang berlebihan. Yang tidak tahu bagaimana rasa bersyukur, yang tidak tahu memaknai hidup. Mengharapkan orang yang bahkan tidak jelas apakah mengharapkan kamu juga atau tidak.

Karena dia, salah satu alasan mengapa aku masih terus semangat menjalani hidupku. Meskipun terkadang aku menitikkan air mata, meskipun aku tidak tahu harus berbuat apa, entah mengapa ada suatu kekuatan magis tersendiri ketika aku mengingatnya.

Karena dia, aku tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

and all along i believed i would find you
time has brought your heart to me
i have loved you for a thousand years
i love you for a thousand more...


Sampai kondisi benar-benar memaksaku untuk berlaku seperti ini, lagu ini tetap ku mainkan dalam hati ku...

Rabu, 06 Juni 2012

Buatku, Kamu, dan Waktu-Waktu yang Berjalan - 4

Hari ini, seharusnya aku sibuk berkutat dengan buku-buku, dengan soal-soal, dengan rangkuman-rangkuman atau catatan-catatan kecil yang sempat aku tulis saat kuliah, tapi aktualnya tidak seperti itu. Hari ini aku hanya sibuk menata pikiranku, mencoba tetap berpikir positif, setelah kejadian yang sekian kalinya terulang timbul kembali dalam sekian jam yang entah tak mampu aku hitung dan ku jangkau.

Aku bermimpi lagi. Dan itu kembali tentang kamu.

Bukan suatu hal yang baru, bukan pula suatu hal yang asing. Toh, hal seperti ini sudah amat sangat sering ku terima. Dan sampai saat ini pula, aku tidak mengerti apa maksud dari semua yang Tuhan beri kepada ku. Ada suatu ketenangan, bahwa ternyata Tuhan tidak memberikan ku mimpi buruk. Tetapi ada kekhawatiran pula, bahwa setahu ku mimpi itu hanya bunga tidur, bahkan justru apa yang ada di mimpi bisa jadi di dunia nyata semua menjadi terbalik adanya.

Sudah terhitung 3 kali pula aku bermimpi dengan tema yang sama tentang mu.
Tentang kebahagiaan itu, tentang sesuatu yang pernah kamu lontarkan kepada ku, meski sudah sangat lama sekali.

Sayangnya, aku bukan Tuhan, bukan pula orang yang mampu memprediksi takdir Tuhan seperti apa, bahkan aku juga bukan orang yang tahu mengenai bagaimana nasib jodoh seseorang bisa diindikasikan dengan indikator apa saja.

Berbagai kebetulan itu ada, sering muncul, bahkan sampai saat ini pun masih timbul tenggelam dalam pikiran aku. Tapi terkadang, entah mengapa bagi ku rasa kebetulan itu terasa ganjil dan mengakibatkan justru timbul rasa penasaran, apakah benar ini hanya suatu "kebetulan" saja atau memang suatu pertanda?

Bahkan hingga saat ini, aku tetap terpisah jauh dengan mu.
Sejak aku berumur 15 tahun, selama 9 tahun pula aku tak pernah bertemu. Lagi.

Dan aku juga tak bisa pungkiri, mungkin apabila suatu saat nanti, ketika Tuhan masih memberikan ku kesempatan untuk bisa mempertemukan ku denganmu, rasa itu tidak akan pernah hilang. Akan masih sama dan tidak berubah. Tapi, selama bertahun-tahun itu pula, berbagai pertanda datang silih berganti, entah muncul secara mendadak, atau sengaja aku pikirkan, toh pada kenyataannya sampai saat ini aku tetap tak bisa bertemu dengannmu bahkan tidak pernah terjadi apa-apa.

Cinta bertepuk sebelah tangan kah? Aku rasa tidak.
Bukan ke-PD-an, tapi aku tahu kamu juga menyukaiku. Setidaknya itu yang pernah kamu katakan kepada ku, 9 tahun yang lalu.
Apakah ini hanya sekedar masa lalu dan cukup menjadi suatu memori indah dalam hidup aku saja? Tapi, terkadang, dalam hati kecil yang lain ingin rasanya berteriak, "Ini bukan suatu kebetulan yang disengaja" dan ada rasa harapan yang timbul bahwa kamu memang takdir buatku.

Tapi lagi-lagi aku bukan Tuhan, bukan peramal, bukan pula orang yang berkuasa mendahului takdir Tuhan.

