Jumat, 20 Februari 2015

Coretan Kejora - 1

Teman adalah hadiah dari Allah Subhanallahu Wa Ta'ala buat kita.
Seperti hadiah.
Ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek.
Yang bungkusnya bagus punya wajah yang rupawan atau kepribadian yang menarik.
Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja atau kepribadian yang biasa saja atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah.
Ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek.
Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau.
Ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita.
Dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama.
Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai yang justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya.
Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dan sejenisnya.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindari dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANLAH karena mereka pada dasarnya buruk, tapi...

Karena ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta yang karena justru ia yang membutuhkan cinta kita, membutuhkan simpati kita, kesabaran, dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka berlari bersama kita?
Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air untuk berenang bersama?
Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan. bukan mencaci mereka.
Karena mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka terluka atau mereka takut "air" tapi mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang bahwa berenang itu membosankan.
Dan sejenisnya.
Karena bagaimanapun mereka manusia yang punya harga diri.

Mereka tidak akan bilang, "Aku tidak bisa menari"
Tapi mereka akan bilang, "Menari itu tidak menarik"
Mereka tidak akan bilang, "Aku membutuhkan kamu"
Tapi mereka akan bilang,"Tidak ada yang cocok denganku"
Mereka tidak akan bilang, "Aku kesepian"
Tapi mereka akan bilang, "Teman-temanku sudah lulus semua"
Mereka tidak akan bilang, "Aku butuh diterima"
Tapi mereka akan bilang, "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan?"
It's a defense.

Seorang sahabat sama seperti satu permata yang tak ternilai harganya.
Kawan bisa membuat kita ceria.
Mereka meminjamkan telinganya kepada kita pada saat kita membutuhkannya.
Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dengan kita pada saat kita membutuhkannya.
Maka dari itu janganlah buang waktu yang kita miliki, janganlah sia-siakan waktu yang sedemikian berharganya.
Bagikanlah sebagian dari waktu yang kita miliki untuk seorang kawan.
Pasti waktu yang kita berikan tersebut akan kembali seperti juga satu lingkaran.

-dari seorang teman-

Senja dan Kejora - 2

Bruk!
"Raaa. Biasa aja napa nutup pintunyaaa!"
"Njaa, nggak bisa ditutup pintunyaaa. Paksain aja yaaaa?"
"Iya, tapi biasa aja nutupnya!"
Kejora menghampiri Senja yang sedang di dapur. "Bikin apa, Nja? Icip dong."
"Nggak. Tangan kamu kotor habis dari luar."
"Ini deh aku cuci tangannyaa..." Kejora bergegas mencuci tangan di tempat cuci piring.

"Istri solehah banget deh si Senja. Kepikiran aja bikin macaroni kukus."
"Apa sih? Kamu juga biasanya ngoprek-ngoprek dapur. Sekalinya aku yang begini kayaknya heboh banget," cibir Senja.
"Nja, sebel deh." Kejora mengambil piring kecil di rak piring dan segera mengambil potongan macaroni kukus yang baru saja dipotong-potong Senja.
"Sebel apa atau siapa?"
"Sebel aja sama orang-orang yang gampang banget sinis."
"Wait, makannya duduk ah, Bawa yuk ke ruang 'gaul'. Sekalian bawain piring buat aku, Ra."
"Hahaha. Dasar."

"Nah. Definisi orang yang gampang banget sinis itu yang kayak gimana, Ra?"
"Nih ya. Semisalnya kita share kabar, dan padahal komentar kita tentang yang kita share juga sopan. Eeeeh masih aja ada yang sinis."
"Contohnya?"
"Kayak misalnya aku share tentang situasi pemerintahan sekarang, padahal komentarnya aku juga malah niatnya nyemangatin. Eh tapi malah ada aja kayaknya yang nggak suka."
"Suka dan nggak suka nya orang kan hak prerogatif mereka, Ra. Wajarin aja lah."
"Tapi dia kayak ngerasa benar sendiri, Nja."
"Lho, mungkin komentar kamu di share-nya kamu juga bagi dia, kamu kayak paling benar sendiri. Sama aja lah, Ra. Beda sudut pandang aja."
"Tapi nyebelin aja deh orang kayak gitu."
"Bisa jadi kamu juga nyebelin buat mereka."
"Ih Senjaaaa."

