Selasa, 10 Februari 2015

Share Video - Nouman Ali Khan - 1 - Repost

Assalamualaikum.
Hai lagi.
Kali ini aku mau share video yang sayangnya aku nggak tahu link nya. Karena ini juga share dari status salah satu orang yang ada di grup Facebook yang saya ikutin, dan grup facebook itu share lagi, dan muncul lah di home Facebook saya (ribet ya?), jadi kalau semisalnya ada yang nemuin link nya, bisa kasih tahu saya biar saya cantumin nanti.

Kenapa saya share video ini? Pertama saya suka banget sama beliau. Nama beliau Nouman Ali Khan. Mungkin juga banyak yang udah tahu.Kalau yang belum tahu, bisa cek profilnya di google. Banyak kok. Saya suka kata-katanya beliau, banyak yang bikin saya jadi kayak "disentil". Dan untuk video ini, hmmm. entah kenapa saya speechless. Kali ini saya berasa "ditampar bolak-balik: dengan ampuhnya.

Let's see.



Sudah lihat kah?

Saya suka kata-kata beliau bagian ini,

"Ketika aku menjadi mahasiswa dan mulai belajar bahasa Arab, dan aku mulai mendengarkan Al-Qur'an, dan untuk pertama kalinya mendengar kajian tentang Al-Qur'an, aku benar-benar marah.
Aku marah. 

Aku marah terhadap umat ini.

Bagaimana bisa mereka "merampas" dariku, setelah 18 tahun lahir menjadi muslim, bagaimana bisa sampai aku tidak mengerti makna Al-Qur'an? Mengapa mereka tidak memberitahuku? Bagaimana bisa mereka berpikir bahwa aku mengetahuinya dengan sendiri? Bagaimana bisa mereka tidak memberitahuku bahwa kitab ini adalah harta terpenting dalam hidupku?

Bagaimana bisa mereka tidak memberitahukan bahwa selama 23 tahun perjuangan keras dalam sejarah hidup manusia, perjuangan Rasulullah SAW, bahwa hal terpenting darinya adalah "Fal yuballighi ''sh-shahidul-gha'ib, ballighul anni walau aayah" Sampaikanlah dariku walau satu ayat, "Sampaikanlah, walaupun satu ayat atas namaku."

Dan seterusnya.

Baiklah, Saat itu ngerasa, iya, karena Al-Qur'an bukan cuma "buku" yang kita targetkan bisa habis satu juz satu hari. Bukan cuma "buku" yang bisa dihafal sebanyak mungkin, meski itu bagus pasti. Tapi ada yang jauh lebih penting yang terkadang kita alpa untuk melakukannya. Iya. Memaknai.

Hai.
Semoga sama-sama bisa mengambil hikmah dan penyemangat untuk diri masing-masing ya!


Jumat, 06 Februari 2015

Islamic Calligraphy - 2 - Q.S Al- Waaqi'ah (56) : 96



This Islamic Calligraphy made by me on November 9th 2012.

***

Ceritanya, setelah sengaja saya posting kaligrafi buatan saya yang alakadarnya untuk pertama kalinya di blog, cek di Islamic Calligraphy - 1 - Q.S An-Najm (53) : 39 berikut pakai Mukkadimah segala yang mungkin nggak penting-penting amat buat dibaca, izinkan saya untuk memposting kaligrafi lagi.

***
Q.S Al-Waaqi'ah (56) : 96

Sekali lagi, saya nggak bermaksud untuk menuliskan tentang tafsir ya disini. Hapunten.

Jadi begini,
Latinnya "Fasabbih bismi rabbikal 'aziim". Seperti biasa, CMIIW ya kalau ada salah dalam penulisan latin. Kenapa saya bikin kaligrafi ayat ini?
Hmm, pas saya baca terjemahannya, surat ini mendeskripsikan ke otak saya tentang hari kiamat. Dari terjadinya, pembagian tiga golongan (golongan kanan, kiri dan orang-orang paling dahulu beriman dan paling dahulu masuk surga (assabiqunal awwalun)), gambaran surga dan neraka, dan ayat 96 inilah, ayat terakhir, dimana seakan-akan setelah membayangkan kejadian-kejadian luar biasa itu, kita diajak untuk bertasbih pada Allah.

Sebetulnya, di surat ini disebutkan dua kali. Satu lagi di ayat 74. Tapi saya (apa ya bahasanya), mengkaligrafikan ini dengan melihat ayat 96 pada Al-Qur'an saya. Padahal sih sama saja tulisannya juga.

"Maka betasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar"

Saya pribadi ngerasanya, "Ya Allah, diriMu menegaskan dua kali."
Iya dua kali.

Dan setelah beberapa kemudian, saya lihat hadist riwayatnya Shahih Bukhari, (sekarang bahkan kalian bisa banget kok download aplikasi hadist dengan lebih mudah via Play Store bagi yang pakai gadget android. So, terkadang teknologi bisa mempermudah untuk mencari ilmu juga, bukan?) dan kebetulan ini riwayat hadist beliau yang paling akhir (jadi memang nggak sengaja juga saya nemunya), kurang lebih begini (karena pakai bahasa Inggris),

"Narrated Abu Huraira: The prophet Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam said, "(There are) two words which are dear to the beneficent (Allah) and very light (easy)  for the tongue (to say), but very heavy in weight in the balance. They are: "Subhanallah Wa-bi Hamdihi" and "Subhanallah Al-'Adzim" (H.R Bukhari, Shahih Bukhari no. 7563)

dan ada keterangan dibawahnya, "see Hadist no. 6682."
Lantas saya cek dong,

"Narrated Abu Huraira: Allah's Messanger Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam said, "The following are) two words (sentences or utterances) that are very easy for tongue to say, and very heavy in the balance (of reward), and most beloved to the Gracious Almighty (And they are): "Subhanallahi Wa-bi Hamdihi; Subhanallahi-l-'adzim" (H.R Bukhari, Shahih Bukhari no. 6682)

Guys, demi apapun, ilmu saya jauuuuh masih cetek banget. Sumpah. Saya jelas kalau ditanya, "hafal ga hadist nya?", yaaa belum lah. Saya cuma membaca sekilas arab dan terjemahannya saja. Jangankan hadist, Al-Qur'an pun yang saya hafal masih alakadarnya.
Tapi, mencari ilmu itu tetap harus sebanyak-banyaknya, bukan?