Ah, hujan kali ini benar-benar nikmat. Sepertinya aku ingin minta tolong pada genangan air yang mulai mengalir di jalan untuk turut membawa serta kenangan-kenanganku tentang mu ke tempatmu saat ini. Kalau orang lain tidak mempercayai adanya cinta sejati, kalau begitu aku hanya orang bodoh yang mempercayai itu sekaligus melakukannya? Dimana hatiku hanya tertambat pada satu orang saja, sejak 9 tahun yang lalu, yaitu kamu.

Ya, terkadang aku menyesalinya. Tapi dilain waktu aku meyakininya. Aku menikmatinya, bahwa ini murni keinginanku, murni harapanku.
Mungkin suatu saat aku melihat kamu dengan orang lain, bahkan lebih menyakitkannya memilih orang lain itu menjadi pendamping hidup kamu. Entahlah, biarlah rasa sedih itu menjalariku, dan entah mengapa hatiku tetap tidak mau mengakhiri untuk mengenang tentangmu dari awal saja sebelum kemungkinan itu terjadi.

Ya, when i miss you, i re-read old conversation and smile.

Aku selalu mengingat semua kenangan, tak kurang satu pun, sampai saat ini tercetak jelas di ingatanku.

Aku selalu menguatkan perasaan ini, bahwa tidak masalah ketika kamu terus mengingat "seseorang" itu. Itu tandanya dia amat berarti bagimu. Itu tandanya memang dia berharga untukmu.
Entah aku bodoh, atau aku hanya orang yang mempercayai bahwa cinta pada satu orang itu memang ada, dan itu aku yang menjadi terdakwanya, kamu korbannya.

Dan entah bagaimana pula kamu menanggapinya, mungkin kamu juga akan menganggap bahwa aku bodoh betulan, atau kamu akan menyadari bahwa ada seseorang yang begitu mencintai kamu tak kurang sedikitpun, bertahun-tahun, meski terpisah jauh, tak pernah berubah.

Tuhan, jika aku memang bukan yang terbaik buatnya, semoga dia mendapatkan orang yang juga terbaik sebagaimana aku menganggap dia adalah orang terbaik yang pernah ku temukan dalam hidupku.

Selasa, 05 Juni 2012

Buatku, Kamu, dan Waktu-Waktu yang Berjalan - 3

Malam ini saja, terlihat lebih sunyi dari biasanya. Rasa-rasa dingin yang tercipta juga melebihi batas kemampuanku untuk mampu bertahan menikmatinya. Terkadang setiap mimpi-mimpi yang tercipta dari setiap helai malam justru terlampau melenakan manusia, tapi ada pula yang semangat mencari nikmat jiwa muncul dari sekelompok orang-orang yang tunduk patuh pada TuhanNya.

Aku ingin bercerita, Tuhan. Di malam ini, di sunyinya suasana ini, dan di kondisi seperti ini.

Tentang orang-orang yang masih memiliki mimpi, tentang jiwa-jiwa yang masih menyimpan harapan. Setidaknya, orang-orang seperti itulah, orang-orang yang masih memiliki semangat untuk meneruskan hari-harinya. Orang-orang yang masih percaya bahwa ada Zat yang Maha Kuasa yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah dan menemani setiap detik perjalanan kehidupan mereka.

Termasuk aku. Yang masih memiliki harapan dan mimpi tentang suatu indikator keberhasilan. Yang masih terkadang merasa kerdil ketika tak mampu memberikan suatu kebahagian bagi orang lain. Dan yang masih memiliki kepercayaan bahwa suatu saat nanti, aku bisa menjadi hebat dan menciptakan orang-orang hebat lewat diriku.

Ya, suatu saat nanti.

Rasanya membahagiakan orang lain menjadi suatu kepuasan tersendiri bagiku. Setidaknya dalam hitungan beberapa detik, ketika sebentuk garis itu tampak jelas di mataku. Ada suatu kekuatan magis tersendiri yang memberikan kesan kalau mereka masih punya semangat dalam hidupnya. Ada suatu keyakinan bahwa hati mereka pasti akan menjadi lebih baik meski hanya sepersekian persen kadarnya.

Ya, meski dalam beberapa hitungan detik pun, saya menikmatinya. Karena bagi saya urgensi senyum bukan hanya sekedar tanda dari keriangan dan kebahagiaan. Lebih dari itu.

