Selasa, 03 Februari 2015

Catatan Senja - 1

Hei, aku tahu saat ini kamu sedang menuju dibatas keputusasaan atas berbagai pengharapan. Aku juga pernah begitu. Semua orang pun juga pernah begitu. Bisa jadi saat ini dirimu sedang terus meratap nasib yang tak kunjung baik. harapan yang tak kunjung terealisasikan, bahkan bisa jadi saat ini ada sedikit celah dalam hatimu untuk berteriak "betapa teganya Allah padaku. Sampai kapan lagi aku harus mengharap?".

Hei. Aku pun pernah khilaf seperti itu, tapi aku harap, aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi dan semoga bagimu juga tidak. Ah, tenang. Aku pun terkadang masih sama denganmu. Masih suka mengeluh, masih suka kufur. Sssst, bila berkenan, mari kuajak dirimu supaya kita sama-sama mengetahui, supaya kita sama-sama mengingat untuk kedepannya betapa cintanya Dia pada hambaNya. Kamu, aku, dan siapapun yang menempatkan diriNya dalam hati.

Allah didn't give up on you. You give up on your self - Nouman Ali Khan

Ah. Begitulah manusia, bukan? Ketika kita punya suatu pengharapan, lantas gagal, pikiran seakan-akan mengatakan kita sudah kalah. Kita nggak akan mampu mendapatkannya lagi. Lantas, membatu, mengeras tanpa kita sadari. Jika saat ini kamu sedang dalam kondisi ini, kita sama. Aku juga pernah begitu dan mungkin apabila iman sedang turun tidak terpungkiri akan seperti itu lagi. Karena itulah aku ingin mengingatkan agar suatu saat nanti jika aku khilaf, aku akan diingatkan olehmu.

Hei, karena sesungguhnya yang menyerah adalah diri kita sendiri. Karena yang berkata "lelah" adalah diri kita sendiri, tanpa disadari. Apakah saat Dia berikan kita kegagalan artinya dia tidak percaya bahwa kita mampu? Apakah pada saat engkau bersedih hati karena gagal, Dia bersenang hati atas kesedihanmu?

Sekalipun tidak. Percayalah. Semoga aku juga akan selalu mengingat ini. Dia yang mengetahui dirimu lebih dari apa yang dirimu ketahui sendiri.

Sometimes Allah tests you twice because you failed the first time and He wants you to pass

Sini kuberitahu. Terkadang Dia ingin melihat kamu berusaha jauh lebih keras lagi. Bukan. Sekali lagi bukan karena tidak percaya denganmu. Dia ingin kamu tahu, bahwa apa yang kamu harapkan adalah hanya untukNya semata yang paling utama. Biarlah jika untuk kepentingan pribadimu di dunia adalah alasan setelahnya dan apabila Dia kabulkan itu adalah "bonus" dariNya.

Mungkin kamu gagal saat ini, Dia ingin tahu apakah kamu akan lantas berputus asa begitu saja? Bisa jadi engkau menyerah padahal sesungguhnya jika dirimu mau berusaha sekali lagi, Dia tunjukkan padamu apa yang kamu butuhkan sesuai harapanmu. Ah iya, aku juga pernah begitu dan aku menyesal karena putus asa terlalu awal.

Karena tidak ada lelah untuk yang Lillah

Percayalah, apapun yang dikerjakan karena Allah tidak akan pernah terasa lelah bagimu. Sekalipun engkau gagal melakukannya, dirimu akan percaya suatu saat pasti akan temui keberhasilan dari usahamu selama ini. Dirimu tahu bahwa segala rasa lelah ini tidak akan ada artinya jika suatu saat nanti Dia berikan apa yang dirimu butuhkan.

Keep praying for what it is you seek. Impossibility and possibility are merely concept of your mind, to Allah nothing is Impossible.

Tentunya. Konsep mungkin dan tidak mungkin adalah dari diri manusia sendiri. Terkadang kita terpaku pada pemikiran "Mungkin, Allah gagalkan aku karena memang ini hal yang mustahil buat aku dapatkan". Semisalnya, mengharapkan bisa bekerja ditempat yang kamu inginkan sedangkan nilaimu pas-pasan. Orang-orang yang bekerja disana adalah orang-orang terpilih dengan kemampuan dan pengalaman yang luar biasa, orang-orang yang bagimu sempurna dari segi apapun.

Hei, aku juga pernah begitu. Lantas minder di awal, aku tahu aku nggak ada apa-apanya, aku tahu orang-orang diluar sana jauh lebih hebat daripada aku. Dan? Aku gagal. Aku tahu itu. Aku paham, mungkin Allah melihatku telah menyerah lebih dahulu karena diriku sendiri. Karena kata-kata ketidakmungkinan yang ada di otak aku.

Lantas menyesalkah aku? Tentu. Hei, setelah itu aku ingat, bukankah Dia yang mampu mengubah apapun bahkan yang mustahil sekalipun bagi kita? Bukankah ketika dia berikan ketetapan pada hambaNya, jadilah maka jadilah ia? Ah kawan, sadarkah bahwa pada saat itu kita justru takut pada diri sendiri? Justru kita telah kalah pada diri sendiri?

"...dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah (2) : 232)

Hei, pernahkah kamu berpikir suatu hal ketika kamu meminta suatu hal namun Dia berikan yang tidak sesuai dengan pengharapanmu? Pernahkah terpikirkan mungkin Dia berikan kegagalan padamu karena itu bisa jadi hanya kamu pikir baik untukmu padahal bagiNya mungkin tidak?

Terkadang kita punya impian sebanyak mungkin, berharap segala macam, tapi itulah kawan. Jika harapan tidak disertai karena Allah yang ada hanyalah penyesalan ketika tidak terjadi dalam hidup. Padahal bukankah sebanyak apapun harapan kita, penentu ada ditanganNya? Harapan yang kita inginkan pastilah yang menurut kita baik, tapi bagiNya mungkin saja ada yang jauh lebih baik buat kita dan itu bukan sesuai apa yang kita harapkan. Dia maha mengetahui, sedangkan kita tidak.

"Oh Allah, when I lose my hopes and plans, help me remember that Your love for me is greater than my disappointments, and Your Plan for me are better than my dreams" (Ali bin Abi Thalib r.a)

Ketika engkau mengeluh saat ini, meratap menyalahkanNya tidak memberikan apa yang kamu inginkan, menangislah. Dirimu bukan siapa-siapa. Dirimu hanyalah peminta-minta dariNya. Dirimu tidak lebih dari seonggok daging yang hina dan tidak tahu apa-apa sedangkan Dia jauh lebih mengetahui dirimu bahkan masa depanmu sekalipun.

Maka pantaskah kita berkeluh kesah, kawan? Dia pasti akan berikan yang jauh lebih baik dari yang kamu bayangkan. Dia akan berikan apa yang pasti kamu butuhkan. Karena kita sering lupa, bahwa apa yang kita harapkan lebih sering adalah apa yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Mungkin juga bukan sekarang, mungkin nanti bisa jadi. Jadi, masihkah kamu berputus asa dan berhenti berdoa mengharap yang terbaik padaNya?

A thousand times I have failed, but still your mercy remains. Thank you, Allah.

Hei, dirimu masih diberikan nikmat bisa menghirup udara hari ini, sehat, bangun tidur dari nyenyaknya lelap, perut terisi, ah, mungkin kamu gagal dalam suatu hal yang kamu harapkan, tapi tidakkah kamu sadar, Dia masih berikan berkahNya yang lain untukmu? Padahal mungkin sebelum tertidur, kamu sempatkan sedikit mengeluh akan tidak adilnya Dia, tapi Ia bangunkan dirimu dengan keadaan utuh seperti sebelumnya tanpa kekurangan sedikitpun, kawan, maka nikmatNya yang mana lagi kah yang pantas kamu dustakan?