Balik lagi.
Melenceng nggak sih? Mudah-mudahan nggak ya. Saya menulis ini kan niatnya ingin menceritakan alasan kenapa saya pilih meng-kaligrafi-kan ayat ini. Dan sampailah di titik saya menemukan hadist tersebut yang membuat saya merasa, "Ah ya, benar. Bertasbihlah ke Allah, Del. Bertasbihlah atas nama Allah yang Maha Besar."

Eh iya, saya lupa. Intinya, dua hadist tersebut kurang lebihnya bilang, kalau ternyata dua kalimat yang mudah dalam pengucapan tapi berat di timbangan (pada hari akhir nanti) bahkan sangat dicintai Allah Subhanallah Wa Ta'ala adalah "Subhanallah Wa-bi Hamdihi" dan "Subhanallahi Al-'Adzim".

Ah. mudah tapi berat lho di timbangan hari akhir nanti. Ibarat kata kalau kita mah sekarang maunya yang murah-murah tapi bisa dapat yang bagus, atau maunya kerjanya sedikit tapi dapat untungnya banyak. Lantas kenapa kita juga malas menyebut dua kalimat yang mudah di lidah tapi kita bisa dapat pahala banyak?
Iya nggak?

Guys, saya juga gampang banget khilaf. Sengaja juga saya nulis ini, buat kaligrafi seperti ini, yaaa supaya jadi pengingat yang baik juga buat saya. Semoga juga bisa jadi pengingat yang baik buat yang lain ya.
Yuk semoga kita bisa sama-sama belajar dan terus belajar.

Selasa, 03 Februari 2015

Catatan Senja - 1

Hei, aku tahu saat ini kamu sedang menuju dibatas keputusasaan atas berbagai pengharapan. Aku juga pernah begitu. Semua orang pun juga pernah begitu. Bisa jadi saat ini dirimu sedang terus meratap nasib yang tak kunjung baik. harapan yang tak kunjung terealisasikan, bahkan bisa jadi saat ini ada sedikit celah dalam hatimu untuk berteriak "betapa teganya Allah padaku. Sampai kapan lagi aku harus mengharap?".

Hei. Aku pun pernah khilaf seperti itu, tapi aku harap, aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi dan semoga bagimu juga tidak. Ah, tenang. Aku pun terkadang masih sama denganmu. Masih suka mengeluh, masih suka kufur. Sssst, bila berkenan, mari kuajak dirimu supaya kita sama-sama mengetahui, supaya kita sama-sama mengingat untuk kedepannya betapa cintanya Dia pada hambaNya. Kamu, aku, dan siapapun yang menempatkan diriNya dalam hati.

Allah didn't give up on you. You give up on your self - Nouman Ali Khan

Ah. Begitulah manusia, bukan? Ketika kita punya suatu pengharapan, lantas gagal, pikiran seakan-akan mengatakan kita sudah kalah. Kita nggak akan mampu mendapatkannya lagi. Lantas, membatu, mengeras tanpa kita sadari. Jika saat ini kamu sedang dalam kondisi ini, kita sama. Aku juga pernah begitu dan mungkin apabila iman sedang turun tidak terpungkiri akan seperti itu lagi. Karena itulah aku ingin mengingatkan agar suatu saat nanti jika aku khilaf, aku akan diingatkan olehmu.

Hei, karena sesungguhnya yang menyerah adalah diri kita sendiri. Karena yang berkata "lelah" adalah diri kita sendiri, tanpa disadari. Apakah saat Dia berikan kita kegagalan artinya dia tidak percaya bahwa kita mampu? Apakah pada saat engkau bersedih hati karena gagal, Dia bersenang hati atas kesedihanmu?

Sekalipun tidak. Percayalah. Semoga aku juga akan selalu mengingat ini. Dia yang mengetahui dirimu lebih dari apa yang dirimu ketahui sendiri.

Sometimes Allah tests you twice because you failed the first time and He wants you to pass

Sini kuberitahu. Terkadang Dia ingin melihat kamu berusaha jauh lebih keras lagi. Bukan. Sekali lagi bukan karena tidak percaya denganmu. Dia ingin kamu tahu, bahwa apa yang kamu harapkan adalah hanya untukNya semata yang paling utama. Biarlah jika untuk kepentingan pribadimu di dunia adalah alasan setelahnya dan apabila Dia kabulkan itu adalah "bonus" dariNya.

Mungkin kamu gagal saat ini, Dia ingin tahu apakah kamu akan lantas berputus asa begitu saja? Bisa jadi engkau menyerah padahal sesungguhnya jika dirimu mau berusaha sekali lagi, Dia tunjukkan padamu apa yang kamu butuhkan sesuai harapanmu. Ah iya, aku juga pernah begitu dan aku menyesal karena putus asa terlalu awal.

Karena tidak ada lelah untuk yang Lillah

Percayalah, apapun yang dikerjakan karena Allah tidak akan pernah terasa lelah bagimu. Sekalipun engkau gagal melakukannya, dirimu akan percaya suatu saat pasti akan temui keberhasilan dari usahamu selama ini. Dirimu tahu bahwa segala rasa lelah ini tidak akan ada artinya jika suatu saat nanti Dia berikan apa yang dirimu butuhkan.

Keep praying for what it is you seek. Impossibility and possibility are merely concept of your mind, to Allah nothing is Impossible.

Tentunya. Konsep mungkin dan tidak mungkin adalah dari diri manusia sendiri. Terkadang kita terpaku pada pemikiran "Mungkin, Allah gagalkan aku karena memang ini hal yang mustahil buat aku dapatkan". Semisalnya, mengharapkan bisa bekerja ditempat yang kamu inginkan sedangkan nilaimu pas-pasan. Orang-orang yang bekerja disana adalah orang-orang terpilih dengan kemampuan dan pengalaman yang luar biasa, orang-orang yang bagimu sempurna dari segi apapun.