"Kamu tak akan pernah tahu arti senyum dari orang-orang pinggiran seperti itu."
"Memangnya kamu tahu?"
Diam. Hening.
"Ah, paling hanya sekedar formalitas ketika bertemu dengan orang lain. Memang tabiat orang Indonesia seperti itu, bukan?"
"Apakah berlaku juga buat kamu?"
"Yaa, aku rasa setiap orang juga begitu. Kamu juga palingan seperti itu."
"Bahkan ketika melihat seseorang yang tersenyum tulus seperti itu, yang berterima kasih dengan ikhlas padamu? Tidakkah kamu merasakan ada suatu hal yang berbeda dari hatimu?"
"Maksudmu? Memangnya apa hubungan nya dengan keihklasan? Ada juga lho, senyum ikhlas dan pura-pura. Memang kamu mengerti bagaimana membedakannya?"
"Bukan, aku juga tidak tahu membedakannya kalau bukan karena aku, orang itu melontarkan senyumnya."
"Lantas?"
"Tapi aku bisa mengetahuinya. Dari perasaan hati aku. Ada suatu kelegaan dan kerelaan tersendiri, bahkan rasa-rasanya aku ingin ikut tersenyum seperti mereka."
"Semudah itukah? Berteori itu memang mudah, kawan"
"Tapi mempraktikannya juga tidak kalah mudah, kalau kamu mau melakukannya."
Kembali diam. Aku terpaku, mencoba tersenyum meresapi kata-kata diri saya sendiri.
Sebuah pemandangan indah ketika kawan saya, sahabat saya mulai menampakan senyum indahnya.
"Ya, aku kalah. Urgensi senyum tidak hanya untuk suatu "kesenangan", bukan?"

Kamu, dunia ini luas.
Dengan bermiliar-miliar orang, bermiliar-miliar pula kepribadian dan watak, berpangkat entah berapa juta mengenai harapan dan doa-doa yang terlontar, dan tak kalah pula berpangkat berapa juta mengenai cobaan-cobaan yang diterima. Dan untuk menerima dan meneruskan hidup, butuh suatu energi tersendiri dimana kita mampu bertahan atas semua kejadian, baik ataupun buruk.
Tidak semua kondisi orang-orang yang ada di dunia, sama. Ada segelintir orang yang bahagia karena baru memperoleh jabatan baru, ada pula sekelompok orang yang sedih karena tak tahu harus memperoleh uang dengan cara seperti apa lagi.
Ada kumpulan orang-orang yang tetap mengisi jiwa nya dengan semangat-semangat yang masih tersimpan dalam dirinya, tapi ada pula orang-orang yang tak tahu lagi harus berbuat apa.

Kamu, ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan, entah dalam kondisi sedih ataupun senang. Memandang riak kecil air di kolam akibat tetesan air yang terjatuh dari atap rumah. Mendengar suara gemerisik gerimis yang membasahi jalanan. Menghirup udara segar di pagi hari. Melihat anak-anak kecil berkeliaran sambil tertawa riang. Saat melihat noda di baju yang kita sendiri tidak tahu dikarenakan apa. Saat menyadari bahwa barang yang kita miliki tertukar dengan milik orang lain. Ketika melihat kerincingan di depan pintu rumah bergerak dan menimbulkan suara akibat ditiup angin.

Ada banyak cara. Baik atau buruk.

Dan semua itu, apabila kita mengetahui dan menikmatinya, tidak terasa "senyum" itu juga timbul.

Ya, bagiku, senyum bukan hanya untuk kebahagiaan. Ketika sedih pun saya rasa sah-sah saja apabila kita tersenyum. Itu tandanya, kita masih punya semangat, kita punya rencana yang lebih baik, kita punya keyakinan yang lebih besar daripada semuanya, dan kita punya harapan akan kebahagiaan lainnya.

Sederhana, tidak sulit. Hanya sisipkan sebentuk garis melengkung kebawah pada bibir kita, disetiap urusan, baik ataupun buruk.
Sederhana, tidak sulit. Hanya bantu mereka melakukan posisi seperti itu, dan kamu akan rasakan betapa lega dan puasnya karena telah membuat orang tersenyum.
Dan kemungkinan kamu ikut tersenyum, pasti lebih besar.

Ya.
Karena buatku makna senyum tidak hanya untuk itu.
Kamu. Jangan bersedih. Tetaplah tersenyum.