Jika harapanmu belum terlaksanakan saat ini, lihatlah dirimu, hidupmu. Satu harapan yang belum dirimu dapatkan itu jauh masih sedikit dari harapan-harapan yang dirimu tuturkan padaNya lewat doa-doamu selama dirimu hidup lantas Ia kabulkan. Bisakah dirimu menghitungnya? Aku yakin tidak.

Hei, aku juga ingin menangis saat ini. Kamu lihat bukan? He loves us more than we know. Maka pantaskah kita bersombong diri untuk mengatakan betapa teganya Dia, menyerah atas segala pengharapan yang belum terkabulkan, dan alpa untuk menyempatkan diri bersyukur padaNya atas apa yang Dia berikan? Hari ini.
Aku harap tidak.
Semoga.

Sabtu, 31 Januari 2015

Islamic Calligraphy - 1 - Q.S An-Najm (53) : 39



This Islamic Calligraphy made by me on November 2nd 2012.

***

Mukkadimah

Gaya ya?
Baiklah.
Jadi begini. Gini-gini, saya suka banget bikin kaligrafi. Okelah nggak se-handal para pembuat kaligrafi yang sudah terkenal, atau dengan teknik tertentu. Jadi kalaupun semisalnya ditanya, "Del, ini kaligrafi jenis apa?" Sumpah saya nggak bakal tau jawabannya apa.

Saya buat dengan teknik naluri sendiri.

Sebentar-sebentar. Biar saya ceritakan.

Saya belajar kaligrafi nggak lewat lembaga-lembaga tertentu. Makanya maklumkan saja. Saya cuma belajar kaligrafi semasa saya ikut TPA waktu SD, Iya, cuma TPA doang. Berkat guru ngaji saya yang oke banget bikin kaligrafi hanya dengan modal dua pensil, saya langsung jatuh cinta.
Sama kaligrafinya. Bukan guru ngajinya.
Mohon fokus.
Hahaha.

Sederhana, tapi bikin saya punya keinginan untuk bisa buat kaligrafi seindah itu.

Saya latihan bikin kaligrafi dengan dua pensil yang diikat pakai karet gelang. Guru ngaji saya sih yang ngajarin. Katanya biar pensilnya erat dan nggak goyang-goyang pas mau bikin sketsa kaligrafinya.
Dari tulisan Allah dan Muhammad doang, hingga Bismillah, Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, yaaa kalimat-kalimat sederhana.
Sampai akhirnya saya berhasil mendapat nilai sempurna (terus) (alhamdulillah) di rapor TPA saya untuk mata pelajaran Kaligrafi dan Sirah Nabawiyah dan nilai nggak enak di Fiqih. AHAHAHA.
Ketauan banget ya buka aib banget.

Dan saya sesungguhnya nggak berani tapi diberani-beraniin untuk ikut lomba sana-sini di bidang ini.

Juara? Iya. Alhamdulillah. Kadang satu, dua, seringnya sih gitu.
Hebat? Nggak. Sayangnya keberanian saya sebatas lomba lokal doang sih. Jadi nggak usah bilang hebat. Sumpah. Saya juga nyadar diri, ada banyak orang yang jauh leih hebat buat kaligrafi. Belajar bahkan mendetail dengan teknik-tekniknya. Sedangkan saya apaan?

Itulah saya tekankan, karena saya cuma menyukai dunia ini untuk hobi saya sendiri.

Cuma untuk pribadi? Saya jelaskan.
Obsesi saya, katakanlah begitu, tapi sepertinya kurang baik dibilang obsesi, oke, cita-cita saya, saya ingin banget menuhin "rumah" saya nanti dengan kaligrafi buatan saya sendiri. Kalau diizinkan Allah bisa dikasih hidup sampai punya keluarga nanti.
Saya mau rumah saya dijaga sama ayat-ayat yang saya gambarkan, of course, sebagai doa juga.

Itu pertama. Dan satu hal yang yaaah entah kalian mungkin mengiranya, "Alah, sepik amat alasannya", but this is true. Ini seriusan.

Hadist pertama yang saya hafal waktu TPA, adalah yang dari Abdullah bin Amr r.a, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً , "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat", Hadist Riwayat Bukhari.
Setelahnya mungkin yang paling ngelotok di otak adalah "Al-Jannatu Tahta Aqdamil Ummahat" dan "Khairukum man ta 'allamal Qur-'aana wa 'allamah".
Sorrii. Saya cuma dapat nilai biasa-biasa aja di Mata Pelajaran Hadist waktu TPA.

Oke fokus.

Iya. Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Emang sih nggak boleh asal-asalan juga untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an atau Hadist Rasulullah, toh saya juga bukan pendakwah, ilmu saya juga cetek banget kayak banjir yang cuma gara-gara got meluap, tapi itulah. Saya mau menyampaikan ayat-ayat Allah via kaligrafi saya yang juga alakadarnya, dan let's learn together.
Iya. Mari kita sama-sama belajar. Bukan cuma kalian aja, saya juga belajar atas apa yang telah saya gambarkan.
Saya berharap itu bisa jadi doa untuk siapapun yang melihat, berharap bisa belajar dari arti dan makna ayat nya, tentunya saya pribadi juga.
Semoga amal baik kita semua diterima Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.

Mohon maaf juga apabila semisalnya ada yang kurang baik dari kaligrafi buatan saya dan mohon koreksinya. Dan apabila sekali lagi kalau ditanya ini kaligrafi jenis apa? Saya nggak tahu. Naluriah buatnya. Karena saya juga saat membuat kaligrafi dan mencoba untuk berani share, niat saya bukan ingin kalian mengomentari dari segi keindahannya, Ah, Itu jauuuh banget. Bahkan bisa jadi mungkin kalau ada yang komentar jahat semisal, "Ih itu ga sesuai banget sama jenis teknik apapun. Nggak boleh!" Ah ya, saya tahu kok, saya memang nggak ada apa-apanya.

Makanya niat saya bukan itu apalagi komersil-in. Haduh, nggak tertarik juga kaligrafi kayak begini mah atuh kalah saingan. Niat saya supaya kita (saya dan kalian yang melihatnya) mencoba terus belajar dan memaknai ayatnya, tambah lagi, sebagai pengingat yang baik.
Just it.

Semoga setiap niat kita diberkahi Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.

***

Q.S An-Najm (53) : 39

Latin nya begini, "Wa allaisa lil insaani illaa maa sa'aa". CMIIW dalam penulisan latin ya.
Alasannya saya buat ayat ini adalah, saya suka banget surat An-Najm. Dari SMP. Sukanya kenapa? Hmm, saya nangis waktu baca surat ini beserta artinya.
Mungkin ada banyak surat dimana kita atau saya pribadi bisa ambil hikmah sebagai penyemangat, renungan, pengingat, bahkan sampai membuat nangis (saya emang cengeng, saya akuin itu) diri kita sendiri.
Banyak.

Tapi pada saat yang tepat, dimana saya lagi betul-betul lemah iman (katakanlah begitu), putus asa karena suatu hal waktu itu karena masalah Ujian Nasional kalau nggak salah, saya kayak ditampar waktu itu via surat ini.

Kurang lebihnya, bisa dicek Al-Qur'an kalian wabilkhusus ayat 38-48.
No. Jangan salah paham dulu. Saya belum punya ilmu mengenai tafsir ya. Saya nggak berani menafsirkan segala ayat, secara belum punya ilmunya. Jadi alasan saya betul-betul kayak "ditampar" adalah saat membaca ARTI ayat tersebut via Al-Qur'an terjemahan.

"(yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadaNya),
kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,
dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu),
dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,
dari mani, apabila dipancarkan,
dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan."

Tiga hal saya ngerasa kayak ditampar.
Pertama, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya dan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna. Kedua, dalam hidup, manis atau pahit, itulah cara Dia memperkenalkan diriNya kepada kita. Dia jadikan orang tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, menciptakan laki-laki dan perempuan, serta kekayaan dan kecukupan. Ada yang anehkah? Iya. Semua lawan kata, tapi Allah memberikan kekayaan dan kecukupan, bukan kemiskinan.
Ketiga, apapun niat kita, ya, utamakan karena Allah. Belajar, kerja, bahkan bantu orang lain, karena Allah. Bukan ngejar nilai, ngejar materi, ngejar dibilang baik, tapi karena Dia. Bukankah karena kepada Dialah kesudahannya atas segala sesuatu?