Hei, aku juga pernah begitu. Lantas minder di awal, aku tahu aku nggak ada apa-apanya, aku tahu orang-orang diluar sana jauh lebih hebat daripada aku. Dan? Aku gagal. Aku tahu itu. Aku paham, mungkin Allah melihatku telah menyerah lebih dahulu karena diriku sendiri. Karena kata-kata ketidakmungkinan yang ada di otak aku.

Lantas menyesalkah aku? Tentu. Hei, setelah itu aku ingat, bukankah Dia yang mampu mengubah apapun bahkan yang mustahil sekalipun bagi kita? Bukankah ketika dia berikan ketetapan pada hambaNya, jadilah maka jadilah ia? Ah kawan, sadarkah bahwa pada saat itu kita justru takut pada diri sendiri? Justru kita telah kalah pada diri sendiri?

"...dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah (2) : 232)

Hei, pernahkah kamu berpikir suatu hal ketika kamu meminta suatu hal namun Dia berikan yang tidak sesuai dengan pengharapanmu? Pernahkah terpikirkan mungkin Dia berikan kegagalan padamu karena itu bisa jadi hanya kamu pikir baik untukmu padahal bagiNya mungkin tidak?

Terkadang kita punya impian sebanyak mungkin, berharap segala macam, tapi itulah kawan. Jika harapan tidak disertai karena Allah yang ada hanyalah penyesalan ketika tidak terjadi dalam hidup. Padahal bukankah sebanyak apapun harapan kita, penentu ada ditanganNya? Harapan yang kita inginkan pastilah yang menurut kita baik, tapi bagiNya mungkin saja ada yang jauh lebih baik buat kita dan itu bukan sesuai apa yang kita harapkan. Dia maha mengetahui, sedangkan kita tidak.

"Oh Allah, when I lose my hopes and plans, help me remember that Your love for me is greater than my disappointments, and Your Plan for me are better than my dreams" (Ali bin Abi Thalib r.a)

Ketika engkau mengeluh saat ini, meratap menyalahkanNya tidak memberikan apa yang kamu inginkan, menangislah. Dirimu bukan siapa-siapa. Dirimu hanyalah peminta-minta dariNya. Dirimu tidak lebih dari seonggok daging yang hina dan tidak tahu apa-apa sedangkan Dia jauh lebih mengetahui dirimu bahkan masa depanmu sekalipun.

Maka pantaskah kita berkeluh kesah, kawan? Dia pasti akan berikan yang jauh lebih baik dari yang kamu bayangkan. Dia akan berikan apa yang pasti kamu butuhkan. Karena kita sering lupa, bahwa apa yang kita harapkan lebih sering adalah apa yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Mungkin juga bukan sekarang, mungkin nanti bisa jadi. Jadi, masihkah kamu berputus asa dan berhenti berdoa mengharap yang terbaik padaNya?

A thousand times I have failed, but still your mercy remains. Thank you, Allah.

Hei, dirimu masih diberikan nikmat bisa menghirup udara hari ini, sehat, bangun tidur dari nyenyaknya lelap, perut terisi, ah, mungkin kamu gagal dalam suatu hal yang kamu harapkan, tapi tidakkah kamu sadar, Dia masih berikan berkahNya yang lain untukmu? Padahal mungkin sebelum tertidur, kamu sempatkan sedikit mengeluh akan tidak adilnya Dia, tapi Ia bangunkan dirimu dengan keadaan utuh seperti sebelumnya tanpa kekurangan sedikitpun, kawan, maka nikmatNya yang mana lagi kah yang pantas kamu dustakan?

Jika harapanmu belum terlaksanakan saat ini, lihatlah dirimu, hidupmu. Satu harapan yang belum dirimu dapatkan itu jauh masih sedikit dari harapan-harapan yang dirimu tuturkan padaNya lewat doa-doamu selama dirimu hidup lantas Ia kabulkan. Bisakah dirimu menghitungnya? Aku yakin tidak.

Hei, aku juga ingin menangis saat ini. Kamu lihat bukan? He loves us more than we know. Maka pantaskah kita bersombong diri untuk mengatakan betapa teganya Dia, menyerah atas segala pengharapan yang belum terkabulkan, dan alpa untuk menyempatkan diri bersyukur padaNya atas apa yang Dia berikan? Hari ini.
Aku harap tidak.
Semoga.

Sabtu, 31 Januari 2015

Islamic Calligraphy - 1 - Q.S An-Najm (53) : 39



This Islamic Calligraphy made by me on November 2nd 2012.

***

Mukkadimah

Gaya ya?
Baiklah.
Jadi begini. Gini-gini, saya suka banget bikin kaligrafi. Okelah nggak se-handal para pembuat kaligrafi yang sudah terkenal, atau dengan teknik tertentu. Jadi kalaupun semisalnya ditanya, "Del, ini kaligrafi jenis apa?" Sumpah saya nggak bakal tau jawabannya apa.

Saya buat dengan teknik naluri sendiri.

Sebentar-sebentar. Biar saya ceritakan.

Saya belajar kaligrafi nggak lewat lembaga-lembaga tertentu. Makanya maklumkan saja. Saya cuma belajar kaligrafi semasa saya ikut TPA waktu SD, Iya, cuma TPA doang. Berkat guru ngaji saya yang oke banget bikin kaligrafi hanya dengan modal dua pensil, saya langsung jatuh cinta.
Sama kaligrafinya. Bukan guru ngajinya.
Mohon fokus.
Hahaha.

Sederhana, tapi bikin saya punya keinginan untuk bisa buat kaligrafi seindah itu.

Saya latihan bikin kaligrafi dengan dua pensil yang diikat pakai karet gelang. Guru ngaji saya sih yang ngajarin. Katanya biar pensilnya erat dan nggak goyang-goyang pas mau bikin sketsa kaligrafinya.
Dari tulisan Allah dan Muhammad doang, hingga Bismillah, Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, yaaa kalimat-kalimat sederhana.
Sampai akhirnya saya berhasil mendapat nilai sempurna (terus) (alhamdulillah) di rapor TPA saya untuk mata pelajaran Kaligrafi dan Sirah Nabawiyah dan nilai nggak enak di Fiqih. AHAHAHA.
Ketauan banget ya buka aib banget.