"Aku juga pernah kok, Ra."
"Kayak gimana?"
"Aku komentar tentang sistem Liberalisme. Sistem lho yaaa padahal. Aku nggak menuduh subjek ataupun mengomentari objek nya. Sebetulnya aku cuma pengen jelasin aja sih, kalau di negara kita, mau dikata di buku pelajaran dibilangnya sistem Demokratis, tapi sekarang mah ya udah banyak diintervensi sama pihak luar, bukan nggak mungkin sistemnya kecampur sama Liberal."
"Ngerti, Nja. Bener juga sih. Terus?"
"Iya gitu deh. Mungkin ada yang setuju, tapi pasti juga ada yang nggak suka lah. Beberapa hari setelahnya aku lihat ada salah satu teman, posting status, wallahu alam, cuma pas aja sih timing nya, bilang kurang lebihnya, 'Ngomongin liberal, ngomongin Yahudi, padahal makan masih di KFC'".
"Hahahaha. Ngeselin kan? Hahaha. Padahal niatnya kita mah ya ingin yang baik-baik tapi masih aja dianggap nggak baik."
"Apalagi kalau udah bawa-bawa agama. Waaah, ada aja yang nggak suka, katanya 'Yaelah urus aja diri sendiri dulu', itu bukan cuma yang beda agama, yang satu agama sama kita pun juga pasti bakalan ada yang komentar begitu."
"Iya Njaaaa! Bangeet. Padahal mah ya, bukannya tugas sesama muslim itu saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran(*). Kalau nggak suka yaudah nggak usah komentar dong yaaa."

"Entahlah, Ra. Aku sih cuma mikir balik aja kalau digituin, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam aja butuh 23 tahun untuk mensyiarkan agama Islam, butuh bertahun-tahun untuk ngajak kaum nya ke jalan Islam. Lah kita baru ngajak kebaikan itupun juga via sosial media aja dan dihina sama orang terus kita kalah gitu sama hinaan mereka? Masih kalah sama Rasulullah yang bahkan diacuhin lahir batin."
"Iya sih, Nja. Makanya kadang aku juga mikir gitu. Itu kan tugas kita sebagai muslim. Kalau mereka nggak suka, yaaa emang sih zaman sekarang orangnya gampang emosian. Pada nggak selow."

Senja tertawa.
"Ah kalau mau dibahas itu mah nggak akan kelar, Nja. Yang penting niat kita baik. Nggak ada maksud yang jelek-jelek. Ini sih pelajaran buat aku juga. Kali lain kalau mau share apapun udah semestinya juga kita liat efeknya kedepan, bikin ricuh kah atau ga? Kalau bikin ricuh tapi yang kamu share memang tentang kewajiban agama kita, itu sih masa bodo-in aja. Tapi kalau tentang hal lain, mungkin liat stadium efeknya, akan bikin kacau parah kah, lumayan kacau, atau biasa aja. Iya ga?"
"Betul-betul. Jadi jangan bikin kita malas atau nggak tertarik untuk share kebaikan lagi cuma karena hal gituan. Eh iya, satu lagi. Cek juga kebenaran berita yang kita share, tahu kan taktik orang media begitu."
"Tahu. Dari drama korea Pinnochio. Lee Jong Suk nya cakep banget Nja disanaaaaa."
"Kebiasaan. Tapi iya juga sih. Ahahaha. Udah lah, aku mau kelarin laporan nih waktunya kepake buat bikin macaroni ginian. Aku bikinnya hampir dua jam, ngabisinnya nggak sampai 30 menit."
"Lebayyy deh Senjaaaaa. Tapi suer, enak lho, Nja. Besok-besok bikin lagi ya. Atau sering-sering aja kamu ngoprek-ngoprek dapur yaaa."

***

Nb :

(*)
"Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran" (Q.S Al-Ashr : 3)


Kamis, 19 Februari 2015

Catatan Senja - 2

Hai.
Ada satu hal yang menggelitik dalam hati saat tadi pagi aku membaca surat cintaNya. Maukah kuberitahu? Mungkin bagimu biasa saja, tapi entah mengapa aku ingin mengajakmu untuk bersyukur atas apa yang diberikan pada Yang Maha Luar Biasa atas apa yang telah dia berikan pada hari ini bahkan selama kita ada di dunia ini.
Sampai sekarang.
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka azab-Ku sangat pedih" (Q.S Ibrahim : 7)
Aku tahu, aku tergugu beberapa saat ketika Dia mengatakan dengan kalimatNya yang indah. Dia memaklumkan. Iya. Hanya memaklumkan. Tidak ada marah. Dia bilang apabila kita bersyukur Dia akan menambahkan kepada kita. Bersyukur yang tidak hanya saat kita menerima hal-hal besar, hal sekecilpun juga termasuk hitungan. Dan hei, bukankah bersyukur tidak selamanya mengucapkan 'Alhamdulillah' saja?

Memberi kepada orang lain yang membutuhkan, membagi rezeki yang kita punya, berperilaku baik dengan sesama, ah sesungguhnya urgensi bersyukur itu luas, bukan? Dan aku malu, masih menganggap bahwa bersyukur lantas hanya diucapkan dengan ucapan hamdalah atau mensujudkan diri kepadaNya saja.