Ditambah setelah ayat selanjutnya ayat ke 55 dan 62. "Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?" dan "Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".

Dan ayat yang saya ambil adalah ayat 39, "dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
Saya cuma ingin itu jadi pengingat saya dan bisa jadi juga untuk kalian, semisal ketika saya lagi malas atau saya lagi menuju putus asa, bahwa, iya, kita cuma akan memperoleh sesuai apa yang telah kita usahakan.

Usaha?
Dengan urgensi usaha adalah "bahan" yang diperlukan untuk memenuhi syarat mendapatkan pertolongan Allah. "Bahan" bahwa kita menunjukkan padanya bahwa kita bersungguh-sungguh mengharap harapan kita bisa terealisasikan. "Bahan" agar kelak Dia memperlihatkan atas kesuksesan kita juga.

Iya.
Cuma itu.
Semoga itu bisa jadi pengingat kita semua.

Sekian.

Sabtu, 13 Desember 2014

Rendezvous : Carpe Diem - 1

Carpe Diem - 1
Kamu, percayakah bahwa cinta bermula dan kembali pada tempat yang sama?

(Aku, 18 Agustus 2015 : 05.10)

"Kamu nggak tahu salah kamu apa?"
"Nggak, sumpah. Aku nggak tahu."
"Pikir aja sendiri. Intinya, aku nggak mau lanjutin apapun sama kamu."
Mataku mulai berkaca-kaca. Telapak tangan juga mulai mendingin.
"Kamu...Seriusan?"
"Iya. Ngapain aku bercanda?"
Tidak ada nada baik sedikitpun dalam ucapannya. Sungguh. Rasanya... sesak.
"Kamu kenapa bisa jadi gini? Aku minta maaf kalau ada salah."

Telepon terputus, kucoba menelpon ulang. Nomor tidak aktif. Kucoba telepon rumahnya, tidak ada yang angkat. Terus, terus, terus, berusaha mungkin saja yang kali ini berhasil diangkat. Aku tahu kali ini aku mulai menangis. Bahkan rasanya sudah putus asa. Tanganku gemetar, dingin, jantung juga sudah tidak karuan, dan pastinya sesak.

KRIIIIIIIIIIINGGGGG...

Aku terbangun dengan kedua mata terbuka lebar, napas tersengal-sengal, bajuku basah berkat keringat dan telapak tangan terasa dingin. Rasanya sesak. Kuliat disekililingku, ah, nyawa dan diriku sesungguhnya sedang ada di dalam kamarku sendiri. Dan sudah pasti ini mimpi.


Iya. Sudah lebih dari tiga kali aku bermimpi hal yang sama, lagi-lagi, dan terbangun dengan keadaan yang sama seakan-akan aku kelelahan berlari 1000 meter. Kuraba pipiku, ah, memang ada bekas air mata, dan bukan sekali dua kali ketika aku bermimpi dengan adegan aku menangis, aku terbangun dan mendapati kedua pipiku pun basah dengan air mata.

Tuhan, aku bangun terlambat lagi. Setiap kali aku bermimpi yang sama, aku selalu ketakutan.
Sungguh aku ketakutan.

***

(06.10)

Ya. Siapapun pasti pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, tapi aku rasa, jauh lebih menakjubkan ketika kita dicintai dibandingkan dengan mencintai seseorang. Tandanya ada orang yang mau menerima kamu dalam hidupnya. Ada orang yang butuh berjuang dengan gigih untuk mendapatkannya, atau hanya berusaha ala kadarnya, bahkan justru mendapatkannya tanpa harus bersusah payah.

Beruntung sekali yang dibagian terakhir itu.

Oke, biar kita setting seperti ini. Ketika yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, ya, mereka yang berusaha mati-matian akan jatuh lebih dalam dari siapapun. Sedangkan yang mungkin diberikan kemudahan di awal, akan bergabung dengan kerapuhan kebahagiaan mereka yang sedikit demi sedikit memudar. Sama-sama menyakitkan dan menyedihkan, hanya saja mungkin kadarnya berbeda.

Ah, itulah hidup. Biar bagaimanapun kebahagian berkawan baik dengan kesedihan. Hukum alam. Sama halnya dengan pertemuan bersahabat baik dengan perpisahan. Tapi sayangnya, aku berada di posisi dimana aku berusaha keras dan menghadapi perpisahan. Kalian pasti tahu akhirnya seperti apa.

Tatapan ku kosong menatap jendela kereta diantara sesaknya penumpang yang tidak tahu tata krama. Ah, bukankah diluar sana, seiring bergeraknya sebuah kereta, sekelilingnya berlalu dengan cepat. Semakin cepat kamu bergerak, semakin cepat berlalu. Bukankah aku harus begitu?

TRIIING.

Diikuti getaran, aku yakin HP ku menerima pesan masuk. Good. Pesan via salah satu aplikasi messenger masuk. Dari sahabatku yang luar biasa bawel dan ribetnya, sebut saja namanya Ve.

Gambar. Dia mengirimiku gambar.

(06:20)


Sial.
Kuketik sebagai balasan.
Ratusan (06:20)

Ve is typing...

So, lebih baikkah hari ini? (06:22)

Pastinya. Jauh lebih baik. Sangaaat baik. (06:24)

Really? Stop acting tough! Sometimes you have to cry to let go of the pain! Setidaknya gue yakin, badan lo saat ini nggak baik berkat kebrutalan ibu-ibu di gerbong cewek Commuter Line. Ngaku deh! (06:25)


Kalau itu maksud lo, you've got it. Haha. (06:26)

Emang gue ada maksud lain? (06:26)

Good. Aku kena jebakannya lagi. 

Lo bilang situasi di Commuter Line. Jelas lah gue ga dalam kondisi baik. (06:30)

Kalau bukan kondisi di kereta? Yakin baik? (06:31)

Aku menghela napas. Entah Ve itu betulan cenayang atau bagaimana, dia selalu tahu kondisi ku kalau ada "apa-apa". Dia mungkin tahu aku bermasalah sama mimpi tidurku semalam. Dan jelas itu buat kondisiku nggak baik sama sekali.

Gue ga tahu lo itu terbuat dari apa. Iya, gue bermasalah lagi sama mimpi. (06:35)

Bersyukurlah lo sama Tuhan. Memberikan gue sebagai teman yang tahu kapan lo nggak baik dan kapan lo baik. HE IS, RIGHT? GOD! STOP THINKING ABOUT HIM AGAIN. REZA GA BAIK BUAT LO! (06:40)

Gue ga mikirin tentang dia, hei. DIA YANG MUNCUL DI MIMPI GUE KAYAK HANTU! (06:45)


Setidaknya aku tidak munafik pada diri sendiri. Dia yang muncul lagi ke mimpiku.

Oke, whatever. AND, PLIS. Lo mau presentasi. HILANGKAN INGATAN LO TENTANG GIO GA TAU DIRI ITU SETIDAKNYA UNTUK BEBERAPA JAM KEDEPAN. Oke? (06:50)

Okeee. (06:51)

Baiklah. Aku juga berharap, message dari Ve cukup untuk pagi ini. Ya, presentasiku jauh lebih penting dari sekedar mempermasalahkan mimpifobia ku tentang Gio. Gio? Biar ku ceritakan nanti saja dia itu siapa.

Ah, kalau orang-orang lain sibuk bercerita berangkat kerja dengan mobil atau motor pribadinya, aku hanya dengan naik kendaraan umum pun sudah cukup bahagia. Maklumlah, ibarat kalau dikelompokkan, paling aku masuk ke kelas menengah pas ditengah-tengah. Lagi dikasih rezeki banyak, bisa agak menikmati hidup yaaa Alhamdulillah, sekalinya lagi seret dompet juga mau nggak mau harus mau.