Rabu, 30 Mei 2012

Nyanyian Rindu Hujan di Sore Hari

Jakarta, 3 November 2011 Pukul 16.40

Hari ini, hujan turun lagi. Entah mengapa aku sangat menyukai waktu-waktu dimana memandangi jendela dengan butir-butir air hujan turun membahasi kacanya. Menikmati suara gemericik menjatuhi tanah dan sekitarnya. Menghirup dalam-dalam bau khasnya dan mencoba merasakan kembali kenangan tentang hujan.

Aku memainkan jari-jari tanganku di kaca jendela yang penuh uap hujan. Mencoba menggambarkan apapun yang ada di pikiranku. Kamu pasti tahu, ini kebiasaan ku. Kebiasaan yang paling kusukai menikmati segala macam bentuk ketenangan jiwa lewat irama hujan. Setidaknya itu yang kurasakan. Bagiku, suara hujan sudah seperti nyanyian ketenangan hidupku. Tapi, ah! Mengapa lagi-lagi memikirkan kamu?

Harusnya aku tahu, cuma kamu yang tahu kebiasaan ku menikmati hujan seperti ini. Dan ketika hujan turun, kamu pun turut menikmatinya. Ya, aku menyadarinya bahwa kebiasaan kita sama. Aku suka memandangi senyum diwajahmu ketika hujan mulai turun, dan kau menjulurkan tanganmu, membiarkan air hujan menerpa kulit tanganmu. Aku mengikuti apa yang kamu lakukan dan turut menikmatinya. Tapi saat ini aku sedang dirumah, tidak diluar. Bagaimana dengan kamu sekarang? Apa di Yogyakarta sedang turun hujan seperti ini?

Aku ingat, kamu menarik tangan ku, mengajakku menikmati hujan dan bermain bersamanya. Aku sempat khawatir kalau-kalau nanti sakit, tapi entah mengapa dengan bersama dirimu rasa khawatir ku hilang. Rasa kebebasan menjalari tubuhku saat air hujan menerpa tubuhku. Aku bahkan tak peduli jika saat pulang nanti dimarahi ibu. Dan paling menariknya, entah mengapa aku selalu menyukai memandang saat air hujan membasahi rambutmu. Buatku, kamu terlihat lebih keren. Upss, tapi itu jujur dari hatiku.

Waktu itu juga kamu pernah melakukan hal yang sama seperti yang saat ini sedang aku lakukan. Menggambar-gambar apa saja bahkan yang tidak jelas menurutku pun kamu lakukan. Kamu pintar membuatku terhibur dengan semua tingkah lakumu. Dan kamu selalu menyempatkan menggambar bintang dan menuliskan namaku di kaca jendela berkabut itu. Ya, kamu juga tahu bahwa aku sangat menyukai bintang dan kamu pandai menggambarkannya untukku. Ah, terus saja aku mengenangmu. Apa kabarmu di sana?

Hujan sepertinya mau mereda. Atau hanya berhenti sementara? Seperti waktu itu, ketika kita berpikir bahwa hujan sudah reda dan bergegas untuk pulang ke rumah. Tetapi ternyata, dia hanya menipu kita. Ditengah jalan, dia menurunkan pasukannya lebih banyak lagi. Awalnya aku ingin mengeluh, tapi lagi-lagi kamu tersenyum, seakan-akan kamu sangat membela sesuatu yang bernama hujan. Tak pernah mau menggerutu, kesal, atau bahkan marah dengan kehadirannya yang mendadak. Lagi-lagi kamu menarik tanganku, mengajakku berlari menerobos hujan dan sekali lagi aku melihatmu menikmatinya. Ada apa gerangan kamu sangat menyukai hujan seperti itu? Apa sama seperti aku?

Aku belajar banyak darimu, kata ibu, turunnya hujan itu adalah rahmat dari Tuhan. Sudah sebaiknya kita mensyukuri setiap kali hujan turun. Lagipula bukankah salah satu waktu terbaik untuk berdoa kepada Tuhan adalah saat turunnya hujan? Sepertinya kamu selalu bersyukur dengan turunnya hujan.

“ Karena setelah hujan, pasti ada pelangi. Biarpun terlihatnya hanya tipiiiiiisss saja.” Setidaknya aku selalu mengingat kata-katamu itu. Ya, seakan-akan kamu ingin memberikan tahu kepadaku bahwa akan ada yang lebih indah lagi setelah ini. Ah, kamu memang selalu memberikan aura semangat kepadaku. Lagi-lagi rasa rindu ini muncul untukmu.