Bukankah terhindar dari jatuh di jalan pun suatu hal yang patut disyukuri? Tidak lupa membawa suatu barang yang kita butuhkan, perut terisi, bisa beristirahat, terlepas dari hutang-hutang, berkumpul dengan teman-teman, bahkan tidak telat datang di suatu acarapun bukankah itu suatu hal yang juga patut untuk disyukuri? Bahkan aku lupa, bagiku terkadang mensyukuri nikmatNya yang sesungguh-sungguhnya hanya sebatas harta benda semata.

Padahal Dia dengan memaklumkan berkata pada hamba-hambaNya, jika kita mau bersyukur, niscaya Dia akan menambahkan kepada kita. Dia. Dia bahkan menggunakan kata "Aku" bukan "Kami" sebagaimana kata ganti yang biasa kita baca pada terjemahan di surat-surat Al-Quran yang lain.

Tapi Dia menyebut dirinya sendiri dengan kata ganti "Aku".
Dan apa yang akan dia tambahkan kepada hamba-hambaNya yang bersyukur?

Hai.
Dia akan tambahkan nikmatNya jauh lebih banyak lagi.
Lebih banyak lagi.
Sedangkan Dia memaklumkan diri kita yang seringkali alpa bersyukur. Seringkali kufur nikmat. Dan sungguh aku malu. Malu karena jatah syukur ku masih kalah jauh dibanding nikmatNya yang Dia berikan kepadaku. Tidakkah kamu merasakannya?

Bersyukur bisa memiliki pemahaman lebih banyak sedikit lantas mau mengajarkannya pada orang lain yang belum memahami, bersyukur bisa membuat orang lain tersenyum dengan mungkin sebatas mendengarkan keluh kesahnya yang sedemikian rupa, betapa kita makhluk yang mudah luput melupakan hal-hal remeh dan kecil seperti itu, bukan? Bahkan Dia pun melanjutkan, apabila kita mengingkarinya, Dia tidak memarahi kita, Dia tidak dengan lantas mengatakan bahwa kita berdosa atau mungkin mengatakan "Aku akan memutuskan nikmat-Ku padamu".
Sekalipun tidak.

Dia hanya melanjutkan seakan-akan "Ya sudah. Silahkan. Tapi semoga kamu ingat juga bahwa azab-Ku itu amat pedih."
Dan sungguh, lagi-lagi aku malu. itu seperti ketika aku malas belajar lantas ibuku tidak memarahiku untuk supaya rajin belajar, tapi beliau hanya bilang, "Tidak apa-apa kamu nggak belajar, Nanti kalau sudah besar kamu yang akan tahu rasanya seperti apa."

Allah pun, yang senantiasa percaya dengan mu bahkan disaat orang lain tidak percaya denganmu, yang senantiasa ada menghapus rasa kesedihan dan kekalutanmu disaat orang lain tidak ada yang peduli dengan mu, yang senantiasa hadir membantu mu bahkan disaat tidak ada satu pun orang yang ada untuk menolongmu, yang kehadirannya bahkan lebih dekat dengan urat nadimu, yang menghidupkan, mematikan, memastikan dirimu nyaman hidup di dunia, pemilik segala-galanya, yang mencintaimu sedemikian rupa, tidak lantas menjudge kamu "Hamba yang tidak tahu berterima kasih", "Hamba yang tidak tahu malu", "Hamba yang akan banyak dosanya di hari penghisaban nanti".

Hai.
Maka nikmatNya yang mana lagi kah yang pantas kita dustakan?
Masihkah kita mengutamakan untuk mengeluh dibanding kan bersyukur sedemikian rupa padaNya?
Butuhkah kita suatu alasan untuk tidak bersyukur padaNya?
Tidak akan ada.
Sungguh, kita tidak butuh alasan apapun untuk tidak bersyukur padaNya.
Alhamdulillah.




Rabu, 18 Februari 2015

Islamic Calligraphy - 3 - Q.S Al-Baqarah (2) : 286



This Islamic Calligraphy made by me on December 6th 2012.

***
Q.S Al-Baqarah (2) : 286

Bismillah.
Latinnya begini, "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'ahaa", kembali lagi, CMIIW jika ada kesalahan dalam penulisan latin.

Sebetulnya ayat ini cukup panjang dan mungkin kalau kalian pernah atau suka baca Al-Ma'tsurat pasti tahu. Tapi berhubung agak panjang, jadi saya ambil bagian itu saja. Ceritanya waktu itu ada teman saya curhat gitu lah ya. Nah, di akhir, dia kayak berasa putus asa gitu, bagi dia masalah kayaknya ada aja. Nggak berhenti-berhenti. Waktu pas dia bilang gitu, saya kayak langsung nyamber aja bilang, "Jangan gitu ah, kan Allah nggak bakalan ngasih cobaan diluar batas kemampuan hambaNya...endebla endeble..."