Oh, ya. Namaku Bintang, biasa dipanggil Bi. Plis, nggak perlu ditambah lagi belakangnya dengan nama lain. Aku anak ke 3 dari 3 bersaudara. Lulusan jurusan Komunikasi, dan saat ini menjadi kuli di salah satu perusahaan penerbitan paling oke di negara ini.
Setidaknya versi aku pribadi.
Jangan tanya jabatanku apa. Secret makes a woman, woman. Setidaknya itu kata Vermouth, salah satu tokoh di manga Detektif Conan.
Baiklah.

Aku produk melankolis-pregmatis, ditambah pula introvert dengan kadar 70%. Haha. Itu takaran pribadi juga sih. Jadi kebayang lah ya, model aku seperti apa. Belum kebayang? Biar nanti kita sama-sama mengenal. Cieilah.
Kebayang kan, orang sebegininya punya sahabat yang luar biasa bocor macam Ve? Biar bagaimanapun, dia super duper tahan lho punya sahabat macam patung kayak aku ini.

Aku sangat, sangat suka musik. Dari kecil kalau orang tua lain sibuk sana-sini yang paksa anaknya les, aku justru yang maksa mereka untuk dikasih les. Tapi aku lebih tertarik les musik. Piano dan gitar ditambah nyanyi betul-betul jadi senjata aku untuk bisa dianggap oleh orang lain meskipun aku introvert dengan kadar 70% itu.
Dan beruntungnya, orang-orang banyak menganggap aku cerdas.
Setidaknya belum ada yang mengatakan aku tidak cerdas dengan sepenuh hati.

***

(10.45)

"Lo emang paling ciamiiik. Thanks yaaa." puji Arinta sambil menepuk pundakku sedikit kejam.
"Konsepnya sih yaaa, kurang lebih begitulah. Mudah-mudahan realisasinya bisa sebaik apa yang diharapkan," balasku.
"Yaaa, setidaknya manajer suka, Bi. Gue juga suka banget, banget, banget." kali ini si lebay Gilang yang berkomentar.
"Astaga! Gue lupa! Gue lupaaa. Tadi ada anak baru. Dan gue lupa, gue anggurin gitu aja apa gue oper ke siapa ya?"teriak Astrid.
"Ah elo, gimana sih? Lumutan kali tuh orang sekarang. Dimana lo taruh tadi?" Sandi ngomel. Biasa sih, kayaknya lebih ke statusnya sebagai "penentang Astrid dalam segala hal". Atau kata lainnya, sengaja banget nyindir si Astrid dalam bentuk apapun. Nggak kok, mereka nggak musuhan, kayaknya emang iseng satu sama lain.

"Di tarooo? Lo kira tuh anak kayak kolor lo yang ditaro sembarangan?" Gilang membalas Sandi. 
As an introvert woman, yaaa aku sih mendingan mengamati sambil cekikan. Astrid buru-buru menghilang keluar ruangan, mencoba mencari "barang titipannya". Belum sempat aku dan yang lain membantu mencari, dengan suara melengking khasnya dia menjerit.

"KETEMUUU. Ya ampuuun, sumpah gue minta maaf banget ya. Sini gue kenalin sama yang lain." Astrid muncul sambil memegang pundak si anak baru, mendorong-dorongnya menuju kerumunan aku dan yang lainnya.
Astrid cengar-cengir,"Dia namanya Rayya. Let's introduce your self." 
Rayya memandang kami satu persatu, berhubung salah satu hobi ku adalah mengamati orang lain, aku bisa menebak dia bosan setengah mati dibiarkan begitu saja menunggu selama kami meeting tadi. Tapi kemudian dia pasang senyum yang bisa aku indikatorkan sebagai salah satu senyum se-innocent mungkin dikala hati kesal.

"Nama saya Rayya Alfian Nurandri. Tapi panggil aja Rayya. Saya sebenarnya resign dari tempat kerja yang lalu dan mencoba peruntungan disini." entah kenapa saat mengatakan "peruntungan", dia menantapku sebegitu tajamnya.
Tapi sambil tersenyum.

"Oke, Rayya. Gue Astrid, maaf tadi gue melupakan lo dengan keji di ruangan tamu, dimaafin kan? Pastilah yaaa."
As usual, Astrid emang kadang berkata seakan nggak tahu malu campur kepedean.
"Yang ini namanya Gilang, imut banget kan dia kayak bakpao isi daging." ucapnya sambil mencubit pipi Gilang yang emang modelnya bisa disamain kayak adonan roti belum diapa-apain.
"Sial lo." Gilang mencibir.
"Tinggal banting-banting aja biar tambah mengembang."
"Bangke," balas Gilang lebih sadis.

"Ini Sandi. Ah, gue nggak mau deh kenalin dengan panjang lebar kalau dia. Kalau ini Arinta, dia kita anggap, ibu nya kita-kita deh. BIJAK ABIS!"
"Seriusan?" Rayya menanggapi. Kami serempak mengangguk. Rayya ikut mengangguk. Paham. Gilang pasang muka bete atas ketidaksopanan Astrid memperkenalkan dia ke Rayya.

"Kalau ini, Bintang. Biasa dipanggil Bi. The other wise person in here. Tapi dia paling muda. Jadi emang rada, sorry ya Bi, manja!"
"Tapi kalau soal main musik, hmm. Jangan ditanya!" celetuk Gilang.
"Dan..." Arinta mengarahkan telunjuknya ke pelipis, kemudian dilanjutkan dengan jempolnya.

"Ahahaha. Nggak lah, Gue mah apa atuh, remahan kue rangi dibanding kalian yang udah berjuang lama disini." aku mencoba untuk merendah.
"Bi juga anak baru disini?" tanya Rayya. Aku menggeleng,"Nggak. Nggak lama-lama amat kok."
"Bi udah setahun disini, Ray. Yasudahlah, sini Ray, gue kasih gambaran dulu bagian lo ngapain aja," Astrid menyudahi acara remeh temeh ini. Syukurlah, aku juga sadar diri, sesungguhnya hari ini aku butuh waktu ekstra untuk tumpukan tugas yang juga ekstra.

Betul-betul ekstra.

***

(18:20)

"Bi, belum balik?" Gilang menyapaku selepas balik dari mushalla kantor. Begini-begini aku juga mau jadi hamba Tuhan yang beriman.
"Belum, Lang. Duluan aja. Bentar lagi kok."
"Oke, duluan ya, Bi," Gilang menyambar jaket di sandaran kursinya dan menepuk pundakku lembut, "Jangan memforsir diri, Bi. Menyibukkan diri bukan satu-satunya cara untuk melupakan hal yang nggak enak. Nanti lo sakit. Oke?"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. "Siap, bos. Gue balik bentar lagi kok. Biar sekalian dapat kereta yang kosong." Aku tertawa kecil.
"Dasar. Oke deh. Rayya, gue balik duluan ya. Hati-hati lo berdua."

Aku menengok ke meja Rayya. Ah, betul dia masih bertahan disini. Ternyata aku bukan pejuang terakhir.

"Belum balik, kak?"
Aku tahu dia dua tahun lebih tua umurnya dibanding aku. Dan sudah kebiasaan pula aku memanggil teman-teman yang lain (yang kebetulan juga lebih tua, Oh God, thanks gue masih muda) dengan panggilan 'kak'.

"Eh, iya belum. Baru masuk udah dikasih kerjaan banyak sama Astrid. Nih liat." Dia menunjuk tumpukan kertas yang harus dia edit maksimal lusa sudah kelar.
"Ahaha. Itulah kak, baik banget kan Kak Astrid."
"Iya. Baik banget. Lo ga balik, Bi?" Dia balik bertanya.
"Udah kelar sih. Tapi mau 'penyegaran' dulu. Biar rileks." Aku menyandarkan badan ke kursi sambil mengecek handphone. Lagi-lagi message dari Ve.