Benar. Hujan kali ini benar-benar berhenti. Aku bergegas keluar dari kamarku menuju balkon dan mencari pelangi. Sejenak aku menghirup bau hujan dalam-dalam dan menikmati kesejukan hawa nya. Aku ingin seperti kamu, menikmati apapun itu dengan bahagia. Ku pejamkan mata, menenangkan diri, tapi entah mengapa rasanya aku merindukanmu. Rasa rindu ini tak terbendung lagi. Aku menatap langit, mencoba terus mengedarkan keselilingku mencari bayangan pelangi.

“Kok ga ada?”

“ Pasti ada. Ayo naik ke lantai paling atas gedung sekolah.”

Ya, aku belum mencoba mencarinya diatas atap rumahku. Aku menaiki tangga ulir dekat balkon kamarku yang langsung menuju ke atap rumahku. Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru mencoba terus mencari, walaupun tipis sekali.

Aku menemukannya. Ya, aku menemukannya. Entah mengapa, air mata ini tiba-tiba turun. Ya, tidak hanya merindukannya, aku juga bersyukur masih bisa merasakan nikmat Tuhan sama seperti yang selalu dia lakukan ketika hujan mempertemukan aku dengannya,

***

Yogyakarta, 3 November 2011 Pukul 16.40

Hujan lagi. Saya baru selesai kuliah dan bergegas pulang ke kostan tapi ditengah jalan menuju tempat parkir, hujan mulai turun. Ah, saya selalu menyukai hujan meski waktu hadirnya pun kadang tidak tepat. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat untuk berteduh. Mengapa harus takut? Mengapa harus khawatir terkena hujan? Karena nanti pakaiannya akan basah? Atau takut sakit?

Waktu saya kecil, bunda tidak pernah memarahi saya untuk bermain hujan-hujanan. Kata bunda, biar saya bisa merasakan bagaimana hujan itu, biar ada pengalaman. Hujan itu kan tandanya tuhan menurunkan rezeki yang berlimpah ke dunia. Saya menatap langit. Ah, lagi-lagi selalu saja begitu. Kalau hujan turun, pikiran ini selalu muncul tentang dia. Langit terlihat begitu mendung, apakah hujan kali ini turun dengan derasnya?

Saya menjulurkan tangan dan membiarkan air hujan menerpa kulit tangan ini. Saya bolak-balikan telapak tangan sambil tersenyum. Ah, begitu dinginnya air hujan ini. Saya hirup bau air hujan yang membasahi tanah kuat-kuat, mencoba menikmatinya. Terlihat mulai banyak orang yang menggerutu karena hujan tak kunjung berhenti. Saya seperti ingin mengajaknya turut merasakan bahwa hujan tak perlu dipersulitkan. Rasakan dan nikmati saja.

Udara mulai terasa dingin, dan saya lebih merapatkan jaket yang sedang dikenakan. Sedang apa dia disana? Apa dia masih mengingat saya? Apa di Jakarta juga sedang hujan? Banyak kenangan saya dengannya tercipta lewat hujan. Saya suka memandang wajahnya yang berseri setiap kali melihat langit sedang menurunkan hujan. Sepertinya ada rasa kagum terpancar diwajahnya membuat saya juga ikut tersenyum mengikuti tingkahnya. Pernah suatu waktu saat hujan turun, saya tarik tangannya berlari menerobos hujan. Awalnya saya tahu, dia takut. Takut basah dan sakit sepertinya. Seperti asumsi orang-orang biasanya. Tapi akhirnya saya melihatnya. Wajahnya bahagia, saya yakin dia sedang merasakan yang namanya kebebasan.

Ah, lagi-lagi saya mengingatnya. Dia memang sulit untuk dilupakan. Saya dan dia dulu sekelas dan.. saya menyukainya. Hanya saja sampai sekarang dengan posisi yang tidak lagi dekat, saya belum sempat menyatakan perasaan saya. Saya tahu, mungkin saya bisa dibilang sebagai laki-laki pengecut. Kalah sebelum berusaha. Dulu bagi saya, dengan selalu bersamanya itu sudah cukup membahagiakan. Saling belajar dan mengajari tentang makna kehidupan lewat alam, lewat kejadian-kejadian yang muncul tanpa kita sangka-sangka, tapi saya sadar, itu salah. Saya kalah.