Sok bijak banget ya? Padahal mah masih suka khilaf ngeluh juga. Hahaha.

Nah, besokannya, saya kepikiran lagi sama omongan sendiri. Iya juga ya, kenapa masih doyan ngeluh kalau dikasih cobaan. Kan Dia juga nggak bakalan kasih cobaan diluar batas kemampuan hambaNya, berarti saat kita ngeluh sebetulnya kita masih mampu dong? Kita nya aja yang kebanyakan ngeluh duluan.
Mikirnya sih gitu.
Lagi juga, kenapa giliran dikasih cobaan aja kita ngeluhnya kadang panjang x tinggi x lebar. Berenteeeet nggak kelar-kelar. Berasa paling sengsara hidupnya. Padahal kalau mau di flashback selama sekian tahun kita hidup, nikmat sama rezeki nya jauuuh lebih banyak.
Egois banget ya kita?

Nah. Pas begitu, saya mikir, ini harus jadi pengingat yang baik kalau-kalau saya lagi khilaf.

"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebijakan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari kejahatan yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

Itu artinya berdasarkan Al-Qur'an terjemahan.

Saya waktu ikutan TPA (lagi-lagi TPA, tapi ini beneran), kudu hafalin tiga ayat terakhir Q.S Al-Baqarah ini. Ah, saya rasa yang ikutan TPA atau mungkin pesantren dan sekelasnya juga pasti disuruh hafalin ini. Yang doyan baca al-ma'tsurat juga palingan hafal secara ga langsung. Waktu itu, saya iseng nanya sama guru ngaji saya, iya sih saya orangnya kebanyakan nanya, pengen tau mulu, dan kurang lebihnya saya nanya, kenapa ayat ini harus dihafalin?

Pertanyaan nggak penting sih, namanya sebagai umat muslim, sudah semestinya menghafal ayat-ayat nya Allah. Tapi berhubung emang masih kecil yaaah SD sekitar kelas 3-4an lah, saya juga lupa, tolong wajarkan saja pertanyaan itu.

Guru ngaji saya jawab, kurang lebihnya gini.

"Kamu tahu al-ma'tsurat? Nih saya kasih."
Beliau kasih saya buku kecil ukuran yaaah paling 10x6cm lah dengan muka orang di covernya yang ditulis namanya Hasan Al-Banna. Seiring berjalannya waktu, saya baru diberi tahu siapa beliau pas SMP.

"Coba liat yang ini," sambil nunjukkin ayat Al-Quran, yang pas saya baca, oh iya, ini ayat Al-Baqarah 284-286 yang saya tanyain. Tapi saya tetep nggak ngerti maksudnya apa.

"Al-Ma'tsurat ini, doa-doanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang dikumpulin jadi satu, dibacanya pagi dan petang. Nah, yang nyusunnya ini namanya Hasan Al-Banna. Salah satu doa nya, ya ayat Al-Baqarah 284-286 itu. Tahu nggak, kalau baca dua ayat ini (terutama ayat 285-286), di malam hari, dua ayat ini cukup sebagai pengganti salat malam(*). Tapi bukan berarti kamu mikirnya, 'yaudahlah baca ini aja terus, nggak usah salat malam', jangan gitu yaaa"

"Itu hadits, kak?", semua yang ngaji di masjid dekat rumah saya emang manggil guru-gurunya "kakak".

Dia ngangguk. "Terus, waktu Rasulullah Isra' Miraj, pas sampai di Sidratul Muntaha, tahu kan Sidratul Muntaha?"
"Iya tahu, langit yang paling atas, kan?" Jawaban anak SD, maklumkan saja.
"Nah, Rasulullah ngeliat di Sidratul Muntaha ada sesuatu(**)"
"Apaan?"
"Kupu-kupu emas. Keren kan? Nah pas disitulah Rasulullah dikasih tiga perkara sama Allah, dianugerahi salat lima waktu, dianugerahi ayat-ayat terakhir Q,S Al-Baqarah, dan diampuninya orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun dari kalangan umatnya Rasulullah, bebas, diampunin seampun-ampunnya(***). Keren kan Allah? Diampuni lho umatnya Rasulullah yang tetap setia sama Al-Qur'an dan Hadits nya tapi ya. Terus Rasulullah bilang, 'bacalah dua ayat terakhir Al-Baqarah ini karena aku dianugerahi ayat-ayat ini di bawah arsy' yang bahkan nggak ada seorang pun, sebelum bahkan sesudah aku, yang diberikan anugerah kayak begini'(****)"

Waktu itu saya cuma bisa berimajinasi doang, enak banget ya kalau gitu.