Dan saya sesungguhnya nggak berani tapi diberani-beraniin untuk ikut lomba sana-sini di bidang ini.

Juara? Iya. Alhamdulillah. Kadang satu, dua, seringnya sih gitu.
Hebat? Nggak. Sayangnya keberanian saya sebatas lomba lokal doang sih. Jadi nggak usah bilang hebat. Sumpah. Saya juga nyadar diri, ada banyak orang yang jauh leih hebat buat kaligrafi. Belajar bahkan mendetail dengan teknik-tekniknya. Sedangkan saya apaan?

Itulah saya tekankan, karena saya cuma menyukai dunia ini untuk hobi saya sendiri.

Cuma untuk pribadi? Saya jelaskan.
Obsesi saya, katakanlah begitu, tapi sepertinya kurang baik dibilang obsesi, oke, cita-cita saya, saya ingin banget menuhin "rumah" saya nanti dengan kaligrafi buatan saya sendiri. Kalau diizinkan Allah bisa dikasih hidup sampai punya keluarga nanti.
Saya mau rumah saya dijaga sama ayat-ayat yang saya gambarkan, of course, sebagai doa juga.

Itu pertama. Dan satu hal yang yaaah entah kalian mungkin mengiranya, "Alah, sepik amat alasannya", but this is true. Ini seriusan.

Hadist pertama yang saya hafal waktu TPA, adalah yang dari Abdullah bin Amr r.a, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً , "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat", Hadist Riwayat Bukhari.
Setelahnya mungkin yang paling ngelotok di otak adalah "Al-Jannatu Tahta Aqdamil Ummahat" dan "Khairukum man ta 'allamal Qur-'aana wa 'allamah".
Sorrii. Saya cuma dapat nilai biasa-biasa aja di Mata Pelajaran Hadist waktu TPA.

Oke fokus.

Iya. Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Emang sih nggak boleh asal-asalan juga untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an atau Hadist Rasulullah, toh saya juga bukan pendakwah, ilmu saya juga cetek banget kayak banjir yang cuma gara-gara got meluap, tapi itulah. Saya mau menyampaikan ayat-ayat Allah via kaligrafi saya yang juga alakadarnya, dan let's learn together.
Iya. Mari kita sama-sama belajar. Bukan cuma kalian aja, saya juga belajar atas apa yang telah saya gambarkan.
Saya berharap itu bisa jadi doa untuk siapapun yang melihat, berharap bisa belajar dari arti dan makna ayat nya, tentunya saya pribadi juga.
Semoga amal baik kita semua diterima Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.

Mohon maaf juga apabila semisalnya ada yang kurang baik dari kaligrafi buatan saya dan mohon koreksinya. Dan apabila sekali lagi kalau ditanya ini kaligrafi jenis apa? Saya nggak tahu. Naluriah buatnya. Karena saya juga saat membuat kaligrafi dan mencoba untuk berani share, niat saya bukan ingin kalian mengomentari dari segi keindahannya, Ah, Itu jauuuh banget. Bahkan bisa jadi mungkin kalau ada yang komentar jahat semisal, "Ih itu ga sesuai banget sama jenis teknik apapun. Nggak boleh!" Ah ya, saya tahu kok, saya memang nggak ada apa-apanya.

Makanya niat saya bukan itu apalagi komersil-in. Haduh, nggak tertarik juga kaligrafi kayak begini mah atuh kalah saingan. Niat saya supaya kita (saya dan kalian yang melihatnya) mencoba terus belajar dan memaknai ayatnya, tambah lagi, sebagai pengingat yang baik.
Just it.

Semoga setiap niat kita diberkahi Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.

***

Q.S An-Najm (53) : 39

Latin nya begini, "Wa allaisa lil insaani illaa maa sa'aa". CMIIW dalam penulisan latin ya.
Alasannya saya buat ayat ini adalah, saya suka banget surat An-Najm. Dari SMP. Sukanya kenapa? Hmm, saya nangis waktu baca surat ini beserta artinya.
Mungkin ada banyak surat dimana kita atau saya pribadi bisa ambil hikmah sebagai penyemangat, renungan, pengingat, bahkan sampai membuat nangis (saya emang cengeng, saya akuin itu) diri kita sendiri.
Banyak.

Tapi pada saat yang tepat, dimana saya lagi betul-betul lemah iman (katakanlah begitu), putus asa karena suatu hal waktu itu karena masalah Ujian Nasional kalau nggak salah, saya kayak ditampar waktu itu via surat ini.

Kurang lebihnya, bisa dicek Al-Qur'an kalian wabilkhusus ayat 38-48.
No. Jangan salah paham dulu. Saya belum punya ilmu mengenai tafsir ya. Saya nggak berani menafsirkan segala ayat, secara belum punya ilmunya. Jadi alasan saya betul-betul kayak "ditampar" adalah saat membaca ARTI ayat tersebut via Al-Qur'an terjemahan.

"(yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadaNya),
kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,
dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu),
dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,
dari mani, apabila dipancarkan,
dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan."

Tiga hal saya ngerasa kayak ditampar.
Pertama, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya dan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna. Kedua, dalam hidup, manis atau pahit, itulah cara Dia memperkenalkan diriNya kepada kita. Dia jadikan orang tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, menciptakan laki-laki dan perempuan, serta kekayaan dan kecukupan. Ada yang anehkah? Iya. Semua lawan kata, tapi Allah memberikan kekayaan dan kecukupan, bukan kemiskinan.
Ketiga, apapun niat kita, ya, utamakan karena Allah. Belajar, kerja, bahkan bantu orang lain, karena Allah. Bukan ngejar nilai, ngejar materi, ngejar dibilang baik, tapi karena Dia. Bukankah karena kepada Dialah kesudahannya atas segala sesuatu?

Ditambah setelah ayat selanjutnya ayat ke 55 dan 62. "Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?" dan "Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".