Tidak. Bunda mengajarkan saya untuk menjadi seorang pemenang. Selalu belajar dari kesalahan dan mencoba memperbaikinya agar kesalahan tersebut tidak akan terulang lagi. Tapi, apa masih ada waktu untuk saya? Terasa hujan mulai reda, namun saya sangsi. Jangan-jangan seperti waktu itu, ketika saya dan dia merasa hujan sudah mulai reda dan bersama-sama bergegas pulang ke rumah. Ternyata di tengah jalan hujan turun kembali dengan derasnya. Hujan memang senang memberikan waktu kami bersama-sama. Kami sepakat untuk menerjang hujan dan menikmatinya tanpa peduli dengan sakit dan apapun itu.

Saya melihat orang-orang mulai bergegas pulang. Angkutan umum mulai berseliweran dan banyak orang yang berteduh kini berperan sebagai penumpang. Saya sejenak terpaku, melihat seorang anak kecil asyik menuliskan namanya di kaca jendela angkutan umum yang berkabut karena hujan. Lagi-lagi saya ingat, saya senang melakukan hal yang sama untuk nya. Saya selalu membuatkannya gambar dan gambar favoritnya adalah bintang. Ya, dia memang penyuka bintang, dari aksesoris sampai bintang sungguhan yang ada dilangitpun dia menyukainya.

Saya sayang padanya.

Setidaknya itu yang selalu saya tekankan dalam hati saya. Dia memang masih di Jakarta, tapi toh saya di sini hanya sekedar untuk kuliah. Hanya? Mampukah saya. Jelas mampu jika saya juga bisa mengatakan yang sebenarnya, karena sampai saat ini perasaan saya belum sedikitpun pudar. Apa yang sedang dia lakukan disana? Masih penuh semangatkah dia?

Hujan sepertinya memang sudah reda, tapi saya tak mau teburu-buru untuk pulang ke kostan. Masih ada hal yang saya tunggu-tunggu untuk saya lihat. Pelangi. Saya juga sangat suka saat lengkungan pelangi mulai menampakan dirinya. Seakan-akan diibaratkan setelah air mata akan ada harapan indah sesudahnya. Saya melemparkan pandangan kesekeliling kampus, mungkin tertutup gedung yang membuat saya tak dapat menemukannya. Tapi saya yakin, pelangi itu pasti ada, sekalipun dia hadir dengan malu-malu. Seperti waktu dulu, saya mengajaknya ke gedung paling atas agar benar-benar dapat menemukan pelangi bersamanya.

Saya coba menuju gedung paling atas. Berlebihankah saya? Mungkin menurut orang lain begitu. Tapi entah mengapa rasa rindu ini mengalahkan semuanya. Tuhan, mengapa ini baru benar-benar saya rasakan saat ini? Saya mengedarkan pandangan ke segala pejuru, dan saya menemukannya. Saya menemukannya tepat disebelah kiri saya. Jelas, pelangi itu terlihat jelas tidak malu-malu menunjukkan dirinya pada saya. Saya ingin sekali lagi melihat pelangi bersamanya, kalau memang saya bukan yang terbaik untuknya menurut Tuhan.

Saya pejamkan mata, merasakan ketenangan jiwa dan melafadzhkan harapan tadi dalam hati. Berharap saya masih punya harapan, tapi…

Saya menitikkan air mata. Ah, betapa lemahnya laki-laki seperti saya. Betapa lemahnya menahan rindu yang amat kuat saat ini sekaligus mesnyukuri bahwa saya masih diberikan kesempatan melihat mahakarya Tuhan yang luar biasa ini. Saya masih punya kesempatankah? Ada dua orang yang tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya, yaitu orang-orang yang berpikir tapi tidak bertindak dan orang-orang yang bertindak tetapi tidak berpikir. Dan saya tidak mau menjadi salah satunya.

Saya keluarkan handphone dan mencari kontak namanya disana. Saya yakin, nomor ini masih dapat saya hubungi, dan..

“Andra?”

“Rena..” ada jeda sejenak dan saya kumpulkan kekuatan sebanyak mungkin dengan waktu yang sesingkat itu.

“ Apa kabar? Saya sedang melihat pelangi di Yogyakarta. Mungkin lebih baik….”