"Nah, itu enaknya kalau kita bisa baca terus ayat itu kan? Makanya kudu dihafal, biar makin sering nanti-nanti kamu baca ayat ini. Kan enak kalau bisa dihafal?"
Saya sih ngangguk aja.
"Nah, waktu ayat ini turun, ceritanya sahabat-sahabat Rasulullah protes gitu lah sama Rasulullah, pas turun ayat 284, katanya kan, coba nih liat di Al-Ma'tsurat nya, "Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu", berarti kalau setiap kita niat, mau baik ataupun buruk, entah nanti ternyata kita lakuin ataupun masih kita sembunyiin dalam hati, tetap dihitung sama Allah."

"Makanya mereka nggak setuju, kak? Gara-gara kalau niat aja udah masuk hitungan pahala atau dosa, gitu?"
"Iya, makanya mereka mohon-mohon sama Rasulullah, 'Ya Rasulullah, kita udah melakukan shalat, puasa, sedekah, tapi kalau ini, kayaknya kita nggak bakalan sanggup.' Terus, turunlah ayat 285 dan 286. Di ayat 286, Allah bilang, 'Laa yukallifullahu nafsan illa wus'ahaa', Dia nggak akan membebani hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Maksudnya, manusia akan mendapat pahala atau dosa sesuai apa yang diperbuat, tapi Allah bakal mengampuni keterbatasan hambaNya saat melakukan kewajiban-kewajiban dan hal-hal yang dilarang disaat kita betul-betul tidak ada cara lain menghindarinya, memaafkan setiap kali kita khilaf, memudahkan kita untuk beribadah sama Dia, dan nggak akan membebani hal-hal yang berat, yang biasanya kita anggap ujian dari Dia, diluar batas kemampuan hambaNya. Berarti kalau kamu lagi kesusahan, diuji sama Allah, artinya Dia masih yakin kamu bakalan bisa ngelewatin ujianNya.(*****)"

Oke baiklah, cerita diatas sih betulan, cuma versi tulisan saya nya aja yang agak di fiksi-in, tapi kurang lebih nya begitu.

Iya, saya juga ngaku kok masih suka ngeluh. Dan tiap kali ngeluh dan tiba-tiba saya sadar, "Ah iya, Allah kan nggak bakalan ngasih beban melebihi batas kemampuan kita", disitu saya menjudge diri saya payah.

Payah dalam artian gini, Rasulullah aja dikasih kewajiban mensyiarkan agama Islam dan nggak sedikit orang yang mati-matian juga ngelawan beliau, bahkan kalangan kaumnya pun ngelawan, tapi beliau ikhlas luar biasa. Ibunda Hajar dikasih cobaan saat Ismail udah nangis nggak karuan karena kehausan, lari bolak balik Shafa-Marwa cuma buat nyari air padahal disitu kering kerontang, tapi nggak lantas gitu aja putus asa. Ibunda Aisyah ra, difitnah abis-abisan dibilang selingkuh (bahasa kita nya mah ya), sampai beliau nggak tahu lagi gimana caranya supaya bisa ngeyakinin Rasulullah kalau dia nggak berbuat begitu tapi percaya banget kalau semua bakalan bisa dilewatin dengan baik. Nah, kita? Baru kehilangan harta benda, atau skripsi nggak kelar-kelar, dikecewain orang, rasanya berasa nggak kuat ampun-ampunan. Payah banget kan?

Emang sih, dibilang 'kita kan nggak selevel imannya sama mereka!', ya emang. Kita mah apaan. Tapi Rasulullah sebaik-baik suri tauladan, dan yang lain juga contoh yang baik juga kan buat manusia zaman sekarang? Bahwa sebetulnya, kesulitan kita belumlah ada apa-apanya dibanding kesulitan mereka zaman dahulu.

Ah iya. Sama-sama mengingatkan, ya.
Mungkin suatu saat saya khilaf lagi, atau kalian. Semoga bisa saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran.

Aamiin..

***

Nb :

Ada beberapa yang saya kasih tanda bintang (*), ini penjelasan lebih detailnya ya. Dan penjelasan ini saya tahu setelah seiring berjalannya waktu sejak guru ngaji saya cerita begitu. Ahahaha.

(*)
"Telah menceritakan kepada kami, Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Asim, dari Al-Mussayab ibnu Rafi', dari Alqamah, dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang telah bersabda : "Barangsiapa yang membaca kedua ayat dari akhir surat Al-Baqarah di malam harinya, maka kedua ayat itu mencukupinya." (H.R Imam Ahmad) 

Beberapa berpendapat, mencukupinya dari terhindar kejahatan, dan beberapa lagi berpendapat bahwa dua ayat itu cukup sebagai pengganti shalat malam. Wallahu alam. CMIIW ya.