Gue tahu, lo pasti belum balik. NGAKU! (18:30)

Emang. Biarin sih, sekali-kali ah (18:31)

Sinting. Sekali-kali apanya? Udah hampir sebulan, kaliiii (18:32)

Kejar target, Ve. Lo juga tau kan kalau gue perfeksionis? Tantangan baru juga nih buat gue. (18:35)

"Bi..." suara Rayya memanggil. Aku agak terkesiap sejenak. Rasa dari panggilannya entah mengapa terlalu merdu untuk sekedar memanggil 'Bi' doang. Tapi aku segera menoleh kearahnya.

"Dalem." 

Rayya tertawa, "Lo orang Jawa? Nggak. Gue izin sebentar mau maghrib-an. Kali-kali aja kalau gue nggak ngomong, lo malah takut tiba-tiba gue menghilang."

"Oh, iya, iya kak. Nggak apa-apa. Aku kan juga lagi 'penyegaran'", balasku sambil tersenyum. Dia bergegas ke mushalla dan aku bercumbu lagi dengan Ve via handphone. Sumpah, terdengar nggak enak banget ya dibacanya? Aku masih normal kok.

Gila. Gaji lo tambah banyak nih bulan depan. Ngedokem mulu di kantor. Hati-hati baliknya. (18:40)

Siap. Lo lagi sama Raga? (18:42)

Iyaaaa. Biasaaaa penggemukan badan. Lo juga jangan lupa menggemukan badan. Awas lho kalau sampai sakit. Oke deh. Mmmuuaaah. (18:45)

Aku menutup chat dengan Ve, tapi... Iya aku tahu, bahkan sampai saat ini, history chat dengan seorang mantan bernama Reza masih abadi aku simpan. Jangankan itu, foto, message dalam bentuk apapun masih utuh tak hilang satupun. Kalau begitu, betul kata Ve. Aku terlalu bertingkah 'semua baik-baik saja' padahal kenyataannya nggak. 

Kututup handphone dan bergegas ke ruangan ritual 'penyegaran'. Ah, beruntungnya punya kantor oke dimana ada ruangan tersendiri untuk para karyawan bebas menyalurkan hobinya. Disini tersedia gitar, keyboard, komputer-komputer khusus game-game (iya, komputer pribadi karyawan nggak akan bisa akses ataupun download games bahkan film dan video apapun. Jadi jangan harap bisa liat video SISTAR selama bekerja. Kalau mau liat aja via handphone sendiri), ada berbagai buku-buku buat yang mau menghabiskan waktu 'istirahat' dari kerja rodi sialan ini dengan membaca. Atau sekedar main biliar pun juga ada. Asal jangan dipakai buat ajang judi. Bahkan, percaya atau tidak, ada sofa empuk banget yang bisa dipakai buat tidur. Dan tivi yang oke punya kalau-kalau mau nonton drama bareng-bareng. Alhamdulillahnya disini nggak ada yang doyan sinetron, tapi pada freak abis kalau soal gosip-gosip pemerintah dan artis.

Aku menekan tuts-tuts keyboard. Aku tahu, aku tidak merasa "nggak apa-apa.", aku tertekan, aku sampai sekarang belum tahu alasan sesungguhnya dari semua kejadiaan ini, yang aku tahu aku hanya ingat dari sekian banyak kata yang dia katakan untuk aku bukanlah penjelasan, bukanlah pujian atau penyesalan, tapi...

Tiga kata. Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong.
Ya Tuhan, sepecicilan dan semunafikkah aku dimata orang lain, apalagi dia? Padahal diluar sana teman aku jauuuuh lebih banyak yang menjijikan dengan centil sana-sini. Sedangkan aku? Duh, apakah introvert kadar 70% dan melankolis-pregmatis macam kayak gini doyan pecicilan bak chili-chili-an? 

Aku mulai memainkan jemariku diatas tuts hitam dan putih itu. Aku mencoba menikmati alunan yang aku mainkan sendiri. For your information, begini-begini aku doyan lagu-lagu Jepang, Korea, Barat, bahkan Indonesia tapi yang nggak alay. 
Tenang, lagu yang aku mainkan bukan 'Sakitnya Tuh Disini' nya Cita Citata kok. Eh, jangan salah, aku suka melodinya kok. Someday bisa kali ya aku mainin versi piano akustik.

Tuh, betulkan? Sama diri sendiri aja sok tegar. Padahal tahu, hatinya nggak kuat lagi pengen teriak.

"Barame heutnallineun geudaeui meoritgyeoreul
Baraman boneun geollo deo baralge eobseonne

Kkumcheoreom dagaon neo ibyeolman namgyeojun neo
Nae saenge geudael manna geujeo gamsahal ppunya...

Geuttae geuttae geudael mannago
Heil su eomneun bamdeureul geurimyeo bangimyeo

Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong. Kata-kata itu eakan-akan berbisik terus menerus di telingaku.

Uyeonhi dasi natana jura
Geurium jeonhaji motaetdeon babo gateun naegero dasi
dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi
naege

Kkumcheoreom dagaon neo ibyeolman namgyeojun neo
Nae saenge geudael manna geujeo gamsahal ppunya

Geuttae (geuttae) geuttae (geuttae) geudael bonaego
Heil su eomneun bamdeureul nunmullo geurimyeo

Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong... Aku mulai menangis.

Uyeonhi dasi natana jura
Geurium jeonhaji motaetdeon babo gateun naegero dasi
dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi...

Dia yang justru aku percaya habis-habisan.
Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong.
Kali ini lagi-lagi aku menangis. 

Dasi dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi
naege..."

[English Translation]

"Just watching your hair blowing in the breeze
A perfect moment I wish I could freeze
You came like a dream then left without a trace
I’m just so grateful in my heart to meet you in my life

The time the time when I met you
Countless nights I missed you and longed for you

Come to me again over the destiny
Come back to this fool who couldn’t say I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like the first time
You came like a dream then left without a trace
I’m just so grateful in my heart to meet you in my life
The time (the time) the time (the time) I let you go
Countless nights I spent in tears
Come to me again over the destiny
Come back to this fool who couldn’t say I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like...
I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like the first time"

Nafasku tersengal-sengal. Ah Tuhan, sesak rasanya. Kuhapus air mata yang jatuh di pipiku, khawatir ketahuan sudah menangis.
Tapi tidak mau berhenti juga.

"Bi?"
Aku tersentak. Hening setelah panggilan itu. Yang aku tahu, aku bernafas seperti orang kelelahan sehabis lari. Dadaku sesak.

***



Nb :

Okeee. Untuk kali ini lagu yang terpilih adalah Over The Destiny dari 2AM. Dasarnya sih, berhubung saya juga doyan banget sama 2AM (tapi bukan fans fanatik dari segala macam jenis perkorea-an, karena pengetahuan saya tentang ini mah nggak ada apa-apanya) dan ini lagu terbarunya dari album terbarunya juga Let's Talk.

Kenapa pilih lagu ini?
Karena saya suka lagunya berikut MV nya. Oke banget. Oke dalam artian, entah sudah berapa banyak barang-barang yang hancur yang digunakan buat MV ini. Yang namanya bikin video klip, kecil kemungkinan buat take cuma sekali kan?

Bahkan disini segala-gala ada mobil, sepeda, bahkan tempat tidur yang dijatuhin dari atas.
Kalau itu semua barang asli, berapa uang yang kudu digunain buat ini MV?
Dan pas lihat MV ini, di adegan si cewek mau jatuh, bahkan batin saya agak menjerit, geregetan, pengen teriak "TANGKEP CEWEKNYA, BEGO!!!"
Frontal dan sadis sih.
Maaf ya.

Makanya saya bilang oke.
But, tiap MV nya 2AM emang tertampak oke sih buat saya. Entah buat yang doyan dan jago menganalisis MV-MV, bisa jadi beranggapan yang berbeda sama saya.
Satu lagi, artinya bagus. Ngena.