Dan ayat yang saya ambil adalah ayat 39, "dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
Saya cuma ingin itu jadi pengingat saya dan bisa jadi juga untuk kalian, semisal ketika saya lagi malas atau saya lagi menuju putus asa, bahwa, iya, kita cuma akan memperoleh sesuai apa yang telah kita usahakan.

Usaha?
Dengan urgensi usaha adalah "bahan" yang diperlukan untuk memenuhi syarat mendapatkan pertolongan Allah. "Bahan" bahwa kita menunjukkan padanya bahwa kita bersungguh-sungguh mengharap harapan kita bisa terealisasikan. "Bahan" agar kelak Dia memperlihatkan atas kesuksesan kita juga.

Iya.
Cuma itu.
Semoga itu bisa jadi pengingat kita semua.

Sekian.

Sabtu, 13 Desember 2014

Rendezvous : Carpe Diem - 1

Carpe Diem - 1
Kamu, percayakah bahwa cinta bermula dan kembali pada tempat yang sama?

(Aku, 18 Agustus 2015 : 05.10)

"Kamu nggak tahu salah kamu apa?"
"Nggak, sumpah. Aku nggak tahu."
"Pikir aja sendiri. Intinya, aku nggak mau lanjutin apapun sama kamu."
Mataku mulai berkaca-kaca. Telapak tangan juga mulai mendingin.
"Kamu...Seriusan?"
"Iya. Ngapain aku bercanda?"
Tidak ada nada baik sedikitpun dalam ucapannya. Sungguh. Rasanya... sesak.
"Kamu kenapa bisa jadi gini? Aku minta maaf kalau ada salah."

Telepon terputus, kucoba menelpon ulang. Nomor tidak aktif. Kucoba telepon rumahnya, tidak ada yang angkat. Terus, terus, terus, berusaha mungkin saja yang kali ini berhasil diangkat. Aku tahu kali ini aku mulai menangis. Bahkan rasanya sudah putus asa. Tanganku gemetar, dingin, jantung juga sudah tidak karuan, dan pastinya sesak.

KRIIIIIIIIIIINGGGGG...

Aku terbangun dengan kedua mata terbuka lebar, napas tersengal-sengal, bajuku basah berkat keringat dan telapak tangan terasa dingin. Rasanya sesak. Kuliat disekililingku, ah, nyawa dan diriku sesungguhnya sedang ada di dalam kamarku sendiri. Dan sudah pasti ini mimpi.


Iya. Sudah lebih dari tiga kali aku bermimpi hal yang sama, lagi-lagi, dan terbangun dengan keadaan yang sama seakan-akan aku kelelahan berlari 1000 meter. Kuraba pipiku, ah, memang ada bekas air mata, dan bukan sekali dua kali ketika aku bermimpi dengan adegan aku menangis, aku terbangun dan mendapati kedua pipiku pun basah dengan air mata.

Tuhan, aku bangun terlambat lagi. Setiap kali aku bermimpi yang sama, aku selalu ketakutan.
Sungguh aku ketakutan.

***

(06.10)

Ya. Siapapun pasti pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, tapi aku rasa, jauh lebih menakjubkan ketika kita dicintai dibandingkan dengan mencintai seseorang. Tandanya ada orang yang mau menerima kamu dalam hidupnya. Ada orang yang butuh berjuang dengan gigih untuk mendapatkannya, atau hanya berusaha ala kadarnya, bahkan justru mendapatkannya tanpa harus bersusah payah.

Beruntung sekali yang dibagian terakhir itu.

Oke, biar kita setting seperti ini. Ketika yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, ya, mereka yang berusaha mati-matian akan jatuh lebih dalam dari siapapun. Sedangkan yang mungkin diberikan kemudahan di awal, akan bergabung dengan kerapuhan kebahagiaan mereka yang sedikit demi sedikit memudar. Sama-sama menyakitkan dan menyedihkan, hanya saja mungkin kadarnya berbeda.

Ah, itulah hidup. Biar bagaimanapun kebahagian berkawan baik dengan kesedihan. Hukum alam. Sama halnya dengan pertemuan bersahabat baik dengan perpisahan. Tapi sayangnya, aku berada di posisi dimana aku berusaha keras dan menghadapi perpisahan. Kalian pasti tahu akhirnya seperti apa.

Tatapan ku kosong menatap jendela kereta diantara sesaknya penumpang yang tidak tahu tata krama. Ah, bukankah diluar sana, seiring bergeraknya sebuah kereta, sekelilingnya berlalu dengan cepat. Semakin cepat kamu bergerak, semakin cepat berlalu. Bukankah aku harus begitu?

TRIIING.

Diikuti getaran, aku yakin HP ku menerima pesan masuk. Good. Pesan via salah satu aplikasi messenger masuk. Dari sahabatku yang luar biasa bawel dan ribetnya, sebut saja namanya Ve.

Gambar. Dia mengirimiku gambar.

(06:20)


Sial.
Kuketik sebagai balasan.
Ratusan (06:20)

Ve is typing...

So, lebih baikkah hari ini? (06:22)

Pastinya. Jauh lebih baik. Sangaaat baik. (06:24)

Really? Stop acting tough! Sometimes you have to cry to let go of the pain! Setidaknya gue yakin, badan lo saat ini nggak baik berkat kebrutalan ibu-ibu di gerbong cewek Commuter Line. Ngaku deh! (06:25)


Kalau itu maksud lo, you've got it. Haha. (06:26)

Emang gue ada maksud lain? (06:26)

Good. Aku kena jebakannya lagi. 

Lo bilang situasi di Commuter Line. Jelas lah gue ga dalam kondisi baik. (06:30)

Kalau bukan kondisi di kereta? Yakin baik? (06:31)

Aku menghela napas. Entah Ve itu betulan cenayang atau bagaimana, dia selalu tahu kondisi ku kalau ada "apa-apa". Dia mungkin tahu aku bermasalah sama mimpi tidurku semalam. Dan jelas itu buat kondisiku nggak baik sama sekali.