“Aku juga. Indah sekali..”

Ya, saya harus mencobanya, semampu saya. Seperti hujan, setelahnya pasti ada pelangi. Semoga begitu.

Senin, 14 Mei 2012

Satu, Dua, Tiga. Aku Rindu Padamu - 2

Hari ini hujan lagi.
Kalau kamu disini, kamu pasti sangat menyukainya. Saat ini, aku sedang tidak ada kerjaan, bingung, lantas mengikuti saja kemana kaki ini melangkah, ketika hujan bersiap turun. Dan tibalah aku disalah satu tempat kumpul favorit mahasiswa-mahasiswa di daerah ini, tempat dimana mereka bebas menggunakan fasilitas wi-fi, dan meminjam buku yang mereka mau. Lumayan. Aku juga jadi bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas ini semauku, sambil menunggu hujan reda. Aku juga memesan minuman kesukaanku. Cappucino hangat. Kamu juga suka, kan? Kamu ingat, kan?

Tempat ini asyik, banyak mahasiswa-mahasiswa ataupun orang-orang sekitar sini. Tidak hanya untuk meminjam buku, bahkan sekedar memesan segelas minuman sambil berbincang-bincang dengan topik ngalor-ngidul pun ada. Pengunjung juga disuguhkan dengan lagu-lagu easy listening, nyaman, dan manis. Tak memunafikkan pula kalau aku mempredikatkan tempat ini sebagai tempat terfavoritku disini.

Hujan disini cukup deras. Aku hanya tersenyum melihat orang-orang sibuk menggerutu ketika pakaian mereka basah terkena air hujan, melihat wipper mobil-mobil bergerak ke kanan-ke kiri, bocah-bocah dalam angkutan umum usil menggambar kaca jendela mobil yang berembun.

Aku jadi ingin mengikutinya. Sambil menunggu pesanan capuccino hangat ku tiba.

Kamu suka menggambar bintang. Tapi aku selalu gagal menggambarnya sebaik kamu. Jadi, aku menggambar versi anak TK saja, ya? Oh ya, kamu juga suka menggambar spiral-spiral yang terbentuk menjadi lingkaran. Ah, ini juga sulit. Kurasa IQ mu memang tinggi sekali melampaui aku.

Apa kabarmu?

Pesananku akhirnya datang. Hangat. Cappucino disini juga enak. Kamu juga pasti suka kalau merasakannya. Bertepatan dengan aku menikmati minuman ini, temanku mengirimkan pesan lewat aplikasi messager yang ku punya. Tumben sekali serasa ada info yang penting.
Mungkin tentang bola.
Atau tentang F1 dan olahraga-olahraga lainnya.
Atau mungkin tentang cerita-cerita kuliahnya.

"cek link ini.. http://aisnjxxxxx.xxx/rthangsxxx15vag. Keren. Suaranya makin keren aja dia."

Dia siapa?
Lantas kubalas, "dia siapa"

Pesan balasan segera tiba. "Pokoknya cek aja".

Baiklah. Berhubung aku sedang tidak ada kerjaan pula, kubuka laptopku dan segera memanfaatkan fasilitas wi-fi yang oke punyadi tempat ini. Kubuka link yang diberikan temanku.

Video.
Semoga bukan yang aneh-aneh. Tapi temanku juga orang baik-baik kok.

Hatiku sekian detik tersentak.
Kamu. Dan beberapa teman-temanmu.
Dengan gitar. Menyanyi.
Hanya kamu yang menyanyi dan mereka yang mengiringi.
Aku mendengarnya. Sempurna. Lagu yang indah. Benar kata temanku, suaramu memang tetap indah kalau menyanyi.

"gin haruui kkeuteseo kkeonaeboneun
nae maeumsoge kkok sumgyeodun iyagi

meon hutnal eonjenganeun dorabomyeo
eoryeomputan gieoge nan useumjitgetji

bomnare hyanggiga ttatteutan barami
geudae derigo wa nae yeopeuro antne

saranghaneun sarama nareul gieok motaedo
na honjaman baraeon motnan sarangiraedo

ijeya honjatmal manhi johahaetdago
babo gateun najiman cham saranghaetdago


geunare geudaereul baraeon naldeureun
yeogi nae maeumsoge noraega doeeo

saranghaneun sarama nareul gieok
motaedo na honjaman baraeon motnan sarangiraedo

ijeya honjatmal manhi johahaetdago
babo gateun najiman cham saranghaetdago

nae kkumgateun sarama gieokhaji
anhado barami i bomnari neol jakku deryeowa

hana dulssik kyeojineun uri chueogeul ije
eoneudeot nae soneuro kkeoyaman hajiman

hanassik tto hanassik ijeogagireur"
Ku replay sekali lagi, dua kali, tiga kali.