FYI. Saya doyan lagu dari musik dan arti lagunya sih, bukan terbatas dari siapa yang nyanyi..
Oke. Thanks to 2AM for their song, Over The Destiny.
You can watch it from this link.

Over The Destiny - 2AM - MV :
2AM "나타나 주라(Over the Destiny)" M/V

Over The Destiny - 2AM - Hangul/Romanization/English Translation :
[Han/Rom/Eng] 2AM - 나타나 주라 (Over The Destiny) Lyrics

Enjoy it!

Senin, 17 November 2014

Untukmu, Wanita Pilihan Terakhir dari Pria yang Aku Cintai

Hai.
Kali ini aku ingin menulis untuk wanita, yang mungkin suatu saat nanti ditakdirkan denganmu. Menggenapkanmu. Membahagiakanmu. Dan yang kemungkinan terbesarnya bukanlah aku.

***

Hai kamu, wanita yang suatu saat nanti akan bersama dengan pria yang amat aku cintai saat ini. Aku tahu, mungkin rasanya tidak akan adil. Aku yang telah lama menunggu pria mu, tapi jika Tuhan berkehendak lain dan memutuskan agar dia bersamamu, lantas aku bisa apa? Sekuat apapun aku meronta ataupun memohon kepadaNya, tidak akan pernah mengubah takdir yang sudah ditentukan bahkan sebelum aku, kamu, dan dia lahir, bukan?

Jangan khawatir. Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku. Mungkin bisa jadi kamu justru merasa bersalah, sudah merebut dirinya dariku, tapi itu bukan salahmu. Sungguh. Jika memang itu yang membuatnya bahagia, jika itu membuatnya bisa lebih bebas, menikmati setiap kasih sayang dari orang selain keluarganya, dan itu adalah kamu, berbahagialah. Bersyukurlah. Jangan sekali-kali kamu sia-siakan.
Dan aku, dari sini, sekalipun kamu dan dia tidak tahu, juga akan turut bahagia dan bersyukur. Bersyukur karena akhirnya pria yang aku cintai ini bisa memiliki wanita yang baik-baik untuknya, seutuhnya.

Kamu mungkin bisa bilang aku munafik. Wanita mana yang turut bahagia melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain? Iya. Siapa bilang aku tidak sedih? Aku pasti sedih, tapi entah mengapa, melihatnya bahagia itu jauh lebih indah dibandingkan aku bisa bersamanya tapi dia tidak bahagia sama sekali. Sungguh.

Hai kamu, salah satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah senyumnya. Tolong buat dia selalu tersenyum padamu, agar dia bisa tertawa bersamamu, hingga kamu pun akan menyadari, bahwa kamu pasti juga akan jatuh cinta pada senyumnya.

Kamu tahu? Setiap kali aku melihat orang lain saling bergandengan tangan, aku suka membayangkan, suatu saat nanti akan ada wanita yang betul-betul akan menggandeng tangannya. Jika itu kamu, gandenglah tangannya dan genggam jemarinya erat-erat. Dia akan menggandeng tanganmu terlebih dulu, berbahagialah. Lelakimu betul-betul menghargaimu dan mengingkan kamu terjaga olehnya. Dia tidak mau kamu berjalan didepannya, yang dia inginkan adalah berjalan bersama-sama denganmu.
Betapa baik dirinya bukan? Bersyukurlah.

Ah. Kamu juga tidak perlu khawatir. Dia lucu, dia akan pandai membuat kamu tertawa, bahkan ketika kamu menangis atas kesulitanmu, dia akan senang hati menghiburmu, melontarkan hal-hal lucu, dan aku jamin, kamu akan tertawa kembali. Dan kamu akan lebih jatuh cinta padanya. Lagi.

Oh ya, jangan lupa, ajak dia bernyanyi bersamamu. Minta dia mainkan gitar, dia pintar memainkan alat musik itu. Atau mungkin dia akan berikan kamu satu lagu buatannya sendiri, lantas hal romantis apa lagi yang dibutuhkan seorang wanita pada pria yang dicintainya?

Hai, wanita yang suatu saat akan menggenapi pria yang aku cintai. Pria ini biar bagaimanapun tetaplah seorang manusia. Aku tahu, dibalik tegarnya dia, dibalik setiap nasihat-nasihat yang diberikan padanya padaku, atau padamu nanti, sesungguhnya akan tetap ada masalah dalam hidup setiap manusia. Jika dia merasa terjatuh, aku mohon, rengkuh dia, berikan dia semangat yang jauh lebih banyak. Buat dia untuk percaya diri jauh lebih besar. Karena sesungguhnya, dia hanya kehilangan rasa percaya dirinya, sesungguhnya dia jauh lebih hebat dari apa yang dia pikirkan. Maka kamu hanya perlu tetap disampingnya, peluk dia jika rasa terjatuhnya betul-betul tidak dapat terbendungi, bahkan hapus air matanya. Tolong, buat dia terus semangat, buat dia tetap selalu tersenyum dan bangga telah memiliki dirimu.

Dia punya begitu banyak impian dalam hidupnya, aku mohon jangan pernah remehkan satupun impian-impiannya. Terus dukung yang terbaik dari setiap impiannya. Karena aku tahu, impiannya itu untukmu juga.

Oh, aku lupa. Dia akan suka sekali kalau kamu mau memasakan sesuatu untuknya. Jangan tiru aku yang tidak bisa apa-apa. Untuk pertama sekaligus terakhir kalinya aku hanya bisa membuatkan dia kue yang aku sendiri tidak sempat tahu apa komentarnya. Mungkin tidak enak. Aku tahu diri kalau tidak bisa masak. Tapi kalau kamu juga tidak bisa masak, tetap berusahalah, beri dia keyakinan kalau kamu berusaha untuk membuat makanan spesial untuknya.

Hei, wanita yang ditakdirkan untuk pria yang aku amat sangat harapkan. Jika dalam waktu senggang, cobalah sedikit kamu tatap matanya. Ah, kamu tahu? Dia salah satu pemilik bulu mata yang pasti kamu kagumi ketika kamu juga melihatnya. Sentuh kedua pipinya, usap halus rambutnya, karena sesungguhnya dia suka dimanja. Mungkin dia tidak meminta, tapi biarlah kamu yang melakukannya terlebih dahulu.

Kamu, aku mohon, jangan sampai buat dia kelelahan. Ingatkan dia untuk terus menjaga kesehatannya. Karena tidak jarang dia lupa untuk sekedar makan tepat pada waktunya, atau tidur tepat waktu. Ingatkan dia untuk sering minum air putih, jangan lupa mandi, jangan alpa shalat dan mengaji nya, jangan takut untuk berolahraga, ah kalau kamu tahu betapa kerennya dia ketika dia berolahraga, kamu akan memahami betapa aku jatuh cinta padanya. Dan sekarang dia untuk kamu, maka terus berikan semangat untuknya.

Dan aku mohon, jangan buat dia terbebani dengan banyak pikiran-pikiran negatif. Jangan seperti aku. Buat dia selalu rileks tanpa beban memikirkan tingkah laku burukmu. Buat dia selalu berpikir positif atas apapun dalam hidupnya.

Kalau dia emosi padamu, aku mohon, jangan kau balas dengan emosi yang sama. Entah dia mungkin sedang lelah, entah itu karena kesalahpahaman, tapi percayalah, dia hanya ingin kamu menjadi wanita terbaik untuknya. Maka redakanlah amarahnya, buktikan kamu tidak seperti wanita lainnya yang turut terbawa emosi ketika pria yang dicintainya terluka.