(**)
"(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya." (Q.S An-Najm : 16)

Saya baru ngeh pas mulai suka Q.S An-Najm, dan ternyata seiring berjalannya waktu, kata-kata guru ngaji saya kurang lebihnya sesuai dengan Tafsir nya Ibnu Katsir. Mungkin beliau juga menjelaskannya berdasarkan itu.

(***)
"...Abdullah Ibnu Mas'ud mengatakan pula bahwa Rasulullah SAW, dianugrahi tiga perkara, yaitu beliau dianugrahi shalat lima waktu, dianugrahi ayat-ayat yang mengakhiri surat Al-Baqarah, serta diampuni bagi orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun dari kalangan umatnya, dengan ampunan yang menyeluruh." (H.R Muslim)

Versi Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan ini secara lebih detail.

(****)
Rasulullah bersabda : "Kami diberi keutamaan diatas semua orang karena tiga perkara, yaitu : Aku diberi ayat-ayat yang mengakhiri surat Al-Baqarah dari rumah pembendaharaan di bawah 'Arsy yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun sebelumku dan tidak pula diberikan kepada seorangpun sesudahku." (H.R Ibnu Murdawaih)

(*****)
Imam Muslim mengeluarkan di dalam kitab Shahih-nya dan juga dikeluarkan oleh periwayat lainnya, dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tatkala turun ayat (artinya) ‘Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu' (Q.S ,Al-Baqarah : 284) beratlah hal itu bagi para sahabat RA. Lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW. dengan merangkak atau bergeser dengan bertumpu pada duduknya seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah dibebankan amalan-amalan yang mampu kami lakukan; shalat, puasa, jihad dan sedekah (zakat) dan sekarang telah diturunkan padamu ayat ini padahal kami tidak sanggup melakukannya.’

Lalu Rasulullah SAW, bersabda, ‘Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana yang dikatakan Ahli Kitab sebelum kamu; kami dengar namun kami durhaka? Tetapi katakanlah ‘kami dengar dan patuh, Wahai Rabb, kami mohon ampunan-Mu dan kepada-Mu tempat kembali.’ Tatkala mereka mengukuhkan hal itu dan lisan mereka telah kelu, turunlah setelah itu ayat ‘Aamanar Rasuul…sampai al-Mashiir. (Al-Baqarah : 285)’ Dan tatkala mereka melakukan hal itu, Allah pun menghapus (hukum)-nya dengan menurunkan firman-Nya, “Laa Yukallifullah…hingga selesai. (l-Baqarah : 286)” (HR.Muslim, no.125 dan Ahmad, II / 412)


Wallahu alam.

Rabu, 11 Februari 2015

Senja dan Kejora - 1

"Kau harus bisa bisa berlapang dada,
kau harus bisa bisa ambil hikmahnya,
karena semua semua tak lagi sama,
walau kau tahu dia pun merasakannya..."

"Ra, berhenti deh. Itu lagunya diulang terus daritadi."
Tidak ada tanggapan, yang ada cuma penampakan yang sama. Kejora sedang duduk menatap jendela yang padahal banyak banget debu nya. Dan sambil dengar lagu yang sama berulang kali.

"Ra. Ih ganti kek kalau gitu lagunya."
"Kasian, Njaaaa."
"Apaan yang kasian?"
"Video klipnya."
"Ish, nggak penting banget. Aku kira ada apaan."
Kejora balik badan menatap Senja. "Ah, Nja. Semoga aja kita bisa nggak ngerasain hal yang sama kayak gitu ya. Nggak menyakiti perasaan orang lain. Dan bisa lapang dada kalau semisalnya ada orang yang kita suka, terus ternyata orang itu bukan buat kita. Hmm..." Kejora membalikan badannya kembali menghadap jendela.

"Biar gimana pun juga, Ra. Di akhir perjalanan tentang perasaan setiap manusia pasti ada yang tersakiti. Tinggal stadium nya aja yang berapa sama seberapa kemampuan hati nya menguatkan diri sendiri."
"Kok gitu, Nja?" 
"Kamu pernah suka sama orang? Sama laki-laki atau para ikhwan-ikhwan kece yang alamakjang?"
Kejora bengong menatap Senja.
"Pernah nggak? Iyalah pernah, kamu aja punya 'yang sedang diharapkan'. Ahahaha"
Kejora mencibir, "Kayak kamu nggak aja, Nja."
"Nah. Nggak munafik 'kan begitu? Maksud aku, pastilah setiap manusia yang sudah waktunya, punya perasaan tertentu pada seseorang. Nah, semisalnya kamu suka sama si kakak itu, dan berhubung kamu juga ngerti lah ya menjaga hati, nggak pecicilan, jadi cuma bisa dipendam doang, bahkan pernah ngobrol pun nggak..."
"Bentar, bentar. Aku? Aku doang? Kamu juga kali, Njaaaa"
Senja tertawa, "Iyaaa, aku jugaaaaa. Puaaas?"
"Lanjutkan."