Aku langsung tertarik dengan lagu yang kamu nyanyikan. Aku cek judul lagunya. Lagunya dengan bahasa korea. Ah, menjamur sekali lagu-lagu negara itu. Tapi penasaranku membuatku ingin tahu apa lirik dan beserta artinya. Boleh sekalian ku download lagunya dan sambil menunggu, tak bosan-bosannya aku mengulang lagunya.
Unik. Manis. Sederhana.
Lagu pilihanmu memang selalu begitu.

Ku lihat lirik dan terjemahannya. Sambil mengulang lagu itu lagi dari awal.

"Setelah penantian yang panjang
Akhirnya ku ungkapkan sebuah cerita yang selama ini selalu tersimpan dalam hati

Suatu saat nanti
Dengan kenangan yang mulai menghilang, aku akan tersenyum mengingat masa lalu

Dalam aroma musim semi
Angin yang hangat akan membawamu duduk bersamaku

Wahai orang yang ku cinta
Walaupun kau tidak bisa untuk selalu mengingatnya, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena terus mencintaimu

Saat ini aku kesal karena aku sangat menyukaimu
Walaupun cinta ini tampak begitu bodoh. Aku sangat mencintaimu

Hari itu, hari-hari yang aku lalui bersamamu
Berubah menjadi alunan melodi dalam hatiku

Wahai orang yang ku cinta
Walaupun kau tidak bisa untuk selalu mengingatnya, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena terus mencintaimu

Saat ini aku kesal karena aku sangat menyukaimu
Walaupun cinta ini tampak begitu bodoh. Aku sangat mencintaimu

Untuk seseorang yang selalu ku impikan
Walaupun kau tidak bisa mengingatnya, angin di musim semi akan membawamu kembali

Kenangan kita begitu indah saat itu
Sekarang aku sendiri yang harus menghapusnya

Aku berharap perlahan-lahan bisa melupakan semua itu"

Tidak.
Kamu tidak seperti itu, kan?
Kamu tidak akan menyerah, kan?
Tolong tunggu aku, sampai batas waktu yang ditetapkan olehNya tiba. Sampai aku siap mempertanggungjawabkan perasaan ini, bukan sekedar menjadikannya suatu permainan untukmu.
Kamu masih berusaha dengan cara yang terbaik, kan? Aku juga. Percayalah.
Maafkan aku.
Aku rindu padamu.
Sungguh.

Aku ingin menyampaikannya kali ini. Ku pejamkan mata, mencoba rilekskan hati.
Hitung sampai tiga.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku rindu padamu.
Semoga hujan ini mengantarkan pesanku padamu.

***

"Mbak, boleh minta tolong?" Aku memanggil salah satu pelayan tempat ini.
"Bisa request lagu? Saya punya lagu di Flash Disk saya, tolong puterin ya."
Mbak-mbak pelayan itu menerima Flash Disk punyaku, dan tak sampai lima menit kemudia datang mengembalikannya padaku.
Aku mengucapkan terima kasih padanya. Dan lagu versi asli dari cover song yang kamu nyanyikan mulai terdengar di tempat ini.

***

Hujan sudah reda. Bergegas aku membayar minumanku dan hendak pulang. Saat berjalan keluar tempat ini, tak sengaja aku mendengar orang yang sedang membayar di kasir setelahku bertanya, "Mbak. Lagu korea yang tadi diputar itu lagunya siapa ya?". "Iya mbak. Siapa yang nyanyi? Judulnya apa?"
Berebut saling bertanya.

Aku tersenyum.
Ah. Sihirmu memang ampuh. Orang-orang banyak menyukai lagu pilihanmu. Termasuk aku.

Aku ingin menyampaikannya kali ini. Ku pejamkan mata, mencoba rilekskan hati.
Hitung sampai tiga.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku rindu padamu.

***

[Thank you. This song is sung by Lee Hae Ri from Davichi, Original Soundtrack of K-Drama Posseidon. Enjoy it. Happy Downloading]