Gue ga tahu lo itu terbuat dari apa. Iya, gue bermasalah lagi sama mimpi. (06:35)

Bersyukurlah lo sama Tuhan. Memberikan gue sebagai teman yang tahu kapan lo nggak baik dan kapan lo baik. HE IS, RIGHT? GOD! STOP THINKING ABOUT HIM AGAIN. REZA GA BAIK BUAT LO! (06:40)

Gue ga mikirin tentang dia, hei. DIA YANG MUNCUL DI MIMPI GUE KAYAK HANTU! (06:45)


Setidaknya aku tidak munafik pada diri sendiri. Dia yang muncul lagi ke mimpiku.

Oke, whatever. AND, PLIS. Lo mau presentasi. HILANGKAN INGATAN LO TENTANG GIO GA TAU DIRI ITU SETIDAKNYA UNTUK BEBERAPA JAM KEDEPAN. Oke? (06:50)

Okeee. (06:51)

Baiklah. Aku juga berharap, message dari Ve cukup untuk pagi ini. Ya, presentasiku jauh lebih penting dari sekedar mempermasalahkan mimpifobia ku tentang Gio. Gio? Biar ku ceritakan nanti saja dia itu siapa.

Ah, kalau orang-orang lain sibuk bercerita berangkat kerja dengan mobil atau motor pribadinya, aku hanya dengan naik kendaraan umum pun sudah cukup bahagia. Maklumlah, ibarat kalau dikelompokkan, paling aku masuk ke kelas menengah pas ditengah-tengah. Lagi dikasih rezeki banyak, bisa agak menikmati hidup yaaa Alhamdulillah, sekalinya lagi seret dompet juga mau nggak mau harus mau.

Oh, ya. Namaku Bintang, biasa dipanggil Bi. Plis, nggak perlu ditambah lagi belakangnya dengan nama lain. Aku anak ke 3 dari 3 bersaudara. Lulusan jurusan Komunikasi, dan saat ini menjadi kuli di salah satu perusahaan penerbitan paling oke di negara ini.
Setidaknya versi aku pribadi.
Jangan tanya jabatanku apa. Secret makes a woman, woman. Setidaknya itu kata Vermouth, salah satu tokoh di manga Detektif Conan.
Baiklah.

Aku produk melankolis-pregmatis, ditambah pula introvert dengan kadar 70%. Haha. Itu takaran pribadi juga sih. Jadi kebayang lah ya, model aku seperti apa. Belum kebayang? Biar nanti kita sama-sama mengenal. Cieilah.
Kebayang kan, orang sebegininya punya sahabat yang luar biasa bocor macam Ve? Biar bagaimanapun, dia super duper tahan lho punya sahabat macam patung kayak aku ini.

Aku sangat, sangat suka musik. Dari kecil kalau orang tua lain sibuk sana-sini yang paksa anaknya les, aku justru yang maksa mereka untuk dikasih les. Tapi aku lebih tertarik les musik. Piano dan gitar ditambah nyanyi betul-betul jadi senjata aku untuk bisa dianggap oleh orang lain meskipun aku introvert dengan kadar 70% itu.
Dan beruntungnya, orang-orang banyak menganggap aku cerdas.
Setidaknya belum ada yang mengatakan aku tidak cerdas dengan sepenuh hati.

***

(10.45)

"Lo emang paling ciamiiik. Thanks yaaa." puji Arinta sambil menepuk pundakku sedikit kejam.
"Konsepnya sih yaaa, kurang lebih begitulah. Mudah-mudahan realisasinya bisa sebaik apa yang diharapkan," balasku.
"Yaaa, setidaknya manajer suka, Bi. Gue juga suka banget, banget, banget." kali ini si lebay Gilang yang berkomentar.
"Astaga! Gue lupa! Gue lupaaa. Tadi ada anak baru. Dan gue lupa, gue anggurin gitu aja apa gue oper ke siapa ya?"teriak Astrid.
"Ah elo, gimana sih? Lumutan kali tuh orang sekarang. Dimana lo taruh tadi?" Sandi ngomel. Biasa sih, kayaknya lebih ke statusnya sebagai "penentang Astrid dalam segala hal". Atau kata lainnya, sengaja banget nyindir si Astrid dalam bentuk apapun. Nggak kok, mereka nggak musuhan, kayaknya emang iseng satu sama lain.

"Di tarooo? Lo kira tuh anak kayak kolor lo yang ditaro sembarangan?" Gilang membalas Sandi. 
As an introvert woman, yaaa aku sih mendingan mengamati sambil cekikan. Astrid buru-buru menghilang keluar ruangan, mencoba mencari "barang titipannya". Belum sempat aku dan yang lain membantu mencari, dengan suara melengking khasnya dia menjerit.

"KETEMUUU. Ya ampuuun, sumpah gue minta maaf banget ya. Sini gue kenalin sama yang lain." Astrid muncul sambil memegang pundak si anak baru, mendorong-dorongnya menuju kerumunan aku dan yang lainnya.
Astrid cengar-cengir,"Dia namanya Rayya. Let's introduce your self." 
Rayya memandang kami satu persatu, berhubung salah satu hobi ku adalah mengamati orang lain, aku bisa menebak dia bosan setengah mati dibiarkan begitu saja menunggu selama kami meeting tadi. Tapi kemudian dia pasang senyum yang bisa aku indikatorkan sebagai salah satu senyum se-innocent mungkin dikala hati kesal.

"Nama saya Rayya Alfian Nurandri. Tapi panggil aja Rayya. Saya sebenarnya resign dari tempat kerja yang lalu dan mencoba peruntungan disini." entah kenapa saat mengatakan "peruntungan", dia menantapku sebegitu tajamnya.
Tapi sambil tersenyum.

"Oke, Rayya. Gue Astrid, maaf tadi gue melupakan lo dengan keji di ruangan tamu, dimaafin kan? Pastilah yaaa."
As usual, Astrid emang kadang berkata seakan nggak tahu malu campur kepedean.
"Yang ini namanya Gilang, imut banget kan dia kayak bakpao isi daging." ucapnya sambil mencubit pipi Gilang yang emang modelnya bisa disamain kayak adonan roti belum diapa-apain.
"Sial lo." Gilang mencibir.
"Tinggal banting-banting aja biar tambah mengembang."
"Bangke," balas Gilang lebih sadis.