"Nah, kamu, eh kita deh ya, ngobrol aja nggak pernah, ketemu nggak pernah karena aktivitas kita udah beda tempat, kontak juga cuma media sosialnya doang yang untungnya dia update banget lah yaaaa, lantas kalau ternyata dia tiba-tiba share semisalnya di Facebook undangan walimahan nya, nyesek nggak?"
Kejora diam sambil memain-mainkan ujung bajunya.
"Nggak usah dijawab. Aku juga pasti nyesek kok, Ra."
"Iya juga sih, Nja. Tapi kan kita juga kan yang nggak mau terang-terangan kalau suka..."
"Kamu mau terang-terangan suka, gitu? Nggak apa-apa sih. Ibunda Khadijah aja ngaku terang-terangan suka sama Rasulullah. Tapi kita apa sih, Ra? Jauuuuh banget dibanding Ibunda Khadijah. Ah, itu bahasnya beda lagi. Fokus ke tersakiti perasaan dulu aja ya."
"Oke. Terus?"
"Nah ngerasa nggak sih? Yang diam-diam suka aja bakalan nyesek, coba kalau semisalnya yang emang ngaku suka tapi ternyata ditolak, atau yang pernah "pacaran" buat yang emang memperbolehkan dirinya untuk pacaran, terus ternyata putus, terus ternyata mantannya nikah dengan orang lain sedangkan dia belum move on-move on juga? Atau lebih hebatnya lagi, yang di PHP-in semisalnya deket sama kita, kita pikir dia juga punya perasaan kayak kita tapi ternyata diakhir dia malah jadinya sama orang lain dan..."
"Dan?"
"Kita cuma dianggep 'kamu kan teman baik aku' atau 'kamu udah aku anggep kayak adik aku sendiri', Lantas dia pergi gitu aja tanpa tahu setelah dengar ucapannya dia perasaan perempuan kayak gimana."

Kejora menggigit bibirnya. "Ah, Nja. Kamu buat aku jadi mikir kayak gini. Iya juga ya. Pasti ada yang tersakiti. Entah yang "terlihat" atau yang "tidak terlihat". Nja, aku juga bakalan gitu nggak ya?"
Senja menggaruk-garuk kepala nya. "Kan aku bilang tadi. Pasti."
"Jadi?"
"Kamu nggak cuma suka dengan satu orang aja kan selama kamu hidup?"
Kejora menggeleng, "Iya sih, Nja. Terus?"
"Terus apa?"
"Njaaa serius. Teman kelas aku ada yang suka sama ada lah itu kenalan nya, emang sih diam-diam juga kayak kita gitu deh. Dan kemarin dapat kabar kalau yang disukainnya itu mau nikah."
Senja tersenyum. "Itulah kenapa kita suka diwanti-wanti dari awal, Ra. Don't expect from others, expect only from Allah. Sesuka-sukanya kita sama orang, senaksir-naksirnya kita, kagum atau apalah jenis nama lainnya, jangan menaruh harapan pada orang lain. Berharaplah sama Allah. Berharap kalau-kalau memang bukan dengan dia, biarpun tersakiti, semoga itu yang terbaik."

"Teori emang gampang Nja, praktiknya susah."
"Yang bilang gampang juga siapa? Ahahaha."
"Ih, Senjaaaa. Coba gini deh, kamu yang jadi teman aku itu, kamu bakalan ngapain?"
"Nangis."
"Cerdas banget jawabanmu, Nja."
"Iyalah. IQ aku 370."
"Bohong banget."
"Tapi seriusan. Apalagi yang bisa dilakuin? Mau nyewa orang buat menggagalkan nikah orang yang kita suka? Dosa lah, Ra. Terus mau apa? Pura-pura tersenyum seakan-akan nggak ada apa-apa? Berarti jiwa kamu dipertanyakan."
"Berarti wajar dong ya kalau nangis?"
"Iyalah. Siapa yang nggak ngebolehin nangis? Setangguh dan sekuat apapun manusia apalagi perempuan, bisa nggak kalau nggak nangis seumur hidup?"
Kejora menatap jendela kembali.
"Tapi, Ra. Nangis lah sama Yang Memiliki hati kamu. Nangislah sekejer-kejernya, sepuas-puasnya sama Yang Menciptakan kamu. Eh, kita deh. Aku juga pernah kecewa karena ternyata orang yang duluuuu banget aku pernah suka ternyata sekarang menghilang begitu saja tanpa kabar, dan aku cuma bisa apa? Aku pikir, akan lebih baik kalau aku nangis sama Allah. Aku bebas mau nyesek kayak gimana, aku bebas mau ngomong apapun. Cuma Dia yang tahu."