Ketika dia lupa mengabarimu, jangan sungkan untuk memberi kabar terlebih dahulu. Mungkin dia tidak seromantis pria lain yang sering memberi kabar pada wanitanya, tapi percayalah, sesungguhnya dia sedang menunggumu mengabarinya, apakah kamu masih ingat padanya atau terlalu sibuk memikirkan hal lain. Dia mungkin tidak seromantis pria lain yang suka memberikan kejutan dengan benda hal-hal luar biasa, tapi percayalah, dia pria termanis yang pasti beruntung kamu miliki. Dia bisa jadi akan menelponmu tanpa kamu minta, dia yang pertama kali mengucapkan selamat ketika kamu bertambah usia, dia yang akan tiba-tiba mengajakmu untuk bertemu, dia yang akan menenangkanmu pertama kali ketika kamu mulai menangis, dia yang menyediakan bahu nya untuk kau sandarkan dengan sukarela. Ah, hal apa lagi yang dibutuhkan seorang wanita pada pria yang dicintainya? Sungguh beruntung sekali kamu. Tolong, jangan sia-sia kan dia.

Dia mungkin tidak sehangat pria lainnya, tapi percayalah setiap tatapan, senyumnya, genggaman, pelukan darinya itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia betul-betul mencintaimu dan berharap kamu lah yang terbaik untuknya.

Kamu, boleh aku minta satu hal lagi? Tolong hormati dia, sebagaimana dia yang menjadi akhir dari perjalanan hidupmu. Hormati dia sebagaimana kamu juga menghormati ayahmu, dengan tidak berkata kasar, mencium tangannya, laksanakan perintahnya apabila itu baik dan masuk akal, jangan sekali-kali menyakiti hati nya. Aku mohon.

Hai, kamu yang kini telah bersama pria yang aku sendiri sampai saat ini tidak dapat memunafikkan diri sendiri bahwa aku masih mencintainya. Jika kamu membaca, bisakah kamu lakukan satu hal ini untuk ku?
Datanglah padanya, tatap matanya, peluk erat dirinya dan bisikkan padanya bahwa kamu begitu beruntung, bahagia memilikinya, betapa kamu begitu mencintainya.

Jangan khawatir. Percayalah, kamu yang terakhir untuknya. Bukan aku.
Dan aku juga akan bahagia.
Untuk mu dan untuk pria mu yang juga aku cinta.
Setidaknya sampai saat ini.

Minggu, 02 November 2014

Buatku, Kamu, dan Waktu-Waktu yang Berjalan - 20

"Perahu kertas ku kan melaju,
membawa surat cinta bagimu,
kata-kata yang sedikit gila, 
tapi ini adanya..."

Hai, kamu.
Apa kabar? Senang bertemu denganmu lagi,
Sumpah. Bahagianya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

***
Agam, Sumatera Barat, 24 Agustus 2012.

"Disini hujan dari pagi. Jadi agak molor kesananya,"
Hening sejenak.
"Iya, nggak apa-apa kan ya? Jalanannya juga agak becek, jadi nggak berani ngebut kesana. Tunggu aja ya. Sebentar lagi."
Percakapan dosenku dengan temannya via telepon selesai. Iya. Hari ini aku ikut dosenku untuk membantu penelitiannya. Hitung-hitung bisa sekaligus menjadi bahan penelitian aku juga.

"Ya, disini emang begini cuacanya. Nikmatin aja."celetuk dosenku yang merangkap guide selama perjalanan 3 hari 2 malam ini. "Iya sih. Tapi enak banget belum banyak polusi," balas dosenku.
"Di Padang nya mah nggak lho. Biasalah, ibu kota."

"Perahu kertas mengingatkanku,
betapa ajaib hidup ini,
mencari tambatan hati, 
kau sahabatku sendiri..."

Radio di mobil memutar lagu ini dan dosenku justru sudah tahu lagu ini. Aku juga tahu, ini pasti lagu Perahu Kertas yang memang lagi booming filmnya, aku juga sudah pernah baca bukunya. Tapi aku belum pernah dengar lagunya seperti ini.

"Siapa yang nyanyi, bu?" tanyaku.
"Maudy Ayunda. Perahu Kertas, Udah nonton filmnya belum? Bagus lho."
"Belum sih, bu. Tapi udah pernah baca bukunya."
"Oh, pantes, Keliatan sih doyan baca. Hahaha."
Baiklah, dosenku yang ini memang jauh lebih gaul. Mungkin karena usianya juga.

"Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia,
dan kau ada, di antara miliaran manusia
dan ku bisa, dengan radarku,
menemukanmu."

Kamu.
Aku suka banget sama buku ini, tapi saat itu aku belum nonton film nya. Sumpah, aku suka banget buku ini.

Aku tersenyum sedikit. Tapi aku belum menemukanmu.
Kamu dimana? Sedang apa? Entah mengapa, aku masih punya perasaan yang sama. Belum pernah hilang dan tergantikan dengan perasaan yang lain.

Sepulangnya, aku langsung mencari lagu tersebut dan mendownloadnya. Fix sudah menjadi teman tidurku paling ampuh selama beberapa bulan.
Dan aku tidur dengan air mata. Bukan menangis meratapi, tapi lagu itu seperti penyemangat buatku.
Iya, aku mencari-cari orang yang bisa aku sukai, dan itu justru sahabatku sendiri, kamu telah terlahir di dunia dan ada diantara miliaran manusia.

Betul-betul penyemangat. Kamu pasti ada. Kamu pasti tidak hilang entah kemana.
Kamu pasti bisa aku temukan. Tunggu aku selesai kuliahku dan aku akan punya waktu lebih banyak lagi untuk mencarimu.

***

"Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia,
dan kau ada, diantara miliaran manusia
dan ku bisa, dengan radarku,
menemukanmu..."

MP3 di handphone ku memutar lagu itu kembali. Ah. Hari ini hujan. Dan aku lagi-lagi tidak membawa payungku. Siapa peduli? Toh, aku juga lebih menikmati tubuhku terkena hujan. Rasanya bebas. Bahkan aku tidak peduli seandainya aku menangis pada saat ini. Hujan teman terbaikku, dia menutup raut wajah sedihku dan membaurkan air mataku yang jatuh dengan dirinya.

Dan lagu itu pula yang aku nyanyikan untukmu, pertama kalinya ketika aku kembali dipertemukan denganmu.
Lagu yang aku nyanyikan berulang-ulang ketika pertama kali aku betul-betul bertemu denganmu secara langsung. Hingga aku menangis.
Bahagia.
Didepanmu.

Aku benci mengakui satu hal ini, aku benci setiap kali keluar dari stasiun, kudapati gedung pusat perbelanjaan tempat aku sering bertemu denganmu. Aku benci setiap kali melewati jalan dari sana menuju rumahku, karena itu jalan yang sama setiap kali aku hendak pulang bersamamu. Aku benci melihat tempat makan dimana aku dan kamu sering menghabiskan waktu, menceritakan banyak cita-citaku, cita-citamu tentangku, tentangmu, semuanya.
Hingga belakangan ini aku selalu menolak untuk pergi keluar, dengan keluargaku sekalipun. Aku takut, jika setiap tempat yang akan aku tuju akan mengingatkanku padamu. Apapun itu.

Ah. Dan kali ini aku mengingat kembali, aku selalu mengejar waktu hanya sekedar untuk bertemu denganmu. Disela-sela waktu kerjaku, aku mengejar waktu habis-habisan. Iya. Waktuku untuk bisa bertemu denganmu itu langka dan selalu aku nanti-nantikan.
Aku tidak mau kamu menunggu aku, Aku tahu kamu pasti tidak suka. Biarlah aku yang menunggu kamu, toh selama ini pula aku yang terus-terusan menunggu kamu. Mencoba mencari kamu, menunggumu barang satu jam atau dua jam, jelas itu belum seberapa.
Aku selalu buru-buru, setiap kali kamu punya waktu luang untuk bertemu. Berharap kereta kali ini yang membawa aku pulang kembali ke kotaku tidak mengalami gangguan atau tepat jadwal. Mengecek handphone ku setiap beberapa menit, sekedar memastikan, kamu tidak mengirimkan pesan betapa bosannya kamu menunggu aku.
Iya. Aku khawatir kamu yang menunggu aku. Biar aku saja yang menunggu kamu.