"Ini Sandi. Ah, gue nggak mau deh kenalin dengan panjang lebar kalau dia. Kalau ini Arinta, dia kita anggap, ibu nya kita-kita deh. BIJAK ABIS!"
"Seriusan?" Rayya menanggapi. Kami serempak mengangguk. Rayya ikut mengangguk. Paham. Gilang pasang muka bete atas ketidaksopanan Astrid memperkenalkan dia ke Rayya.

"Kalau ini, Bintang. Biasa dipanggil Bi. The other wise person in here. Tapi dia paling muda. Jadi emang rada, sorry ya Bi, manja!"
"Tapi kalau soal main musik, hmm. Jangan ditanya!" celetuk Gilang.
"Dan..." Arinta mengarahkan telunjuknya ke pelipis, kemudian dilanjutkan dengan jempolnya.

"Ahahaha. Nggak lah, Gue mah apa atuh, remahan kue rangi dibanding kalian yang udah berjuang lama disini." aku mencoba untuk merendah.
"Bi juga anak baru disini?" tanya Rayya. Aku menggeleng,"Nggak. Nggak lama-lama amat kok."
"Bi udah setahun disini, Ray. Yasudahlah, sini Ray, gue kasih gambaran dulu bagian lo ngapain aja," Astrid menyudahi acara remeh temeh ini. Syukurlah, aku juga sadar diri, sesungguhnya hari ini aku butuh waktu ekstra untuk tumpukan tugas yang juga ekstra.

Betul-betul ekstra.

***

(18:20)

"Bi, belum balik?" Gilang menyapaku selepas balik dari mushalla kantor. Begini-begini aku juga mau jadi hamba Tuhan yang beriman.
"Belum, Lang. Duluan aja. Bentar lagi kok."
"Oke, duluan ya, Bi," Gilang menyambar jaket di sandaran kursinya dan menepuk pundakku lembut, "Jangan memforsir diri, Bi. Menyibukkan diri bukan satu-satunya cara untuk melupakan hal yang nggak enak. Nanti lo sakit. Oke?"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. "Siap, bos. Gue balik bentar lagi kok. Biar sekalian dapat kereta yang kosong." Aku tertawa kecil.
"Dasar. Oke deh. Rayya, gue balik duluan ya. Hati-hati lo berdua."

Aku menengok ke meja Rayya. Ah, betul dia masih bertahan disini. Ternyata aku bukan pejuang terakhir.

"Belum balik, kak?"
Aku tahu dia dua tahun lebih tua umurnya dibanding aku. Dan sudah kebiasaan pula aku memanggil teman-teman yang lain (yang kebetulan juga lebih tua, Oh God, thanks gue masih muda) dengan panggilan 'kak'.

"Eh, iya belum. Baru masuk udah dikasih kerjaan banyak sama Astrid. Nih liat." Dia menunjuk tumpukan kertas yang harus dia edit maksimal lusa sudah kelar.
"Ahaha. Itulah kak, baik banget kan Kak Astrid."
"Iya. Baik banget. Lo ga balik, Bi?" Dia balik bertanya.
"Udah kelar sih. Tapi mau 'penyegaran' dulu. Biar rileks." Aku menyandarkan badan ke kursi sambil mengecek handphone. Lagi-lagi message dari Ve.

Gue tahu, lo pasti belum balik. NGAKU! (18:30)

Emang. Biarin sih, sekali-kali ah (18:31)

Sinting. Sekali-kali apanya? Udah hampir sebulan, kaliiii (18:32)

Kejar target, Ve. Lo juga tau kan kalau gue perfeksionis? Tantangan baru juga nih buat gue. (18:35)

"Bi..." suara Rayya memanggil. Aku agak terkesiap sejenak. Rasa dari panggilannya entah mengapa terlalu merdu untuk sekedar memanggil 'Bi' doang. Tapi aku segera menoleh kearahnya.

"Dalem." 

Rayya tertawa, "Lo orang Jawa? Nggak. Gue izin sebentar mau maghrib-an. Kali-kali aja kalau gue nggak ngomong, lo malah takut tiba-tiba gue menghilang."

"Oh, iya, iya kak. Nggak apa-apa. Aku kan juga lagi 'penyegaran'", balasku sambil tersenyum. Dia bergegas ke mushalla dan aku bercumbu lagi dengan Ve via handphone. Sumpah, terdengar nggak enak banget ya dibacanya? Aku masih normal kok.

Gila. Gaji lo tambah banyak nih bulan depan. Ngedokem mulu di kantor. Hati-hati baliknya. (18:40)

Siap. Lo lagi sama Raga? (18:42)

Iyaaaa. Biasaaaa penggemukan badan. Lo juga jangan lupa menggemukan badan. Awas lho kalau sampai sakit. Oke deh. Mmmuuaaah. (18:45)

Aku menutup chat dengan Ve, tapi... Iya aku tahu, bahkan sampai saat ini, history chat dengan seorang mantan bernama Reza masih abadi aku simpan. Jangankan itu, foto, message dalam bentuk apapun masih utuh tak hilang satupun. Kalau begitu, betul kata Ve. Aku terlalu bertingkah 'semua baik-baik saja' padahal kenyataannya nggak. 

Kututup handphone dan bergegas ke ruangan ritual 'penyegaran'. Ah, beruntungnya punya kantor oke dimana ada ruangan tersendiri untuk para karyawan bebas menyalurkan hobinya. Disini tersedia gitar, keyboard, komputer-komputer khusus game-game (iya, komputer pribadi karyawan nggak akan bisa akses ataupun download games bahkan film dan video apapun. Jadi jangan harap bisa liat video SISTAR selama bekerja. Kalau mau liat aja via handphone sendiri), ada berbagai buku-buku buat yang mau menghabiskan waktu 'istirahat' dari kerja rodi sialan ini dengan membaca. Atau sekedar main biliar pun juga ada. Asal jangan dipakai buat ajang judi. Bahkan, percaya atau tidak, ada sofa empuk banget yang bisa dipakai buat tidur. Dan tivi yang oke punya kalau-kalau mau nonton drama bareng-bareng. Alhamdulillahnya disini nggak ada yang doyan sinetron, tapi pada freak abis kalau soal gosip-gosip pemerintah dan artis.