Kejora menatap Senja dengan serius, "Seriusan, Nja? Kamu pernah suka sama orang dan orang itu menghilang gitu aja? Kamu suka nya diam-diam gitu, Nja? Terus habis ngadu gitu kamu gimana?"
"Nanya nya kayak turis. Banyak banget. Jadi buka rahasia kan aku jadinya."
"Ahahaha. Habisnya. Bukan salah aku dong. Kamu sendiri yang ngaku."
"Nggak usah bahas perasaan aku nya lah. Yang pasti setelah ngadu aku jauh lebih tenang. Aku jauh lebih percaya ada yang lebih baik lagi buat aku dari Allah nanti."
"Otomatis gitu, Nja?"
"Nggak. Perlahan lah. Emang kamu kira bisa instan gitu aja? Perlahan nanti, mata hati kamu juga bakalan kebuka kok."
"Tapi sekarang masih ngarep nggak? Misalnya ternyata kamu ketemu lagi sama dia dan dia juga masih free. Ahahaha."
"Kok jadi nanyanya gitu?"
"Kenapa sih, Nja. Nggak suka banget aku nanya soal kayak gini."
"Bukan nggak suka. Yaudah, ngarep lagi kah? Entahlah. Tapi yang pasti sekarang, aku nggak berharap lagi sama dia. Dalam artian, aku mau menjalani hidup aku yang sekarang aku rasain aja. Aku nggak mau memikirkan sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak tahu apalagi mungkin dia juga nggak tahu aku kayak gimana sekarang. Wasting time nggak?"

Kejora menganggung-angguk, "Tapi kalau semisalnya ternyata dia menghilang buat 'menjadi lebih baik' dulu, dan BUUUM nanti dia muncul gitu lagi, gimana?"
Senja diam sejenak, "Dia belum tentu baik buat aku kan, Ra? Jadi selama belum ada kepastian, lebih baik, dan semoga kalau sampai hal itu terjadi, aku nggak mau berharap terlalu besar sama dia. Lagi."
"Yakin?"
"Raaaa, udah deh. Tapi ya gitu lah, Ra. Kita pasti bakalan sakit "perasaan", entah kondisinya kayak apa, entah stadium nya sampai berapa. Tinggal pintar-pintarnya kita aja mengendalikan diri dan lebih banyak dekat sama Allah."
"Iya juga sih, Nja. Eh, bisa jadi juga ternyata ada laki-laki atau ikhwan yang suka sama aku terus ternyata aku nikah sama orang lain, dan dia yang sakit, berarti aku jadi pelaku nya dong?"
"Bisa jadi."
"Terus kalau gitu, gimana?"
"Aku nggak tahu, Ra. Tapi aku pikir, kita perempuan bisa apa sih? Kalau laki-laki itu emang suka sama kita, serius, yaaa hadapin lah. Yang ngelamar, kalau emang mau nikah, kan yaaa yang ngelakuin pihak laki-laki, masa iya perempuan yang nanya, "Saya berniat menikahi putra bapak." Gila kali."
"Ahahahaha. Dasar. Iya juga ya, kita nggak salah. Kalau kita yang suka diam-diam, terus ternyata ikhwan kece alamakjang itu ternyata nikah sama orang lain, yaaa dia juga nggak salah, Ini soal keberanian aja, gitu?"
"Keberanian dan takdir. Kamu atau dia yang berani tapi kalau bukan takdir, sampai kamu punya jenggot juga nggak bakal jadi-jadi."
"Ya kali aku jenggotan."
"Laa haula wa laa quwwata illa billah, Ra. Sampai kapanpun kita nggak bisa berbuat apapun yang sudah ditetapkannya, tidak bisa menolak atau memiliki selain apa yang Allah kehendaki. Iya, kan?"
"Cerdas banget si Senja. Ah iya, semoga kalaupun kita tersakiti, kita bisa langsung sadar, bahwa pasti ada yang terbaik dari Allah buat kita ya, Ra."
"Aamiin. Semoga."
"Udah Jam 17.00, bentar lagi Magrib, aku mau mandi ah."
"Nggak ah, Ra. Aku duluan!"
"Bodo. Aku dulu."
"Raaaa. Aku duluuuuuu!!! Kamu dengerin aja lagi lagu Sheila on 7 nyaaa!"
"Bodoooo!"

***

Nb : Thank You untuk Sheila on 7 atas lagu yang lagi-lagi bagus dan easy listening.
Happy watching. :)