***

Bogor, 06 Juni 2014

Waktu itu, aku juga pernah selepas dari kampusku, sekedar menemani temanku untuk menghadiri kegiatan job fair, dan pada saat yang bersamaan, kamu punya waktu luang untuk bertemu denganmu. Iya, katamu, kamu mau menemani aku belanja keperluan sehari-hariku.

Aku selalu menantikan. Selalu.
Kehilangan kamu selama ini membuatku selalu mencoba untuk tidak akan pernah menolak untuk bertemu kamu dan membuatmu hilang kembali dalam hidupku.
Aku mengiyakan. Tentu saja aku senang. Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi hari ini. Meskipun hanya sekedar menemani aku untuk belanja kebutuhanku.

Jam 12.00, temanku mengajak aku untuk makan siang terlebih dahulu, dan demi menghargai dia (karena rumahnya pun jauh), aku juga mengiyakan. Aku janji bertemu denganmu selepas Ashar, kurang lebih jam 16.00.
Jam 12.40 aku selesai makan, dan temanku minta ditemani terlebih dahulu untuk menanyakan reservasi hotel dekat kampus, karena sebentar lagi dia akan wisuda. Baiklah, aku pikir, masih ada waktu, toh dia juga teman baikku selama kuliah.
Jam 13.30, urusan sudah selesai, masih ada waktu untuk mengejar waktu supaya kamu tidak menungguku. Semoga jadwal kereta tidak molor, semoga tidak ada gangguan.
Jam 13.50, Tuhan. Macet. Bogor saat ini jauh lebih menyebalkan  macetnya. Dan macet kali ini, diluar sepengetahuanku. Aku juga sudah lama tidak kesini.
Jam 14.10, Ya Tuhan, ini belum ada setengah perjalanan menuju stasiun Bogor. Biasanya, selama aku kuliah, semacet apapun hanya menghabiskan waktu 40-45 menit.
Jam 14.20, terus-terusan aku mengecek handphone, khawatir kamu sudah siap, sedangkan aku masih ada di kota lain.
Jam 14. 45, baru sampai setengah perjalanan. Sungguh muak rasanya.
Jam 15. 10, 15.15 akhirnya sampai stasiun yang dituju. Sebentar lagi Ashar, atau bahkan sudah Ashar. Aku segera menuju kereta tujuanku, ah, ini akan menghabiskan waktu untuk melewatkan 4 stasiun sampai stasiun tujuanku. Semoga kamu tidak menungguku.
Ah, sialnya, kereta gangguan. Aku tidak peduli, aku memilih pindah ke kereta sebelah yang sudah penuh, lebih baik aku berdiri, daripada membiarkan kamu menungguku.
Pada saat itu juga aku selalu mengecek handphoneku, mengabarkan bahwa sebentar lagi aku sampai.Supaya kamu tidak perlu khawatir.

"Tak kan pernah ada yang lain di sisi,
segenap jiwa hanya untukmu,
tak kan mungkin ada yang lain di sisi,
ku ingin kau disini, tepiskan sepi bersamamu,
hingga akhir waktu..."

Perempuan sebelahku, mungkin mendengar musik dengan volume yang cukup besar karena sekalipun dia menggunakan headset, masih bisa terdengar olehku.
Ah. Iya.Tidak ada yang lain. Seperti lagu itu. Tidak ada yang lain, yang aku lakukan semuanya untukmu.

Jam 15.57, 3 menit lagi, aku bergegas keluar kereta, keluar dari stasiun, buru-buru. menuju mushalla tempat janji untuk bertemu, melaksanakan shalat Ashar terlebih dahulu. Aku harap, semoga kamu belum menungguku.
16.20, aku selesai. Menelponmu, menanyakan kamu ada dimana. Telepon pertama tidak terjawab. Semoga belum menungguku, biar aku yang menunggu.
Aku telpon lagi, menunggu, menunggu kamu menjawab teleponku.

Kamu baru bangun tidur.

Rasanya aku ingin menangis.

Menangis karena lega, kamu belum menungguku. Aku tidak marah padamu, aku tahu rasanya menunggu yang jauh lebih lama itu seperti apa dan ini belum seberapa.
Biar aku yang menunggu kamu. Jangan kamu yang menunggu aku.

***

"Geogi isseojwoseo geuge neoraseo,
gakkeum naege joyonghage angyeojueoseo,

naneun itjanha jeongmal namgimeobsi gomawo,
neoreul ttaraseo siganeun heureugo meomchwo,

Mulkkeureomi neoreul deullyeodabogon hae,
neoreul boneun ge naegeneun saranginikka,
neoui modeun sungan geuge nayeosseumyeon joketda,
saenggangman haedo gaseumi chaolla naneun ontong neoro..."

Ni modeun sungan nayeosseumyeon..."

[English Translation]

"Because you stayed there, because it’s you,
Because you sometimes quietly lean on my shoulder,
I’m really, wholly thankful,
Time flows and stops with you,

Sometimes, I gaze at you,
Because for me, looking at you is love,
Every moment of you, I hope it’ll be me,
Just thinking of it overwhelms me, filling me with you...

Every moment of you, I hope it’ll be me..."

Hujan. Kamu sedang apa?
Kamu tidak perlu repot-repot mengingatkanku untuk berteduh dahulu supaya tidak kehujanan. Toh kali ini siapa yang peduli?
Kamu tidak perlu repot-repot mengingatkanku untuk bergegas mandi sesampainya di rumah, supaya tidak masuk angin karena kehujanan. Toh kali ini siapa yang peduli?
Aku benci.
Aku benci kota ini. Membuatku takut menghadapinya. Membuatku takut untuk kemana-mana.
Rasanya aku ingin memilih keluar dari sini.
Mungkin iya untuk melarikan diri, tapi yang utama justru supaya kamu tidak lagi dibayang-bayangi oleh aku yang tidak tahu diri ini.
Kenangan tentangmu, tidak akan semudah itu aku hapus dan kubuang jauh-jauh. Kamu terlalu berharga buat aku. Kamu terlalu aku perjuangkan.
Selama itu.

"Kamu benci sama aku?"
"Iya. Kamu baru tahu?"

Ah, kamu tahu, hal paling menyedihkan lainnya selain dilupakan?
Ketika orang yang kamu cintai dan kamu pikir dia juga mencintaimu ternyata berkata bahwa dia membencimu.

Datang, membuat nyaman, lalu pergi.
Ah, ketulusan tidak setega itu, bukan?
Aku yang salah, Aku yang salah telah memaksamu untuk juga mencintai aku.

Hai.
Sudah hampir berapa bulan ya?
Betulkah kamu ingin aku melupakanmu selama-lamanya?
Betulkah kamu ingin aku menghapus semua apa yang aku perjuangkan selama ini begitu saja untuk selama-lamanya?
Betulkah kamu ingin mencintai orang lain, bukan aku, untuk selama-lamanya?
Betulkah kamu tidak ingin melihatku, tidak peduli, atau mengetahui kabarku lagi selama-lamanya?
Betulkah kamu membenciku untuk selama-lamanya?

Aku mungkin memang melakukan kesalahan dan anggap aku pembohong dan pengkhianat bagimu.
Tapi aku tak pernah membohongi dan mengkhianati perasaanku padamu.

Hai.
Selamat tinggal.
Aku tahu itu sulit. Tapi, iya, jika Tuhan tidak menghapuskan kenangan aku denganmu, semoga Dia menghapuskan perasaanku padamu.
Seperti kamu yang tidak lagi punya perasaan padaku.
Selama-lamanya.

***

Nb : Thanks untuk lagu Perahu Kertas - Maudy Ayunda (salah satu dari banyaknya lagu yang paling, paling, paling aku suka pakai banget), Hingga Akhir Waktu - Nineball yang kebetulan aku dengar waktu itu pas remake versi Gita Gutawa, dan Every Moment Of You - Sung Si Kyung.

For link :
Perahu Kertas (MV) - Maudy Ayunda

Hingga Akhir Waktu (MV) - Remake by Gita Gutawa

Every Moment Of You (Hangul+Romanized+English Sub) - Sung Si Kyung