Aku menekan tuts-tuts keyboard. Aku tahu, aku tidak merasa "nggak apa-apa.", aku tertekan, aku sampai sekarang belum tahu alasan sesungguhnya dari semua kejadiaan ini, yang aku tahu aku hanya ingat dari sekian banyak kata yang dia katakan untuk aku bukanlah penjelasan, bukanlah pujian atau penyesalan, tapi...

Tiga kata. Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong.
Ya Tuhan, sepecicilan dan semunafikkah aku dimata orang lain, apalagi dia? Padahal diluar sana teman aku jauuuuh lebih banyak yang menjijikan dengan centil sana-sini. Sedangkan aku? Duh, apakah introvert kadar 70% dan melankolis-pregmatis macam kayak gini doyan pecicilan bak chili-chili-an? 

Aku mulai memainkan jemariku diatas tuts hitam dan putih itu. Aku mencoba menikmati alunan yang aku mainkan sendiri. For your information, begini-begini aku doyan lagu-lagu Jepang, Korea, Barat, bahkan Indonesia tapi yang nggak alay. 
Tenang, lagu yang aku mainkan bukan 'Sakitnya Tuh Disini' nya Cita Citata kok. Eh, jangan salah, aku suka melodinya kok. Someday bisa kali ya aku mainin versi piano akustik.

Tuh, betulkan? Sama diri sendiri aja sok tegar. Padahal tahu, hatinya nggak kuat lagi pengen teriak.

"Barame heutnallineun geudaeui meoritgyeoreul
Baraman boneun geollo deo baralge eobseonne

Kkumcheoreom dagaon neo ibyeolman namgyeojun neo
Nae saenge geudael manna geujeo gamsahal ppunya...

Geuttae geuttae geudael mannago
Heil su eomneun bamdeureul geurimyeo bangimyeo

Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong. Kata-kata itu eakan-akan berbisik terus menerus di telingaku.

Uyeonhi dasi natana jura
Geurium jeonhaji motaetdeon babo gateun naegero dasi
dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi
naege

Kkumcheoreom dagaon neo ibyeolman namgyeojun neo
Nae saenge geudael manna geujeo gamsahal ppunya

Geuttae (geuttae) geuttae (geuttae) geudael bonaego
Heil su eomneun bamdeureul nunmullo geurimyeo

Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong... Aku mulai menangis.

Uyeonhi dasi natana jura
Geurium jeonhaji motaetdeon babo gateun naegero dasi
dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi...

Dia yang justru aku percaya habis-habisan.
Pecicilan. Pengkhianat. Pembohong.
Kali ini lagi-lagi aku menangis. 

Dasi dorawajwo
Uyeonhi dasi natana jura
Ichyeojyeo gal geudae moseup gadeukhi dameul su itge
Ttaseuhan bombyeotcheoreom cheoeumcheoreom dasi
naege..."

[English Translation]

"Just watching your hair blowing in the breeze
A perfect moment I wish I could freeze
You came like a dream then left without a trace
I’m just so grateful in my heart to meet you in my life

The time the time when I met you
Countless nights I missed you and longed for you

Come to me again over the destiny
Come back to this fool who couldn’t say I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like the first time
You came like a dream then left without a trace
I’m just so grateful in my heart to meet you in my life
The time (the time) the time (the time) I let you go
Countless nights I spent in tears
Come to me again over the destiny
Come back to this fool who couldn’t say I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like...
I miss you
Come to me again over the destiny
So I can fill my heart with your image that is fading
Like the warm spring sun, just like the first time"

Nafasku tersengal-sengal. Ah Tuhan, sesak rasanya. Kuhapus air mata yang jatuh di pipiku, khawatir ketahuan sudah menangis.
Tapi tidak mau berhenti juga.

"Bi?"
Aku tersentak. Hening setelah panggilan itu. Yang aku tahu, aku bernafas seperti orang kelelahan sehabis lari. Dadaku sesak.

***



Nb :

Okeee. Untuk kali ini lagu yang terpilih adalah Over The Destiny dari 2AM. Dasarnya sih, berhubung saya juga doyan banget sama 2AM (tapi bukan fans fanatik dari segala macam jenis perkorea-an, karena pengetahuan saya tentang ini mah nggak ada apa-apanya) dan ini lagu terbarunya dari album terbarunya juga Let's Talk.

Kenapa pilih lagu ini?
Karena saya suka lagunya berikut MV nya. Oke banget. Oke dalam artian, entah sudah berapa banyak barang-barang yang hancur yang digunakan buat MV ini. Yang namanya bikin video klip, kecil kemungkinan buat take cuma sekali kan?

Bahkan disini segala-gala ada mobil, sepeda, bahkan tempat tidur yang dijatuhin dari atas.
Kalau itu semua barang asli, berapa uang yang kudu digunain buat ini MV?
Dan pas lihat MV ini, di adegan si cewek mau jatuh, bahkan batin saya agak menjerit, geregetan, pengen teriak "TANGKEP CEWEKNYA, BEGO!!!"
Frontal dan sadis sih.
Maaf ya.

Makanya saya bilang oke.
But, tiap MV nya 2AM emang tertampak oke sih buat saya. Entah buat yang doyan dan jago menganalisis MV-MV, bisa jadi beranggapan yang berbeda sama saya.
Satu lagi, artinya bagus. Ngena.

FYI. Saya doyan lagu dari musik dan arti lagunya sih, bukan terbatas dari siapa yang nyanyi..
Oke. Thanks to 2AM for their song, Over The Destiny.
You can watch it from this link.

Over The Destiny - 2AM - MV :
2AM "나타나 주라(Over the Destiny)" M/V

Over The Destiny - 2AM - Hangul/Romanization/English Translation :
[Han/Rom/Eng] 2AM - 나타나 주라 (Over The Destiny) Lyrics

Enjoy it!